Permainan dengan kecepatan tinggi pada jalur rel khusus dengan ketinggian yang berbeda-beda berhasil mengocok perut Violetta.
Niatnya mau healing malah kayak orang bunting. Nasi uduk yang dia makan sebelum menaiki wahana ini berhasil keluar lagi. Setelah turun dari wahana perutnya terasa mual sekali ditambah kepalanya yang terasa sangat pening.
Dia terduduk tak jauh dari tempat wahana tersebut. Wajahnya yang pucat pasi, dia sembunyikan dibalik tumpukan tangannya yang terlipat. Tidak ada air minum, tidak ada teman, tidak ada yang peduli dengan dirinya. Semoga dengan memejamkan mata, tubuhnya bisa kembali normal.
"Kak, ini ada air," ucap seseorang yang entah tidak tahu siapa. Violetta tidak mau mengangkat pandangannya karena belum tentu panggilan itu untuknya.
Karena tidak mendapatkan respons, Olive perempuan kecil yang bersama cowok itu pun berkata, "Dia siapa?" Nebiru menggeleng pertanda dia juga tidak mengenali perempuan ini.
Dia memperhatikan cewek ini semenjak turun dari wahana Roller Coaster. Penumpang satu ini berhasil membuat matanya terus tertuju padanya. Kemudian tak lama cewek ini jalan semakin miring hingga terduduk di pinggiran menyembunyikan wajahnya.
"Ive, coba panggil kakaknya terus kasih ini airnya." Olive mencoba menggoyang tubuh cewek itu. Ketika Violetta mengangkat pandangannya, kepalanya masih terasa berat alhasil dia sedikit terhuyung ke samping. Terlambat, cewek ini bersandar di pundaknya dengan kedua mata terpejam. Untungnya Olive menyadarkan Nebiru yang sempat membeku.
Olive tidak membiarkan bahu kakaknya disandari cewek yang bahkan dia tidak mengenalinya. Seprotektif itu memang adiknya.
"Kak, diminum dulu." Nebiru membantu Violetta untuk minum. Violetta pun tidak menolak karena jujur tangannya masih lemas.
Lalu Nebiru dan Olive terdiam, posisi mereka sedang mengapit Violetta.
Violetta juga daritadi hanya diam dengan tangan yang terus memukul pelan kepalanya yang masih terasa pening.
"Makasih," ujar Violetta dengan nada pelan terkesan dingin. Nebiru hanya diam tidak merespons begitupun adiknya, Olive.
Ini kenapa duda satu anak nggak langsung pergi, sih 'kan gue udah ngucapin makasih juga. Gue juga belum siap jadi ibu tiri.
Dengan yakin Violetta mencoba bangkit dari duduknya berniat meninggalkan 2 orang tersebut.
Ternyata kakinya belum bisa menopang badannya sendiri. Dia pun jatuh dengan posisi terduduk. Nebiru pun terkesiap lalu membantu. Daritadi matanya masih tidak lepas mengawasi cewek yang barusan dibantunya.
Dia juga enggan bertanya banyak karena tahu bagaimana rasanya diajak ngobrol saat mual. Nebiru pun tahu jika cewek ini tidak senang dengan kehadirannya terbukti saat dia mendengar beberapa kali decakan keluar dari mulut cewek tersebut.
"Kak, jangan dipaksa dulu. Saya anterin pulang aja, ya?" tawarnya.
Violetta menepis tangan yang berada di lengannya. "Gue udah biasa sendiri. Kayak gini doang nggak bikin gue lemah."
"Iya, tapi tubuh kakak nggak bisa bohong."
"Lo nggak usah sok baik! Sok perhatian! Pergi aja! Gue juga nggak kenal lo. Gue udah bilang makasih, kan? Atau perlu duit? Ambil sendiri sana di tas gue. Nambah pusing aja lo!" Violetta menyentaknya. Jujur dia tidak nyaman sekali dengan kehadiran mereka.
"Kita bisa temenan. Gue orang baik."
"LO BUKAN SIAPA-SIAPA GUE! GIMANA GUE BISA PERCAYA?" Nebiru menelan ludahnya kasar. Ia membenarkan perkataan cewek tersebut.
"Gue Nebiru. Ayo, gue anterin pulang! Lo nggak malu jongkok dilihatin banyak orang gini?" Nebiru melihat orang-orang yang pandangannya tertuju padanya.
Tanpa membutuhkan jawaban, Nebiru segera membantu cewek itu berdiri dan membawanya ke mobil. Dia akan mengantarkan pulang sesuai dengan perkataannya. Nebiru tidak peduli jika nantinya dia mendapatkan cap orang sok baik dan sok perhatian.
"Lo jangan macem-macem sama gu–" Perkataannya terhenti karena cewek itu memuntahkan sebuah cairan bewarna putih lumayan banyak sehingga mengenai celana hingga sepatu Nebiru. Olive yang daritadi memegangi kaos kakaknya pun sedikit menjauh karena tidak mau terkena muntahan itu.
Nebiru mendudukkan kembali Violetta ke trotoar dan meninggalkannya dengan Olive. Dia akan kembali setelah mendapatkan air dan tisu.
Tidak lama untuk mendapatkan dua benda itu karena ada warung yang buka di sekitar luar parkiran.
Dia membersihkan mulut cewek itu dengan telaten.
Pandangan Violetta tidak lagi kabur, dia bisa melihat bagaimana tulusnya cowok ini membantu. Siapa tadi namanya?
Nebiru, Biru.
"Lo naik wahana berapa kali? Jangan nyoba buat nyiksa diri lo sendiri." Nebiru bertanya kepada cewek yang ditemuinya.
"5," jawabnya enteng.
Nebiru dan Olive spontan melebarkan matanya.
"Wahana di sini udah dibuka lama. Nggak perlu tumbal proyek lagi kayaknya. Alamat rumah lo di mana?"
Beri banyak cinta untuk cerita ini.
*Bacanya O-li-ve bukan Oliv.
*Part 2 lanjut setelah Owner Kos
YOU ARE READING
Serendipity [END]
Short Story⚠️ Cerita serupa di wattpad maupun lapak lainnya itu plagiat. Usia Nebiru sudah menginjak kepala dua dan punya keinginan besar untuk segera menikah dengan kekasihnya, tetapi justru sang kekasih diam-diam menyusun rapi persiapan pernikahan dengan or...
![Serendipity [END]](https://img.wattpad.com/cover/293544044-64-k858580.jpg)