Bagian 12 - Keputusan

55.5K 2.7K 287
                                    

I'm all out of faith, this is how i feel
I'm cold and i shammed
Lying naked on the floor

Illusion never changed
Into something real
I'm wide awake and i can see
The perfect sky is torn
You're a little late, i am already torn

TORN- NATALIE IMBRUGLIA

Enjoys guys..., mungkin sampai beberapa minggu ke depan aku bakalan slow update. Lagi banyak banget kerjaan. So sorry yah semoga part ini masih enak dibaca.
________________________________________

"Kakak, kita kawin lari saja."

Kami terperangkap dalam keheningan.

Tatapannya menilaiku, merasuk ke dalam mataku yang tertutup kacamata. Tangannya membelai ranbutku. Melepas karet gelang yang aku gunakan untuk mengikatnya, membuat rambutku tergerai. Tak lama dia memainkannya dengan menarik-nariknya lembut.

Keheningannya membuatku takut. Ajakanku memang tidak aku pikirkan matang-matang, tapi itulah solusi yang menurutku paling tepat untuk kami. Jika Bapak tidak memberikan restu, aku akan tetap menikah dengannya walaupun itu harus dengan cara kawin lari.

"Kamu ingat dulu saat kamu bilang padaku betapa enaknya laki-laki karena bisa menikahi wanita yang dia cintai, tanpa harus ada restu dari orangtuanya." ujarnya memecah keheningan. Suaranya tenang dan dalam.

Aku mengangguk.

"Sedangkan wanita, jika akan menikah dia harus berusaha memperoleh restu. Jika pun tidak ada restu, dia bisa meminta salah satu walinya untuk menikahkannya."

Aku kembali mengangguk.

"Kita berdebat saat itu, karena kamu merasa hal itu tidak adil bagi wanita. Aku ingat kamu marah padaku seharian" lanjutnya, seraya tertawa pelan.

"Hmmm...." jawabku mengiyakan, aku tersenyum kecil. Tawanya menular.

"Beberapa hari kemudian kita membahasnya lagi, kamu membawa entah buku apa dari tumpukan rak bukumu. Memberitahuku apa yang kamu temukan. Aku ingat saat itu, dengan yakin kamu bilang apapun yang terjadi, saat kamu menikah nanti kamu akan berusaha keras agar pernikahanmu direstui oleh orangtuamu." tambahnya.

Aku terhenyak mendengar ucapannya, aku melupakan apa yang aku yakini dulu. Saat itu aku menemukan betapa dalamnya arti Ijab-Kabul. Ijab-kabul punya arti mendalam tentang penyerahan tanggung jawab orangtua wanita kepada calon suaminya. Ucapan sakral yang mengikat dua manusia dalam pernikahan.

"Kamu dengan antusias menjelaskannya padaku, saat itu aku bicara pada diriku sendiri, aku harus menikahi wanita ini. Wanita yang begitu mencintai orangtuanya pasti akan memberikan cinta yang besar juga padaku."

"Kakak...."

'Tapi setelah bertahun-tahun bersama, kamu bahkan tidak pernah memberikan cintamu untukku." Dia menatapku, tak ada lagi tatapan hangat penuh sayang, sekarang aku menemukan dia melihatku dengan tatapan yang penuh luka.

Aku membeku, mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paruku.

Tangannya kembali memainkan jemariku. "Selama ini apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanyanya pelan.

"Jika aku tidak mencintai Kakak, aku tidak akan di sini. Meminta Kakak agar menikahiku." suaraku bergetar.

Dia mengambil buku The Great Gatsby yang kemarin dia pinjam. "Adakah hal yang kamu sembunyikan dariku?"

Aku menggeleng cepat, yakin tidak ada apapun yang aku sembunyikan darinya. Namun hatiku tahu aku berbohong, karena wajah Nara berkelebat cepat di pikiranku.

Unintended ChoiceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang