Prolog

362 124 387
                                        

Suara alarm di kamar Mutia berbunyi. Sang pemilik alarm tersebut tak kunjung mengerjapkan mata, padahal ia tahu jika semua jenis alarm tak pernah berhasil membangunkannya. Satu-satunya alarm yang membuat Mutia bangun pagi adalah teriakan mamanya.

“MUTIAAA … BANGUNN, SUDAH PAGI! MAU BERANGKAT SEKOLAH NGGAK?! SEKARANG HARI PERTAMA MASUK SMA, JANGAN TIDUR AJA!” teriak mama sambil masak di dapur untuk sarapan.

“IYAA, MA, INI UDAH BANGUN, KOK,” teriak Mutia membalas teriakan ibundanya sambil bangun dari tempat tidur.

Padahal mama Mutia di dapur, tetapi bisa terdengar oleh Mutia di kamar tidur. Itulah kehebatan mama Mutia bisa mengalahkan Alarm ponselnya.

Mutia langsung pergi menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sambil bernyanyi. Saat bernyanyi di kamar mandi, ia merasa tenang dan tidak malu karena ketika ia berada di tempat itu tingkat percaya diri meningkat seratus persen dan tingat stres berkurang. Ini sangat berguna untuknya yang jomblo bertahun-tahun.

Seusai mandi, ia langsung mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah.

“Hallo Mutiara Indah, yang biasa dipanggil Mutia. Wajah yang cantik dan imut. Sekarang sudah masuk Sekolah Menengah Atas dan sudah memasuki usia remaja. Semoga Mutia cepat tinggi dan dapat jodoh di sekolah,” ucap Mutia berbicara sendiri sambil mematut dirinya di depan cermin.

“Oh yaa, Mutia kan punya janji sama Sofi dan Azna tidak boleh pacaran dulu sampai tamat SMA,” ucap Mutia teringat janji pada sahabat Sekolah Menengah Pertama.

Saat berada di jenjang SMP, Mutia pernah berjanji kepada kedua sahabatnya.

Perjanjiannya adalah tidak boleh pacaran sampai lulus SMA dan setelah lulus kita serahkan pada diri kita masing-masing. Perjanjian ini bertujuan agar fokus belajar, jika pacaran, maka akan otomatis proses belajar terganggu. Perjanjian tersebut disahkan oleh tiga orang; Sofi Febrianti sebagai pendiri perjanjian, Mutiara Indah sebagai sekretaris, dan Azna Lutfiyah sebagai wakil sekretaris.

Tokk! Tokk!

“Ngapain di depan cermin aja? Cepatan sarapan dulu! Setelah itu berangkat sama Ayah,” ucap mama berdiri di samping pintu.

“Iya, Ma, ini mau ke ruang makan,” jawabnya.

Ayah memberikan nasihat untuk Mutia dan Ganita pada saat makan. Ganita Indah adalah adik dari Mutiara Indah yang sekarang juga pertama kali masuk SMP. Ayah memberi nasihat untuk serius belajar dan cari teman yang baik di sekolah.

Mutia dan Ganita yang sedang mengunyah makanan pun menjawab permintaan ayah mereka dengan anggukan.

Mutia dan Ganita pergi ke sekolah bersama sang ayah dengan mobil karena ayah pun berangkat kerja ke kantor.

Sebelum sang ayah sampai di tempat kerjanya, ia mengantarkan kedua anaknya terlebih dahulu.

Sesampainya di sekolah SMA Hijau Lestari Nusantara, Mutia langsung turun dari mobil. Ganita melambaikan tangannya ke arah Mutia dan ia pun melambaikan tangannya sambil jalan mundur.

Gubraakkk ...!

“Aww.” Mutia terjatuh karena menabrak seseorang.

“Maaf, tadi aku gak lihat ke depan. Aku minta maaf ya,” ucap Mutia yang merasa bersalah sambil melihat ke atas karena yang ia tabrak adalah lelaki bermuka judes, berbadan ideal, dan tinggi.

“Iya,” jawab lelaki tersebut.

Tidak lama lelaki tersebut langsung pergi menuju gerbang sekolah SMA Hijau Lestari Nusantara.

Mutia terdiam karena di awal SMA Mutia yang harusnya memiliki kesan baik, tetapi malah sebaliknya. Tak pikir panjang, Mutia pun perlahan memasuki gerbang sekolah tersebut.

“Siapa ya, tadi? Kakak kelas atau anak baru juga? Dia tinggi banget kayak Manusia Tiang,” ucap Mutia penasaran yang sedang berjalan menuju kelas.

“Iya semoga gak ketemu lagi sama Manusia Tiang itu,” lanjutnya.

Mutiara tidak akan pernah tahu kalau nanti akan bertemu dengan manuSIA tiaNG (SIANG) di SMA Hijau Lestari Nusantara atau sebaliknya. Mereka akan dipertemukan oleh takdir. Entah  untuk saling berdampingan atau saling memberi pelajaran. Namun, Mutiara berharap tidak akan bertemu lagi dengannya.

‘Memang, pertemuan awal kita tidak berkesan baik.
Namun, jika Tuhan kembali mempertemukanku lagi denganmu.
Mari ciptakan pertemuan yang berkesan baik dan bisa kita kenang bersama.’
- CINTA SIANG -

CINTA SIANGWhere stories live. Discover now