"Dokter Aaleya"
Aaleya menoleh dan melihat seorang pria tampan tengah berdiri tegap dihadapannya dengan jas putih kebanggaannya yang melekat gagah dibadannya.
"Ya, dokter Farez?" Ucap Aaleya singkat.
Farez Akhdan atau lebih dikenal dengan dokter Farez menghela nafas pelan mendengar nada singkat Aaleya, ia bahkan orang-orang dirumah sakit ini sudah biasa akan hal itu.
"Ikut saya keruang operasi sekarang" Ucap dokter Farez lalu berlalu begitu saja melewati Aaleya.
Aaleya yang mendengar perintah dokter Farez menghela nafas. Ia mengurungkan niatnya yang akan pulang dan beristirahat dirumah. Aaleya segera mengikuti langkah dokter Farez yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkannya.
••••••
"Hahh akhirnya" Gumam Aaleya setelah mereka akhirnya selesai melakukan operasi beberapa jam yang lalu.
Dan sekarang sudah menujukkan waktu pukul 16.26 Wib yang artinya mereka telah melakukan operasi selama 3 jam lebih lamanya. Sungguh membuat Aaleya ingin segera membaringkan tubuh lelahnya dikasur empuk miliknya.
Membayangkan itu Aaleya segera melangkahkan kakinya menuju parkiran tempat mobilnya berada. Ia akan segera pulang.
Beberapa saat kemudian mobilnya membelok masuk kedalam gerbang sebuah bangunan mewah, rumahnya.
Sesampainya, Aaleya dibuat bingung dengan banyaknya mobil yang terparkir di perkarangan rumahnya. Entah mobil siapa Aaleya tidak tahu. Mengedikkan bahu acuh Aaleya segera memasuki rumah dengan jas dokter yang berada di lengan kirinya.
"Assalamu'alaikum"
Semua orang yang berada di ruang tamu serempak menoleh mendengar suara gadis yang sedari tadi ditunggu mereka.
"Waalaikumsalam"
Bunda Aaleya, Vanila. Menghampiri anak gadis satu-satunya, "Ay, kok baru pulang nak? " Tanyanya mengelus bahu putrinya sayang.
"Iya bun, tadinya mau pulang tapi dokter Farez minta Aya gantiin dokter Anisa buat operasi" Jelas Aaleya.
"Emng dokter Anisanya kemana?"
"Dokter Anisa lagi izin bun, makanya dokter Farez minta Aya gantiin dokter Anisa"
Bunda Vanila mengangguk mengerti. Ia mengiring Aaleya keshofa yang sudah terisi penuh oleh tamu pentingnya.
Aaleya mendekat ketelinga bunda nya lalu membisikan sesuatu.
"Kamu ngk tau mereka siapa?" Ucap bunda Vanila dengan tersenyum setelah mendengar bisikan putrinya.
Aaleya menggeleng, ia tidak tahu siapa mereka alias tamu yang dimaksud bunda nya itu.
"Yaudh kamu kenalan gih sana"
Aaleya ingin menolak tapi tidak enak dengan bunda dan tamunya, sebenarnya Aaleya ingin segera keatas menuju kamarnya dan beristirahat, tapi ia tidak enak meninggalkan ruang tamu. Jadilah ia hanya menurut saja apa yang diucapkan oleh bunda nya.
Menatap sebentar seluruh tamunya lalu menunduk, "Aaleya Avyana Zahirah" Ucapnya mengatup tangan memperkenalkan nama lengkapnya.
Aaleya melihat seorang wanita paruh baya mendekatinya sambil tersenyum ramah, "Aaleya, cantik nama yang cantik seperti orangnya" Ucap wanita paruh baya itu dengan tanganya yang kini sudah memegang tangan Aaleya.
"Saya Sahara, Aaleya boleh panggil Umma Sahara"
"Itu suami Umma, namanya Muhammad Fawaaz Akhtar dan Aaleya bisa panggil Abi Fawaaz,"
"lalu itu anak sulung Umma namanya Muhammad Abizar Albiru Akhtar" Jelas Umma Sahara memperkenalkan anak beserta suaminya.
Aaleya hanya diam mendengarkan ocehan umma Sahara dengan seksama, Aaleya berpikir jika keluarga umma Sahara adalah keluarga yang paham agama atau biasa disebut agamis, dilihat dari cara berpakaian umma sahara yang syar'i bahkan seorang pria yang sedari tadi menunduk dan tidak melihatnya sama sekali. cuma tadi ketika ia memperkenalkan diri pun hanya melihatnya sekilas dan langsung menundukkan kepalanya.
Umma Sahara yang melihat ke terdiam Aaleya melanjutkan ucapanya sambil membawa Aaleya duduk dishofa bersamanya. "Jadi maksud kedatangan umma dan keluarga kesini-"
"Kita ingin menyampaikan niat baik kami kepada Aaleya dan keluarga" Ucap umma Sahara melanjutkan.
Kening Aaleya mengerut mendengar penjelasan umma Sahara. Niat baik? Niat baik apa maksudnya?! Pikir Aaleya bertanya-tanya dalam hati.
Melihat raut wajah Aaleya, umma Sahara paham jika calon menantunya ini pasti kebingungan dengan ucapannya. Umma Sahara melirik putranya, mengkode agar menyampaikan tujuannya. Paham akan kode umma nya ia pun menggangguk.
"Saya Abizar ingin menyampaikan niat baik saya kepada Aaleya dan keluarga bahwa saya meminta izin untuk melamar Aaleya menjadi istri saya" Jelas Abizar lantang dengan satu tarikan nafas setelahnya ia menghela nafas lega, lega karena tujuan baiknya sudah tersampaikan walaupun ia tidak tahu jawaban apa yang akan diterimanya nanti. Ia hanya akan pasrah menyerahkan semuanya kepada sang Pencipta.
•••••
Tbc!
harap dimaklumi jika ada kesalahan kata atau sebagainya karna saya author baru disini and this is my first story.
[11/03/22]
14.48
YOU ARE READING
dr. Aaleya
Teen Fiction"Seseorang yang mencintaimu karena Allah tidak akan meninggalkanmu karena kekuranganmu dan tidak akan menyakiti karena kesalahanmu." -? ***** [11/03/22]
