°
°
°
"Segalanya disini hanya tentang kesabaran. Bukan siapa yang paling banyak memberi imbalan dan apresiasi. Itu semua percuma, apabila tak ada menikmati baginya. Terserah mereka diluar bilang apa, yang pasti, disini sama, tentang kehidupan para remaja. Bukan berarti tak ada cinta kan?
Ingat, menunggu pasti selalu bersama dengan kata sabar.
Maka siapa sabar menunggu, imbalan tak akan mengkhianati dirinya."
Dini hari, saat kabut masih tebal.
Mereka diluar sana masih terlelap dibalik selimut dikala banyaknya ampunan yang turun ke bumi, menunggu hambaNya bangun untuk menyapa sang pencipta.
Seperti halnya seorang pemuda dengan alis tebal, hidung mancung serta tatapan mata yang tajam. Ia tak peduli dengan dinginnya air, justru ia menikmati setiap tetes hingga alirannya.
Setelah mengambil air wudhu, ia memakai baju Koko serta sarungnya, lalu menggelar sajadah dan memulai shalatnya.
Ia sangat menikmati setiap gerakannya hingga akhir. Hingga tiba pada waktunya untuk bermunajat, melangitkan doa-doanya pada sang pencipta, menceritakan segala keluh kesahnya, termasuk beberapa persoalan yang mengusiknya akhir-akhir ini, kata-kata bundanya yang terus terngiang-ngiang.
...
Pagi hari
Sebuah bayangan mengusiknya yang sedang terlelap, membuatnya terpaksa menyipitkan mata. 'Ah, sosoknya seperti nggak asing..' batinnya.
Lalu sosok itu menyalakan lampu kamarnya dan mendekatinya dengan tertatih-tatih. dan setelahnya, mengusap lembut rambutnya yang terurai indah. "Sayang... Yuk bangun, udah siang nih," ucap sosok itu penuh sayang.
Sementara, ia masih menebak-nebak sesosok itu, dan ia memutuskan membuka matanya sedikit demi sedikit, namun sayang, sosok yang didapatinya justru menghilang, yang ada hanya lampu kamarnya yang menyala serta alarm yang sepertinya sudah bosan berbunyi.
Ia mengucek matanya dan mengerjap mencari sosok itu. Namun, tak lama, ia segera menyadari keadaan. 'ck, cuma mimpi' batinnya kesal.
Setelah turun dari ranjangnya, ia menghampiri mamanya yang sedang memasak untuk sarapan.
"Eh, udah bangun? Kebiasaan deh kamu, kalau lagi nggak sholat bangunnya telat." ucap mamanya sambil memindahkan masakan ke piring. Sementara ia hanya berjalan malas menuju kursi makan.
Namanya Aisyah Nayara Ayunda.
Keluarganya biasa memanggilnya Kak Ai, namun selainnya, bisa memanggilnya Nayara. Seorang siswi yang masih duduk dikelas 1 SMA, sebenarnya ia adalah seorang yang supel, namun, semenjak suatu musibah menimpa keluarganya, ia menjadi agak pendiam, hanya pada sahabat dan keluargannya saja ia terbuka. Bermata agak sipit, berhidung mancung dan kulit kuning Langsat, ia memutuskan berhijab dan memperbaiki diri saat ia berusia 15 tahun--tahun lalu.
"Ai, kamu mandi dulu sana, habis itu sarapan, kalau udah, nanti tolong ke rumah Tante Aini antar masakan mama ke sana." ucap mamanya santai setelah merapikan hidangan. "Iyaa.." jawab Nayara dengan malas. Sebenarnya ia mau mau saja disuruh, bukannya ingin membantah, tetapi karena mimpinya tadi masih terbayang-bayang, ia jadi merasa malas dan sedikit kesal.
Maaf kalau ceritanya kurang
berkenan, masih pemula ☺️
semoga suka ya... 🙏🏻
VOUS LISEZ
Yang Terbaik
Roman pour AdolescentsTentang Nayara, seorang perempuan yang baru saja memulai hijrahnya. Tentang Ayundya, Si cewek berambut sebahu yang cuek, saking cueknya nggak pernah mikir dua kali kalau ngomong. ... Tentang seorang Taqy dan k...
