RINJANIPOV
Suara sorakan dari seluruh penjuru sekolah sedikit mengganggu telingaku, hingga membuatku mendongak risih. Mataku menangkap sebuah pemandangan dimana ada seorang laki-laki yang sedang dikerumuni banyak siswa. Aku menggelengkan kepalaku sejenak, menebak sedang apa orang itu sampai dikerumuni siswa lain.
Aku melepas headset yang aku pakai, menekan tombol pause di layar hp ku. Mataku menyipit untuk memperjelas penglihatanku, kemudian Aku berdiri menghampiri temanku, Gista.
"Ada apa sih, Gis?" seruku, menunjuk kearah kerumunan itu dengan dagu.
Gista menoleh, kemudian ber-ohria. "Kak Damar loh, Jan! Kak Damar, masa kamu gak kenal?" Gista menjawab dengan penuh antusias. Aku menyernyit bingung, kenapa dia seantusias ini?
"Kak Damar anak 12 IPA 2 kan? kenapa dia?" Tanyaku kembali. Jelas aku suka ketinggalan berita, sedangkan aku selalu sibuk dengan kesibukanku menonton drakor dikelas.
Gista berdecak sebal, dia memejamkan matanya sejenak seolah sedang meredam amarahnya. "Dia menang lomba lari tingkat nasional, Rinjanii!" Pekiknya, membuat aku sedikit malu karena beberapa sorot mata mengarah padaku.
Gista tanpa aba-aba menarik lenganku dan membawaku ke kerumunan itu. Aku tak berdaya karena terkejut dan mau tak mau harus mengikutinya. Saat sampai disana, aku cukup terkejut karena apa yang aku dengar...
'Damar mau foto dongs!'
'Kak Damar IG nya apaa?'
'Kak aku liat kakak tanding kemaren, keren loh'
'Kakimu gimana, gapapa?'
'DAMAR ILOPYU'
Ahhhhrrrggg, dan masih banyak lagi seruan-seruan menggelikan yang masuk ke telingaku. Namun, yang sangat menjengkelkan adalah wajah angkuh milik Damar yang terlihat sok ganteng. Apa-apaan dia hanya tersenyum sambil sesekali menebar pesona dengan menjawab ucapan-ucapan para gadis gatal ini. Didominasi oleh Kakak kelas dan juga teman sebaya kami, anak kelas 10 mana berani seperti ini.
Sial, Gista malah ikut tergila-gila dengan adegan ini. Aku sudah tidak kuat, ingin aku pergi dari sini. Namun, tiba-tiba suasana ricuh karena Damar yang ingin menuju ke kelasnya. Otomatis aku yang berada di belakang kerumunan terdorong karena mereka bergerak maju.
BRUKKK
Aku terjatuh, kakiku terinjak oleh salah satu gadis gatal itu tadi. Aku meringis kesakitan, geram pula dengan kelakuan gadis-gadis itu.
"Rinjani! Kamu gapapa?!" Gista yang panik, langsung membungkuk untuk membantuku kembali berdiri. Aku mengangguk lemah.
"Kamu gapapa?" Suara bariton milik Damar masuk dengan sopan ketelingaku, aku sontak mendongak. Ya karena dia sangat tinggi dan aku hanya sepundaknya.
Aku hanya mengangguk acuh, terlihat beberapa orang siswi menatap tak suka atas kejadian ini. Buktinya, mereka kini sedang berbisik sambil melirikku sinis. Aku tak masalah, lagian apa pentingnya mendapat perhatian dari Damar. Buang waktu saja.
"Rinjani, Saya bantu kamu ke kelas ya?" Ah SIAL SIAL SIAL! Cowok sok ganteng itu kembali bersuara, menebarkan pesonanya seolah peduli denganku.
"Lah, gausah, aku bisa jalan sendiri, ada Gista juga." Yang jelas aku tetap menolak.
Wajah Damar terlihat murung, dari sorot matanya terlihat kekecewaan tapi aku tetap tidak luluh. Lagipula aku memang bisa jalan sendiri kok....
"Awwww, kakiku, Ta." keluhku saat baru bergaya untuk berjalan sendiri. Gista menopang tubuhku yang hendak jatuh kembali.
YOU ARE READING
Run To You : Achilles heel
Teen FictionAchilles heel merupakan idiom yang berarti titik lemah, kekurangan atau bagian tertentu dari kepribadian yang tidak sekuat bagian lain. Kisah seorang Perawat, Tentara, dan semesta yang ikut menyerta. ...
