Aliya

5.5K 417 36
                                        

"Pacaran kek Al, betah bener lo ngejomlo," tutur Nasya-sahabatnya Aliya.

"Ogah," balas cewek yang kerap disapa Aliya itu.

"Ya udah nikah deh kalo gitu, Si Rohim katanya kan mau tuh jadiin lo istri."

Rohim kang parkir di tempat Aliya kerja memang sudah menargetkannya menjadi istri sejak 3 minggu yang lalu, ah sudahlah yang mendekatinya sepertinya memang tidak akan seperti drama-drama romantis di Novel.

Sekarang kang parkir, sebelumnya kang cilok, malahan 2 bulan yang lalu ada kang preman yang mau menjadikannya istri.

Astaga, kadang Aliya berharap sesekali pengusaha berlian kek yang mau jadiin dia istrinya, gak papa istri kedua dua, yang penting hidupnya tercukupi, toh ia tidak percaya akan sebuah hubungan, anak broken home sepertinya bahkan takut untuk menjalin hubungan yang dilandaskan cinta.

"Dengan ikhlas gue rela kasih Si Rohim buat lo," timpal Aliya mendelik kesal.

Nasya tertawa terpingkal-pingkal, anggaplah dia sahabat yang kejam, tapi Nasya memang sudah bosan menjodohkan sahabatnya itu. Tapi jujur saja untuk kali ini ia memang hanya becanda saja, mana tega ia melihat Aliya nikah sama Si Rohim, bukan karena cowok itu kang parkir, tapi karena Si Rohim ini duda anak 5, ya kali ia tega melihat dunia bebas dan damai sahabatnya ter'renggut seketika.

Tak lama kemudian seorang pelanggan menyerahkan belanjaannya pada Aliya, dan tentu saja hal itu mengakhiri obrolan receh keduanya.

Aliya melakukan tugasnya sebagai kasir di sebuah minimarket, tak ada yang salah kan menjadi kasir? Toh, hidup tidak selalu menempatkan kita pada takdir yang beruntung, bagi Aliya keberuntungan itu cuma ada dalam novel, dalam kehidupan nyata ia harus bekerja keras untuk bisa sukses, hidup dalam angan beharap bertemu tuan muda kaya raya rasanya hanya pembodohan, hey! Walaupun ada, tidak semua orang akan mendapatkan hal seperti itu!

"Al, coba deh lo buka hati, gak semua hubungan akan berakhir tragis," ujar Nasya ketika tak ada pelanggan, "seperti rumah tangga orang tua lo," lanjut Nasya hati-hati.

Aliya mengembuskan napasnya perlahan, ia memang terlalu menutup mata, apa yang dikataka Nasya ada benarnya juga, tapi ... perpisahan orang tuanya menyisakan trauma besar untuk nya.

Tidak ada yang namanya kesetiaan, tidak ada  kepercayaan yang benar-benar terwujud, semua hanya dusta. Mungkin seperti itulah gambaran pernikahan baginya.

15 tahun lalu ketika usianya masih 8 tahun, orang tuanya sering kali bertengkar, entah apa yang mereka pertengkarang, yang pasti sosok ayah yang perhatian, penyayang, dan selalu memperlakukannya dengan lembut seketika hilang, ayahnya sering kali bermain tangan, dan ibunya pun tidak segan mengancang akan bunuh diri dengan sebilah pisau, dan naas nya hal itu dilakukan di depan matanya sendiri.

Aliya kecil hanya bisa berdiri tanpa melakukan apa-apa, kadang ia lebih memilih mengurung diri di kamar, tangannya ia gunakan untuk menutup telinganya rapat-rapat, kenapa? dan apa yang membuat kedamaian keluarga kecilnya berubah bak neraka dunia?

Semenjak kecil ia selalu berceloteh jika kelak ia mendambakan pernikahan seperti orang tuanya, suami yang perhatian dan penyayang serta bertanggung jawab pada keluarga, tak apa hidup dalam kesederhaan juga, yang penting hidup mereka bahagia. Aliya selalu menjadikan sang ayah sebagai tolak ukur calon suaminya kelak.

Iya, itu sebelum badai besar menghadang mereka.

Hingga suatu hari ketila Aliya pulang sekolah, ia kembali dihadapkan dengan kenyataan pahit, kenyataan jika ayahnya, orang yang paling ia kagumi, orang yang paling dia ibunya sayangi, terpergok tengan bercumbu dengan janda anak satu di kampungnya sendiri.

Terpaksa Jadi Istri KeduaStories to obsess over. Discover now