Hari ini, aku kembali lagi ke kamar bercat putih pucat yang sudah lama kutinggalkan. Kuletakkan barang bawaanku dan segera berbaring—mengistirahatkan tubuhku yang lelah karena perjalanan jauh. Aku mengerjap menatap langit-langit, menikmati rasa rindu yang menghantui. Padahal, belum ada satu hari aku meninggalkan kampung halaman.
Beberapa menit setelahnya, aku mulai berguling ke kiri dan ke kanan. Tidak karuan hati ini rasanya. Lantas kubuka jendela untuk menghirup udara kota. Nihil. Rasa rindu menyerang tanpa ampun. Bulir air mata mulai memenuhi pelupuk hingga penglihatanku kabur. Aku menghela napas, tak kusangka berat sekali rasanya harus kembali meninggalkan rumah. Aku memejamkan mata, menikmati hembusan angin dan air mata yang terasa dingin. Setelahnya, kututup jendela kamar dan memutuskan untuk tidur saja.
Hal pertama yang kudapati setelah memejamkan mata selama satu jam adalah gelap. Wajar saja, toh aku tidur tanpa menekan saklar lampu. Kedua tanganku mulai bergerak mengusap wajah, berusaha memulihkan kesadaran. Beberapa detik setelahnya, aku beranjak dari tempat tidur memutuskan untuk mandi sebelum azan berkumandang menandakan waktu maghrib.
Kembali ku dapati lorong gelap saat membuka pintu kamar. Tampaknya semua penghuni kos belum kembali dari kampus. Aku berjalan guna menghidupkan lampu lorong, dari kamar sebelah ku dengar lantunan ayat al-quran. Sangat merdu dan familiar. Aku yakin betul yang melantunkan adalah seorang ustaz ternama yang sedang naik daun. Namun, bukan itu yang membuatku tertegun. Melainkan isak tangis yang terdengar samar dibaliknya.
***
Aku bangun pagi-pagi sekali mendapati pintu kamar sebelahku terbuka lebar menampilkan seorang gadis berperawakan semampai dengan mata sembab. Kala mata kami bertemu, aku menundukkan kepala sembari menggumamkan sapaan. Ia membalasnya dengan senyuman terbaik yang ia miliki.
"Baru sampai mba?" tanyanya padaku. Meski begitu, aku agak sedikit salah fokus karena sayup-sayup meski dengan suara yang kecil aku tahu ia tengah memutar dakwah dari ustaz yang sedang naik daun itu.
"Iya, baru kemarin sore."
"Oh begitu, sudah mulai ngampus mba?"
"Belum, masih dua hari lagi."
Ia tampak mengangguk paham lalu pamit untuk ke belakang dan kubalas dengan anggukan pula. Wajahnya menampilkan keceriaan tiada akhir, namun matanya tidak bisa berbohong. Ada banyak rasa di dalam sana.
Aku menggeleng kepala, menolak untuk mengurus masalah orang lain. Selanjutnya mulai berhadapan dengan cucian yang ku tinggalkan saat pulang kampung.
***
Malamnya, aku mulai sibuk berkutat dengan beberapa lembaran merah dengan gambar pahlawan. Memperkirakan pengeluaranku dalam waktu satu bulan ke depan agar tidak perlu merepotkan Bapak. Kuambil dompet kecilku, mulai memisahkan uang besar dan uang receh. Tepat saat aku selesai, pintu kamarku diketuk. Setelahnya aku bergegas membukakan pintu.
"Mba ada lihat sendok sayur yang di dekat kulkas tidak?"
Itu gadis di sebelah kamarku, matanya sembab lagi. Aku melirik kecil ke sumber suara—ponselnya. Ia sedang memutar dakwah dari ustaz yang sedang naik daun dengan volume rendah.
"Tidak Nay, aku tadi tidak ke dapur."
"Baiklah mba terima kasih," finalnya sambil pamit. Aku pun menutup pintu.
Gadis sebelah kamarku itu namanya Kanaya, anak perempuan paling ceria di kos ini. Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sini, ia lah yang memperkenalkan daerah sekitar padaku. Ia anak yang baik, pun tidak pernah kudapati matanya begitu sembab seperti beberapa hari belakangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Samping Kamar [✔️]
Cerita PendekHari itu kala melalui lorong, kembali kudengar suara dari kamarnya diiringi isak tangis. ▪︎▪︎▪︎ Ditulis pertama kali pada 2022. Cr cover: canva
![Di Samping Kamar [✔️]](https://img.wattpad.com/cover/320283849-64-k375617.jpg)