Prolog

78 30 4
                                        

Di bawah langit kelabu yang mendung, pemakaman itu tampak begitu sepi

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Di bawah langit kelabu yang mendung, pemakaman itu tampak begitu sepi. Hanya ada deru angin yang membawa suasana sedih, menambah berat beban yang menggantung di hati setiap orang yang hadir. Tanah yang baru saja ditimbun dengan rapat menandakan bahwa kehidupan yang begitu berarti telah berakhir, meninggalkan ruang kosong yang tak terisi.

Di depan sebuah makam yang baru saja ditimbun, seorang gadis berdiri, tubuhnya tertekuk lemah. Tangannya menggenggam erat batu nisan yang terpasang di depan makam. Batu nisan itu bertuliskan nama yang sangat berarti baginya Vania Zahra Andriani

Gadis itu dengan mata yang bengkak karena tangis, memeluk batu nisan itu dengan erat, seakan berharap dia bisa merasakan kehangatan dari sosok ibunya yang telah tiada. Bibirnya bergetar saat dia berbisik pelan, "Bunda... kenapa Bunda pergi begitu cepat?" tangisnya pecah lagi, suaranya tercekat di tenggorokan. Kepergian ibunya meninggalkan kekosongan yang begitu dalam dalam hatinya.

"Aku... aku masih butuh Bunda...."

Di belakang gadis itu, seorang pria berdiri dengan mata yang penuh kesedihan. Tubuhnya tampak kaku, namun matanya yang suram tak bisa menyembunyikan betapa hancurnya hatinya. Pria itu adalah ayah sang gadis. Perlahan, dia mendekati putrinya dan merangkul tubuhnya yang rapuh, mencoba memberi kehangatan di tengah kesedihan yang mencekam.

"Ayah ada di sini," suara pria itu terdengar berat, penuh rasa sakit. Dia memeluk putrinya lebih erat, berusaha menenangkan dirinya sendiri sambil memberi rasa aman pada anaknya. "Bundamu... akan selalu ada di sini, dalam hatimu."

Gadis itu menunduk, tubuhnya semakin lemas dalam pelukan ayahnya. "Tapi... aku merindukannya, Ayah. Aku tidak bisa hidup tanpanya."

Pria itu menatapnya dengan penuh cinta dan kesedihan. "Ayah tahu, Sayang. Ayah juga merasa kehilangan yang besar. Tapi kita harus tetap berjalan bersama. Kita punya satu sama lain. Bunda tidak ingin melihat kita bersedih."

Di sisi lain pemakaman, seorang pria berdiri diam menatap makam yang baru saja dipasang nisan. Wajahnya datar, namun sorot matanya menyiratkan duka mendalam yang tak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata.

Sebelum pergi, pria itu menatap makam di hadapannya sekali lagi. Dia menarik napas panjang, lalu memutuskan untuk melangkah pergi.

Saat berjalan keluar dari area pemakaman, langkahnya terhenti. Di sudut pemakaman, dia melihat seorang gadis yang sedang menangis di depan sebuah makam. Gadis itu tampak rapuh, tubuhnya berguncang dengan tangis yang tak terhentikan. Namun, wajah gadis itu tidak terlihat dengan jelas olehnya. 

Dia bisa merasakan kepedihan itu, meskipun dia tidak mengenal gadis tersebut. Ada sesuatu yang menyentuh dalam dirinya—sebuah rasa sakit yang sama. Dia tahu, rasa kehilangan seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa diceritakan dengan kata-kata.

Pria itu menarik napas panjang, berusaha mengendalikan perasaan yang mulai mengganggunya. Dengan langkah berat pria itu mulai berjalan menjauh dari tempat itu berusaha menghindari gangguan yang lebih dalam lagi. Namun, sebelum benar-benar berbalik dia menoleh sekali lagi ke arah gadis itu.

Pria itu akhirnya melangkah pergi, tapi suara isak tangis gadis tersebut masih terdengar samar di belakangnya. Ketika akhirnya dia mencapai gerbang pemakaman, dia berhenti lagi, memandangi langit yang semakin gelap lalu menarik napas panjang.

Bersambung...

ELVANOWhere stories live. Discover now