{01}

11 0 0
                                        

"Papa, Aeghys minta maaf. Papa, Aeghys minta maaf. Papa ... Aeghys minta maaf ... Papa ..."

Gadis dengan surai panjang bergelombang yang bertahtakan warna emas mengkilap meringkuk gemetaran di sudut ruangan. Suaranya tak lagi mampu lolos dari tenggorokan. Pening sekali kepalanya yang mewah itu sebab habis tersiram air dingin setelah sempat dihantam guci keramik Jepang harga triliunan.

Ia sesenggukan dengan mata yang tertutup rapat. Lentik sekali bulu matanya, berwarna putih keemasan persis seperti sang Ibunda. Kulit putih susunya lama-kelamaan mulai mengkerut, kedinginan sebab baju sekolah yang basah tiga perempat itu masih melekat di tubuh.

"Pa ... pa ..." rintihnya memohon sekali lagi. Ia tahu di luar sana Papanya masih berdiri. Papanya hanya menunggu sampai ia menangis darah, barulah Bibi pengasuhnya akan disuruh membuka kunci ruangan.

Ruangan dengan luas lima belas meter persegi, yang terdiri dari sebuah bilik kaca dengan showernya. Marmer bermotif akar hitam memenuhi lantai dan pinggir temboknya. Wastafel dengan kaca super besar berbingkai emas murni yang entah digunakan untuk apa. Sebuah lemari dengan handuk yang selalu baru setiap harinya. Closet dan bathub yang sudah di luar kepala saking mewahnya.

Dan ya, itu hanyalah sebuah kamar mandi. Yang digunakan untuk mandi, membersihkan diri dari kotoran yang penghuni rumahnya hampir tak pernah terpapar sang Surya secara langsung.

"Pa ..."

Aeghys merutuki kebodohannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, seharusnya ia tak melakukan aksi protes itu terhadap Papanya. Papanya bukanlah orang yang lenggang waktunya sampai bisa mendatangi acara penerimaan rapor siswa. Seharusnya ia mengikuti apa yang dikatakan bodyguard-nya, perkara sang Tuan Besar sedang ada meeting penting dan tak bisa diganggu. Seharusnya ia mengindahkan peringatan Bibi Pengasuh mengenai Tuan Besar yang kemungkinan emosinya sedang naik ketika sampai di rumah.

Aeghys menghela nafasnya, ia tak bisa lebih lama lagi di sini, atau ia akan terkena penyakit umum itu. Sedangkan besok, ia ada wawancara dengan pihak sekolah karena mendapat peringkat paling atas secara paralel, walaupun sejujurnya itu sama sekali tak berarti di mata Aloysius, tapi semua itu demi Papa dan citra marganya.

Ia harus hadir besok, dengan keadaan sehat. Atau ia akan dihajar lagi habis-habisan sampai timbul corak di tubuhnya.

Aeghys berpikir keras. Permohonannya diabaikan seolah deru Air Conditioner yang sama sekali tak menganggu. Otaknya berputar, mencoba mendapatkan strategi yang mampu membebaskannya.

Sampai keberadaan botol kaca minyak wangi yang berharga hampir puluhan juta itu tertangkap indra penglihatannya. Aeghys tersenyum miring, diraihnya cepat benda itu dan dihantamkannya dengan amat kuat ke tempurung kepalanya sendiri.

Prang!

Botol kaca itu pecah menjadi beberapa kepingan. Darah mengalir cukup deras dari kepala Aeghys, membelai lembut wajah bak dewi yunani itu dengan bau anyirnya yang kurang ajar. Seragam merah-putih yang berlabelkan angka empat romawi itu kini ternodai, sedikit cat warna merah yang sebelas-dua belas dengan warna roknya, batin Aeghys. Aeghys meringis kecil ketika gagang pintu tiba-tiba bergerak, sesuai dugaannya, Bibi Pengasuh tergopoh-gopoh menghampirinya.

"Aduh, Contessa! Contessa, apa yang terjadi?"

Aeghys tersenyum simpul sebagai bentuk ucapan terimakasih atas kekhawatiran palsu yang cukup meyakinkan dari Bibi Pengasuhnya. Lihat, bola mata dengan iris hitam legam itu tak bisa fokus pada satu titik, kerutan di dahinya berlipat-lipat dengan mata yang dipersempit lebarnya dan jangan lupakan mulutnya yang bergincu merah darah itu, seperti kereta api dengan batu bara sebagai bahan bakarnya. Cepat bergerak, dan meninggalkan bau.

The Greatest Clan : Aloysius {MAINTENANCE}Stories to obsess over. Discover now