6. Hitam dan Putih

47 40 4
                                    

Polisi yang tadi datang ke rumahku, kini sudah pergi. Mereka sepertinya sudah tidak mempermasalahkan bercak darah dan baju yang berserakan di bangunan tua itu.

Sepertinya sihir Kak Videl berhasil membuat mereka dan mamaku melupakan informasi tersebut.

****

"Luna, ada yang perlu ayah sampaikan padamu." Kata ayahku setelah kami selesai menyantap makan malam.

Saat ini aku dan keluargaku sedang duduk di meja makan. Setelah para polisi itu pergi, ayahku tiba di rumah. Untuk orang se-sibuk ayah, jarang sekali ia pulang ke rumah secepat ini.

Ayahku bernama Jordi Legan. Pemilik perusahaan Legan Corp yang saat ini menjadi salah satu perusahaan top tier di Indonesia. Bisnisnya ada di bidang properti, investasi sampai entertainment.

"Ayah mendapat telfon dari orang tak dikenal untuk meminta uang tebusan sebesar 2 milyar, makanya ayah meminta bantuan polisi untuk mencarimu tadi. Ayah juga baru dari rumah sakit untuk melihat keadaan Pak Dery." Lanjut ayahku.

"Pak Dery ada di rumah sakit?" Tanyaku.

"Iya, Pak Dery sepertinya diserang dan dianiaya oleh sekelompok orang yang ingin menculikmu. Untung saja dia masih sempat dilarikan ke rumah sakit saat itu." Jawab ayahku.

"Sayang, kita perlu memberikan bodyguard untuk Luna supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi!" Mamaku yang daritadi diam mendengarkan mulai membuka mulutnya.

"Nggak mah! Aku sudah nggak apa-apa, jadi tidak perlu menyewa bodyguard segala." Bantahku.

Aku tidak mau seisi sekolah nantinya memperlakukanku berbeda karena background keluargaku.

"Tapi ini demi keselamatanmu juga!" Balas mamaku.

"Ayah sebenarnya setuju dengan mamamu. Kita perlu menyewa bodyguard untuk menjagamu tetap aman." Jawab Ayahku.

"Besok ayah akan mencarikan bodyguard untukmu." Lanjut ayahku.

Aku tidak bisa melawan keputusan orang tuaku. Mau tidak mau aku harus dijaga oleh bodyguard.

****
Setelah pembicaraan kami, aku masuk ke kamar untuk beristirahat.

Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Kejadian hari ini sejujurnya membuatku trauma. Aku merasakan diriku tidak akan berani kalau berada diluar sendirian.

Merasa harus melupakan beban pikiran di kepalaku, aku pun meraih ponselku yang sedari tadi aku charge di kamar.

Ketika aku membuka ponselku, terlihat sebuah notifikasi bertuliskan 'videlferiluc_ started following you'

"Ha? Ini kak Videl?" Pikirku.

Tanpa basa-basi, aku membuka akun instagram itu. Di akun instagramnya, hanya ada 2 following. Tidak ada profile picture, tapi ada beberapa foto kak Videl di postingan akun instagram ini. Postingan lainnya hanya foto-foto pemandangan biasa.

Aku membuka bagian following di akun itu. Salah satu yang dia follow adalah akun instagramku. Sedangkan following yang satunya lagi adalah akun bernama 'Asm0deus'

Karena rasa ingin tau, akupun melihat akun Asm0deus ini. Ternyata akun ini memiliki ratusan ribu followers. Dari profile picturenya sih aku bisa menebak kenapa banyak sekali yang follow akun ini.

Akupun melihat beberapa postingan 'Asm0deus' dan ternyata tidak sedikit juga foto Kak Videl disana. Walaupun dari foto-foto itu aku bisa melihat wajah Kak Videl yang sepertinya kesal.

Setelah melihat akun instagram 'Asm0deus' aku kembali ke instagram Kak Videl untuk mem-follownya.

"Ini Kak Videl?" Tulisku di DM.

Aku sebenarnya tidak menyangka kalau orang seperti Kak Videl memiliki instagram. Awalnya aku kira memang ia adalah tipikal laki-laki yang cuek dan angkuh. Namun setelah kejadian hari ini, aku berubah pikiran. Kak Videl adalah laki-laki yang sangat perhatian dengan orang yang ia kenal.

"Hai Luna, gimana ibumu? Tidak ada masalahkan?" Balas Kak Videl.

"Iyaa kak, sepertinya mama sama polisi yang tadi ke rumah sudah tidak mengingat tentang bercak darah dan baju itu." Balasku.

"Sudah ku duga, ada yang spesial dari dirimu." Balas Kak Videl.

"Maksud kakak?"

Aku penasaran dengan pernyataan Kak Videl. Pasti ini ada hubungannya dengan kalimat yang tertahan di mulutnya ketika kami ada di puncak monas.

"Bukan apa-apa. Sudah dulu ya sampai ketemu besok di sekolah." Balas Kak Videl.

"Tunggu kak" Balasku.

Aku masih ingin berbicara dengannya. Masih banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Namun sepertinya Kak Videl sudah tidak online lagi.

"Ah yasudahlah, aku tidur aja!" Keluhku.

****
"Hahh? Dimana ini?"

Aku melihat hutan rindang dengan udara yang sejuk dan mentari yang cahayanya masuk melalui celah - celah pepohonan.

Aku menelusuri hutan ini dan menemukan sebuah sungai. Airnya begitu jernih hingga isi di dalam sungai itupun ikut terlihat.

Karena penasaran, aku memasukan tanganku dan membasuh wajahku. Airnya terasa segar begitu mengenai wajahku.

"Ini aku lagi mimpi kali ya? Eh tapi kalau mimpi ketemu air gini kan jangan-jangan aku bakalan ngompol?!" Pikirku.

"Ayok bangunn!! Jangan sampai ngompol duluann!!" Kataku sambil mencubit lengan kiriku.

Walaupun aku sudah mencoba untuk membangunkan diriku, ternyata tubuhku tetap tidak terbangun. Aku masih berada di hutan ini.

*Foom*

Terdengar sebuah suara di sertai hembusan angin. Aku juga melihat ada bayangan lewat didantara kakiku.

Karena reflek, aku mengangkat kepalaku keatas.

"Kak Videl?" Pikirku.

Aku melihat seorang bersayap hitam sedang terbang diatas hutan. Sayap hitamnya mengingatkanku dengan milik Kak Videl.

Akupun mengikuti kemana orang itu pergi.

Tak lama kemudian, orang itu turun di bawah air terjun. Disana terlihat juga ada seorang perempuan yang memiliki sayap berwarna putih. Ia mengenakan dress berwarna putih dan memiliki rambut berwarna emas yang indah.

"HAHH?!" Teriakku terkejut.

Aku bukan terkejut karena sayap dan rambut indahnya. Aku terkejut karena aku sangat mengenali wajah perempuan itu. Wajahnya persis sekali denganku!

Kak Videl yang telah turun kebawah mendatangi perempuan itu dan menciumnya tepat di bibirnya lalu memeluk erat perempuan itu.

Sayap mereka yang kontras berwarna hitam dan putih terlihat begitu indah dan serasi ketika berdampingan.

"Loh?" Aku memegang pipiku.

Air mata tiba-tiba mengalir ke pipiku. Dadaku juga terasa agak sesak setelah melihat adegan yang ada di depan mataku.

Aku tidak tau kenapa aku merasakan hal itu. Ini kali pertamaku merasakannya.

"Apakah aku merasa cemburu?" Pikirku.

Sebelumnya aku memang tidak pernah tertarik dengan siapapun. Baru kali ini ada laki-laki yang membuatku tertarik.

"Kak Vi...."

Belum selesai aku ingin memanggil namanya. Sebuah sinar putih tiba-tiba datang dan menyilaukan mataku.

Ketika aku membuka mata, aku sudah terbangun di kasur kamarku dengan mata dan pipi yang basah.

"Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta." Pikirku.

DARK WINGSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang