Prolog

46 4 3
                                        

Februari 2020

Aroma petrichor menguar lembut dari permukaan tanah yang baru saja basah oleh hujan, memenuhi udara taman kota sore itu dengan aroma nostalgia yang samar. Angin berembus pelan, menggugah dedaunan yang rimbun, membuatnya berdesir seperti bisikan masa lalu. Di tengah ketenangan itu, pikiran Nadine berisik. Suara-suara dalam kepalanya berlomba saling mendahului, seperti hendak meledak tanpa kendali.

Ada lara yang diam-diam menetap di relung hatinya. Luka itu tak tampak, namun nyerinya nyata, perih yang terus mengendap tanpa harapan sembuh. Semua bermula dari kenangan—tentang dia—laki-laki yang pernah mengisi harinya dengan cahaya, tawa, dan rasa nyaman yang tak bisa didefinisikan. Dan tak bisa dipungkiri, Nadine pernah begitu bahagia bersamanya. Dulu. Hanya dulu. Karena kini, segalanya telah berubah.

Mereka telah menjadi kisah yang usai, dipisahkan oleh keadaan, bukan oleh rasa. Cinta yang dulu tumbuh dan mekar, kini hanya tinggal bayang yang mengendap dalam diam. Sebab tidak semua cinta pertama dianugerahi takdir untuk menjadi cinta terakhir.



Nadine Gavesha

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Nadine Gavesha



Bella Ayudia

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Bella Ayudia




Kenzo Ravindra

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kenzo Ravindra




Hanan Melviano

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Hanan Melviano





anna

Premier AmourWhere stories live. Discover now