"Sebenarnya banyak hal tidak masuk akal di dunia ini. Tetapi tidak terlihat di permukaan karena adanya suatu sistem yang menutupi semua itu. Namun perlu kalian ketahui.. dibalik kenyamanan dan kenyataan yang kita terima sekarang, ada ancaman besar yang akan terus berlanjut hingga ke generasi berikutnya. Entah kapan, tetapi kalian akan melihat bahwa dunia yang kalian kenal tidaklah seperti yang kalian pikirkan." - Crows
*
Pagi hari yang temaram di salah satu kota kecil di Provinsi Riau menyelimuti kepenatan yang terus muncul. Seorang gadis belia yang sedang bersitegang dengan kedua orangtuanya, nampak teguh dengan pendiriannya.
Gita namanya. Ia bersikeras dan terus menimpali penjelasan kedua orangtuanya perihal keperluan mendadak yang mesti mereka siasati. Mahasiswi tahun kedua tersebut marah karena sepeda motornya dijual untuk suatu keperluan yang menurutnya bisa menggunakan cara lain.
"Bapak dan ibu, tega! Menjual motorku tanpa bilang dahulu!"
"Nak, kita memerlukan uang.."
"Cukup bu! Kalian memang sering ngorbanin aku!"
Setelah membentak lawan bicaranya itu, ia bergegas pergi tanpa sesal sedikitpun. Menyisakan kesedihan di wajah renta orangtuanya.
"Kak, ayo main plant vs zombie. Seru loh!" ajak adiknya dari depan rumah.
"Kerjaanmu main game online aja. Bisa bodoh kamu!" ketusnya.
Sang adik terdiam mendengar jawaban darinya.
"Gita, jangan lupa pakai maskermu!" perintah ayahnya terbata-bata.
Kondisi ekonomi keluarganya memang sedang tidak baik. Apalagi bencana kabut asap yang melanda daerahnya semakin menyulitkan keadaan. Berbeda dengan adiknya yang selalu dimanjakan, sementara ia selalu dipaksa mengalah oleh keputusan orangtuanya. Hidup memang tidak adil, pikirnya.
12.02 AM, 21 September 2019 - Liputan Nasional
"Kabut asap akibat kebaran hutan dan lahan terus menyebar dari Pekanbaru ke sekitarnya, dihimbau untuk seluruh warga yang terdampak kabut asap agar senantiasa mengenakan masker.."
Sudah seminggu, berita lokal dan nasional di dominasi oleh bencana kabut asap. Walau keadaan tersebut tidak mengusiknya, tetap saja hatinya tidak nyaman setelah pertengkaran dengan kedua orangtuanya tersebut.
Siang itu, Gita sedang terduduk lemas di kelasnya. Perdebatan sehari yang lalu mengacaukan konsentrasi. Sedangkan sebentar lagi ia akan mengahadapi Ujian Tengah Semester.
Setelah selesai jam perkuliahan, ia berniat segera kembali ke kamar kosnya yang tidak terlalu jauh dari kampus.
"Git, nanti malam makan yuk?" tanya lelaki itu.
"Aku harus istirahat, Maaf Dani.." jawab Gita lesu.
Dani bertanya perihal keadaannya dengan antusias namun gadis berambut hitam sebahu itu tidak mempedulikan pertanyaan Dani. Yang ada dipikarannya sekarang hanyalah tidur siang untuk melepas penat.
Sebenarnya ia sangat sebal dengan orang-orang yang kecanduan game online seperti adiknya. Termasuk Dani, temannya itu. Menurutnya bermain game adalah kebiasan orang malas dan bodoh.
"Balik! Balik ke kampus semuanya!" teriak suara yang tidak diketahui asalnya.
Gita sontak membelalakkan mata mencari tahu apa yang terjadi. Melihat orang-orang berlarian berbalik arah, ia semakin penasaran.
Apa yang terjadi? Pikirnya heran.
Kabut asap yang tebal berjalan cepat dari arah alun-alun kota. Banyak orang terbatuk-batuk karena kabut asap yang datang secara tiba-tiba itu.
YOU ARE READING
Distopia Saga
Teen FictionDistopia Saga adalah sebuah dunia fiksi yang saya ciptakan. Pada mulanya saya menulis cerita bersambung di Facebook (2012) yang berjudul "Distopia". Seiring berjalannya waktu, saya menulis beberapa cerita-cerita pendek yang dikumpulkan di dalam satu...
