NAGATTA•0 : Prolog

226 20 8
                                        


Bandara internasional Soekarno Hatta

Seorang gadis tengah check in keberangkatan ke petugas. Ia menggunakan atasan Celine Embroidered Jacket yang didalamnya menggunakan crop top hitam, bawahannya menggunakan Strech High Rise Jeans, ditangannya menggenggam Prada Saffiano Leather Handbag, dan menggunakan alas kaki Adidas Magmur Runner Shoes.

Begitu gadis itu berbalik menuju ruang tunggu, ada seorang laki-laki yang terbilang masih muda menghalangi jalannya. Namun saat, ia hendak berjalan lewat sisi sebelah kanan, tetapi laki-laki di depannya pun mengikuti langkahnya, begitu pula saat gadis itu melangkah ke sisi kiri laki-laki tersebut. Ia hanya memandang laki-laki di depannya dengan tatapan bingungnya, karena laki laki tersebut memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Bisa minggir ga?" tanya gadis tersebut. Laki-laki di depannya hanya diam, membuat ia geram.

"Lo ga denger? Gue bilang minggir!" Tetap diam dengan pandangan mata terpaku pada gadis di depannya ini.

"Ya ampun! Misi ya mas, lo ngehalangin jalan gue,"

Laki-laki di depannya masih diam, sekarang dengan pandangan menilainya mulai dari atas hingga bawah gadis itu.

"Selain bisu, lo ternyata mesum juga ya!" Ucap sarkas gadis itu dengan mendorong badan laki-laki didepannya. Tapi usahanya tidak berhasil, bahkan laki-laki tersebut masih berdiam diri di tempatnya.

"Wah, lo bener-bener ya! Denger ya, lo yang minggir atau gue yang minggir. Cepet pilih, gue mau duduk,"

Tanpa diduga, laki-laki tersebut menarik tangannya menuju ruang tunggu. Gadis itu melakukan pemberontak dengan mencoba melepaskan tangan laki-laki tersebut. Tapi tetap gagal. Bahkan, saat di ruang tunggu, laki-laki itu duduk, tanpa melepaskan tangannya.

"Lepasin ga! Dari tadi gue bilang lepasin, lo malah seenaknya narik gue kesini!"

Kemudian laki-laki tersebut menarik tangannya, hingga ia duduk di sebelah laki-laki.

"Lo mau kemana, Ay?"

Akhirnya setelah sekian drama, laki-laki tersebut mengeluarkan sebuah kalimat.

"Wah, gue kira lo beneran bisu. Lepasin dulu tapi,"

Laki-laki itu melepaskan tangannya, kemudian ia memandang gadis di sebelahnya. Namun gadis itu malah mengambil tempat duduk menjauh sekitar 5 kursi darinya. Kemudian, dia melihat gadis tersebut, mengibaskan pada jaketnya seolah ada debu yang menempel.

Laki-laki itu mengernyitkan dahinya tidak suka, "Lo ga jawab pertanyaan gue?"

"Yang mana ya?"

Laki-laki itu hanya diam tanpa membalas pertanyaan si gadis, kemudian ia memandang ponsel digenggamannya. Terdapat balasan dari seseorang.

Tahan dia selama mungkin, Sel.

"Buat apa gue jawab pertanyaan lo, kita ga saling kenal. Lo hanya orang asing,"

Demi apapun, ucapan gadis yang berjarak lima kursi di sebelahnya membuat gemuruh di hatinya, "Apa perlu gue ingetin?"

" Ingetin? Buat apa?"

"Kalo tadi lo bilang kita ga saling kenal. Lo salah. Kita saling kenal, Ay. Baik gue, lo, Aga, maupun Ge, kita saling kenal. Terlepas dari masalah itu,"

Gadis itu hanya diam, kemudian memandang depan, setelah mengalihkan pandangannya dari laki laki di sampingnya.

"Iya, dulu kita saling kenal. Sekarang lupain semuanya tentang gue apa pun itu, Sel,"

NAGATTADonde viven las historias. Descúbrelo ahora