Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Living In Memory

592 48 2
                                        

Matanya selalu berbinar setiap kali melihat kucing di pinggir jalan. Tangannya tak pernah ragu mengulurkan makanan kepada kucing-kucing liar yang tak terawat. Rambut hitam panjangnya terurai, senyum manis dengan lesung pipi di kedua pipinya membuat wajah cantiknya begitu mudah memikat hati.

Ia gemar mengenakan baju kuning dipadukan dengan celana putih, menghadirkan kesan sederhana namun begitu anggun. Di dalam tasnya selalu tersimpan beberapa lolipop untuk dibagikan kepada anak-anak kecil yang ditemuinya di perjalanan. Setiap kali melewati toko bunga, langkahnya hampir selalu berhenti. Bunga matahari adalah kesukaannya. Sedangkan sate taichan menjadi makanan yang tak pernah ia lewatkan setiap kali kami berkeliling kota.

Kini setiap sudut jalan di kota ini masih menyimpan bayangmu. Menemani setiap langkah kakiku, setiap keraguan yang tak pernah mampu kuputuskan, juga setiap matahari yang terbit dan tenggelam.

Bandung, kota dengan ribuan kenangan yang tak pernah benar-benar bisa kulupakan. Sebanyak apa pun orang menyuruhku melupakanmu, kenyataannya kau, gadis pecinta bunga matahari itu, akan selalu kurindukan.

Namun, ada satu tempat yang selalu gagal kuhadapi.

Rumah sakit.

Bunyi monitor yang saling bersahutan, aroma obat yang khas, tetesan infus, hingga rintihan kesakitan para pasien selalu menyeretku kembali pada kenangan tentangmu. Setiap kali melihat sepasang mata yang mulai kehilangan cahaya atau tangan yang melemah di atas ranjang perawatan, dadaku seolah diremas. Luka itu belum pernah benar-benar sembuh.

Tangisan bayi memecah keheningan ruang rawat bersalin.

"Selamat ya, bayinya sehat."

Ucapan syukur memenuhi ruangan. Di atas ranjang, seorang perempuan tersenyum lemah sambil menggendong bayi mungil yang baru saja dilahirkannya.

"Mas... anak kita perempuan. Cantik sekali. Matanya mirip kamu."

Aku tersenyum tipis. Senyum yang bahkan terasa asing di wajahku sendiri.

"Mas, sini lihat. Menurutmu... kita kasih nama siapa?"

Aku menatap bayi kecil itu cukup lama sebelum akhirnya berbisik,

"Kalauna Apriliani Atmaja."

"Namanya cantik."

"Iya."

Secantik perempuan yang pernah mengajarkanku arti kehilangan.

Kalauna.

Nama yang akan selalu mengingatkanku pada seorang gadis pecinta bunga matahari yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupku.

Hari itu, semua orang percaya kelahiran putriku akan menjadi awal yang baru. Mereka berharap hatiku kembali hangat, cintaku tumbuh sebagai seorang ayah, dan hidupku perlahan sembuh.

Namun mereka tidak tahu. Di balik senyum yang kupaksakan, kenangan tentang Launa justru hidup semakin nyata.

Putriku lahir membawa harapan.

Sedangkan aku... Masih hidup bersama seseorang yang tak lagi bisa kuraih.

Air mata perlahan jatuh tanpa mampu kutahan. Tangan lemah perempuan di hadapanku terulur mengusap pipiku dengan lembut. Wajahnya dipenuhi kebahagiaan, senyum manisnya justru membuat dadaku semakin sesak.

Berapa kali pun aku ingin meminta maaf, rasanya kata itu tak lagi cukup. Terlalu banyak kebohongan yang kusimpan. Terlalu banyak luka yang mungkin akan ia rasakan jika mengetahui isi hatiku.

"Kamu bahagia banget ya, Mas. Anak kita lahir dengan sehat sampai kamu nangis begini."

Aku hanya tersenyum tipis.

Living In Memory Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora