Angin sore menyapu pelan helai-helai rambut Nadine Gavesha yang terurai, saat ia berdiri mematung di tepi taman. Kata-kata yang baru saja meluncur dari bibirnya terasa tajam, menggantung dingin di udara.
"Harusnya kita nggak pernah kenal dari dulu."...
Aroma petrichor menguar lembut dari permukaan tanah yang baru saja basah oleh hujan, memenuhi udara taman kota sore itu dengan aroma nostalgia yang samar. Angin berembus pelan, menggugah dedaunan yang rimbun, membuatnya berdesir seperti bisikan masa lalu. Di tengah ketenangan itu, pikiran Nadine berisik. Suara-suara dalam kepalanya berlomba saling mendahului, seperti hendak meledak tanpa kendali.
Ada lara yang diam-diam menetap di relung hatinya. Luka itu tak tampak, namun nyerinya nyata, perih yang terus mengendap tanpa harapan sembuh. Semua bermula dari kenangan—tentang dia—laki-laki yang pernah mengisi harinya dengan cahaya, tawa, dan rasa nyaman yang tak bisa didefinisikan. Dan tak bisa dipungkiri, Nadine pernah begitu bahagia bersamanya. Dulu. Hanya dulu. Karena kini, segalanya telah berubah.
Mereka telah menjadi kisah yang usai, dipisahkan oleh keadaan, bukan oleh rasa. Cinta yang dulu tumbuh dan mekar, kini hanya tinggal bayang yang mengendap dalam diam. Sebab tidak semua cinta pertama dianugerahi takdir untuk menjadi cinta terakhir.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Nadine Gavesha
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Bella Ayudia
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kenzo Ravindra
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.