Anak Kucing

19 4 0
                                        

"Nih."

Pandang penuh heran ku berikan padanya, tetangga sekaligus teman mainku sejak kecil. Maksudku, siapa yang tak heran. Ia menyodorkan sehelai tisu untuk bayi padaku?

"Ambil dong. Aku cuma ada tisu ini. Yang biasa ngga ada."

"Untuk?" tatap heranku masih belum lepas walau tisu tadi sudah berpindah ke tanganku sekarang.

Ia mengendikan bahu, lalu beralih memandang gundukan tanah di depannya. "Ku pikir kau akan menangis lagi seperti tadi."

Apa-apaan?! Walau benar katanya aku sempat menangis tadi. Tapi tidak mungkin 'kan ku tangisi lagi sekarang? Kucing itu sudah terkubur. Percuma menangis, dia tak mungkin tiba-tiba menggali keluar dari kuburnya hanya untuk membuatku berhenti menangis. Lucu.

"Tidak lagi. Mataku bisa membengkak jika terus menangis. Nanti aku jelek," aku diam sebentar, ikut menunduk memperhatikan gundukan tanah yang sama yang dilihatnya, "sepertimu," sambungku dan diakhiri tawa kecil.

Ah, sialan. Aku tidak ingin mengatai. Tapi yang sekarang di bawah tanah ini benar-benar menyebalkan. Ia mau membuatku menyesal telah pulang ya?!

"Kau mengatai kucingmu ya?" Aku menoleh cepat, kembali melihat ke arahnya yang kini juga melihat ke arahku. "Aku tau, kau 'kan sedang rindu-rindunya pada semua kucingmu."

"Ky, diem deh," ujarku sambil memicing padanya. Aku tidak benar-benar mengatai kucingku. Tidak mungkin lha.

"Baik, maaf tuan putri. Jajan aja yuk? Jangan galau, kucingmu yang lain masih butuh perhatian tuh."

Benar kata Rafky. Kucing ku yang lain masih ada. Lagi pula aku bukan anak kecil. Stop galau, bung.

── oOo ──

"Rafky, Rafky!!!"

"Iya iya, astaga, langsung masuk ke rumah, Pit. Jangan teriak gitu." Aku meringis pelan. Ku lihat ia buru-buru keluar dari rumahnya untuk duduk di teras, di tempatku menunggunya sambil berdiri dan sedikit teriak. Iya, sedikit kok.

"Lho, habis nangis kamu? Matamu tuh, duh, galauin apa lagi? Sini duduk. Nih, sekarang aku udah ada tisu yang biasa," katanya sambil memukul pelan tempat kosong di sampingnya, memberi tanda untuk duduk sambil menjulurkan satu bungkus tisu saku miliknya.

Aku menerimanya. Mengambil satu helai dan mulai duduk di sebelahnya. Bukan untuk mengeringkan air mata, hanya ingin saja pegang tisu.

"Kucingku mati lagi." Ku lihat ia hanya diam sambil memperhatikan.

"Mau minta bantu kubur lagi ya?"

"Hehe." Dia paham betul.

-

"Aku mau cerita sedikit."

"Hm, ceritakan saja." Baiklah, ini Rafky si pendengar yang baik.

Aku mulai cerita padanya. Tentang mimpiku beberapa hari yang lalu. Tepat setelah kucingku yang pertama kali mati. Mimpi itu benar-benar aneh. Kucing putih milikku itu masih hidup. Makam sederhana tempatnya dikuburkan ntah kenapa terbongkar. Dan kucing itu hidup. Hanya saja jalannya aneh. Kalau ku bilang seperti zombie. Jalannya tidak seperti biasa dan tubuhnya sedikit lebih kurus. Agak menyeramkan tapi juga terlalu nyata. Bahkan saat bangun tidur aku sempat mencari kucing yang satu itu. Mimpi aneh.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 25, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Art of SinStories to obsess over. Discover now