Sejak pertama kali bertemu dengan Binar, Bintang memang sudah menyimpan rasa. Namun Bintang tak pernah punya keberanian besar untuk mengutarakannya. Hingga setelah lulus SMA, Binar menghilang dari radar. Tapi itu tak membuat perasaan Bintang memudar...
Untuk dia, yang namanya masih terpatri dalam hati. Kapan kita bisa berjumpa lagi?
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Juli 2025
Masa SMA, kadang jadi masa yang paling pingin kita ulang. Entah karena kita sadar, kehidupan di SMA gak seberat kehidupan setelah kita lulus. Atau karena ada someone yang buat masa itu akan selalu terkenang dan selalu ingin kita ulang.
Sama seperti orang-orang, Bintang juga selalu ingin mengulang masa itu. Masa di mana ada gadis manis berkulit kuning langsat bernama Binara Mentari Ayu, yang mengisi setiap lembar cerita masa SMA-nya. Gadis super galak dengan kesabaran setipis tisu yang sangat senang ia ganggu.
Bintang tersenyum melihat layar ponselnya yang saat ini sedang menampilkan sebuah video dua orang gadis dengan seragam SMA sedang tiktokan.
Satu gadis berambut sebahu dengan bandana merah jambu itu tampak luwes melakukan setiap gerakan sesuai dengan ketukan lagu. Namun gadis berambut panjang dengan poni, di sebelahnya justru menunjukkan hal yang berbeda. Gerakannya kaku, banyak salah-salah, dan juga tak sesuai beat. Kentara sekali kalau tidak pernah buat-buat trend tiktok.
Tawa Bintang pecah melihatnya. Hingga mengundang perhatian dari salah satu teman kerjanya yang sedang fokus menyusun materi untuk rapat dengan dewan direksi perusahaan nanti siang.
"Uy, kenapa lo?" tanya laki-laki berambut pirang ikal itu, keningnya mengerut kebingungan memperhatikan Bintang yang duduk di sebelahnya sambil ketawa-ketawa gak jelas begitu.
Dia, Pras. Prasetya Wiratama, teman seperjuangan Bintang sejak kuliah dulu.
Pras yang memang memiliki jiwa-jiwa kepo tingkat tinggi langsung memanjangkan lehernya, guna mengintip ponsel Bintang untuk mengetahui apa penyebab temannya itu tertawa tiba-tiba begitu.
Bintang buru-buru mematikan ponselnya. Ia berdehem pelan untuk meredakan tawanya. Kemudian ia menggeleng pelan sembari berkata, "Gak ada apa-apa."
Pras berdecih. Sebal melihat Bintang yang selalu saja tertutup kepadanya. Heyy!! Mereka sudah berteman hampir lima tahun lamanya. Kenapa cowok itu masih saja tak mau terbuka pada Pras, hah!? Memangnya Pras terlihat seperti tampang-tampang orang yang tidak bisa dipercaya gitu apa??
Layar ponsel Bintang kembali menyala. Kali ini benda pipih itu memperlihatkan sebuah pesan singkat dari sebuah kontak yang tersimpan dengan nama 'Evelyn'
Evelyn: Bintang, kita jadi makan siang bareng?
Pesan singkat itu berhasil terbaca oleh Pras. Cowok berambut pirang itu senyum-senyum menatap Bintang sambil berkata, "Cie yang nanti siang mau nge-date sama ayang."
"Ayang pala lo peyang!" sahut Bintang sembari meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dengan keadaan terbalik, setelah membalas pesan dari Evelyn tadi.
"Apa untungnya sih pacaran lowkey? Mending terang-terangan, bisa pamer," celetuk Pras seraya merebahkan tubuhnya ke penyangga kursi kerjanya. Desahannya panjang keluar dari mulutnya. Sungguh, lelah sekali Pras hari ini karena mengurus kerjaan yang tidak ada habisnya.
Bintang juga ikut mendesah panjang. Bukan karena lelah karena kerjaannya, tapi lelah karena Pras yang terus saja keras kepala mengatakan bahwa Bintang dan Evelyn sedang berpacaran. Padahal sudah berkali-kali dia bilang, kalau kalau hubungannya dan Evelyn hanya sebatas teman biasa, tidak lebih.
"Gue sampai bosan bilang sama lo, kalau gue sama Evelyn gak punya hubungan khusus selain teman."
"Dan gue juga sampai muak dengar jawaban itu," sahut Pras. Dipandanginya wajah Bintang sembari berkata, "Cewek dan cowok temenan lama, hampir deket dan ketemu setiap hari, tapi gak ada perasaan? It's impossible, brodi. Kecuali kalau lo ...."
Pras menggantung ucapannya sejenak.
Kening Bintang mengerut. "Kalau apa?"
"Kecuali kalau lo ...." Kepala Pras secara perlahan mendekat ke wajah Bintang. Membuat Bintang pun perlahan meringsut mundur.
"Apa!?" tanya Bintang dengan tak sabaran.
"Kecuali kalau lo gay!"
"ORANG GILA! GUE NORMAL, YA!" Bintang sontak memekik marah mendengar perkataan Pras. Didorongnya bahu Pras agar menjauh dari hadapannya.
Pras tertawa terbahak-bahak.
Dada Bintang naik turun. Tak terima sekali dia dituduh gay. Padahal jomblonya selama ini terjadi, karena hatinya hanya sudah terkunci pada satu hati milik seorang gadis yang dulu sempat hadir dalam hidupnya.
Binara Mentari Ayu.
Cinta pertamanya yang kini hilang entah kemana.
"Binara, kapan kita bisa berjumpa?"
💫💫💫💫💫
Haiii, ini Hujann🙋🏻♀️ Terimakasih sudah membaca dan memberi support, berupa vote dan komen, untuk cerita ini. Jangan bosan-bosan buat baca dan nunggu updatean ceritaku ini, ya. Sampai jumpa di bab selanjutnya, Sobatt!