Jea berjalan lesu menuju kelas. Kepalanya tertunduk hingga rambut hitam panjangnya menutupi wajah. Jea tidak perlu khawatir menabrak murid lain karena lima menit yang lalu bel pelajaran telah berbunyi nyaring. Koridor sepi sedangkan kepala Jea penuh dengan pikiran-pikiran yang selama dua bulan ini menghantuinya.
"Excuse me, Miss" Ucap Jea saat membuka pintu. Masih dengan raut wajah keruh Jea melangkah menuju tempat duduknya. Disana sudah ada Mona yang kini menatap Jea penuh tanya. Meski begitu, saudara kembar Jea itu tidak bertanya apa-apa.
"Thanks, Mon" Ucap Jea menerima botol minum yang disodorkan Mona.
"Abis ini lo harus cerita!"
"Hm" Gumam Jea dan setelah itu keduanya kembali fokus ke depan, memperhatikan pelajaran.
Setelah kepergian Jea, Dio mengalihkan pandangannya kearah Venya yang masih menangis dengan baju basah. Membuka kemeja, Dio lalu menyerahkan kemeja itu kepada Venya. Kasihan juga melihat partner mesumnya dalam keadaan memprihatinkan.
"Maafin Jea, dia engga maksud buat kasar" Ucap Dio.
Venya mengangkat wajahnya, menatap Dio dengan mata terbelalak tidak percaya. Setelah apa yang Jea lakukan padanya, Dio masih saja membela cewek itu?
Venya mengusap kedua matanya lalu tersenyum miris. "Kayaknya lo emang sesayang itu sama Jea"
Dio tidak menjawab pertanyaan Venya. Ia hanya mengangguk lalu berbalik badan keluar dari toilet lantai empat. Meninggalkan Venya yang menatap punggung Dio dengan tangan terkepal erat.
"Sial!" Geram Venya merasa begitu tidak dihargai.
Dio berjalan riang sambil bersiul tanpa takut ditegur. Cowok yang kini hanya memakai kaus warna hitam itu terus melangkah menuju lantai dua, padahal kelasnya sendiri ada dilantai tiga. Tujuan Dio adalah ruangan paling ujung itu.
Tanpa mengetuk, Dio membuka pintu lalu tersenyum lebar kearah orang-orang berseragam putih dengan ikat pinggang merah, kuning dan hitam. Dio mengangkat tangannya, menyapa cowok paling tinggi yang sedang menatapnya sambil meringis.
Dari awal Evan sudah menduga akan didatangi oleh Dio karena berani berurusan dengan Jea. Semua orang juga tahu jika tidak ada yang bisa selamat setelah mencoba mendekati Jea. Diam-diam Evan menggerutu, sudah mantan saja posesifnya kebangetan, apalagi kalau status Jea masih pacar. Evan bergidik ngeri membayangkannya.
"Kayaknya asik nih, pagi-pagi udah keringetan" Dio berujar santai, yang mendengarnya justru langsung panik melirik kanan-kiri. Berdoa didalam hati semoga bukan mereka yang diajak duel.
Dio memang bukan Ragaz yang terkenal sadis dan dingin. Dio justru tipe cowok yang banyak tersenyum, suka mengobral kalimat pujian terutama kepada cewek cantik dan seksi yang mau diajak masuk kedalam kamar kosnya.
Akan tetapi, Dio tetap dikenal sebagai tameng Vagos. Jika Ragaz adalah pedang yang membabat habis musuh-musuh Vagos, Dio ini layaknya perisai yang siap pasang badan melindungi Ragaz dan teman satu gengnya dari serangan musuh. Jadi, terbayang betapa kuatnya cowok itu dan Evan merasa begitu sial ketika melihat Dio berjalan kearahnya.
"Gue denger lo ketua disini?" Memasukkan satu tangannya kedalam kantung celana, Dio berdiri pongah menatap Evan yang memiliki tinggi sama sepertinya.
YOU ARE READING
Cookie Jarring
Teen FictionPernah atau sedang dekat dengan seseorang dalam jangka waktu yang lama, tapi kamu tidak juga tau arah hubungan akan kemana? Disatu waktu dia bersikap sangat perhatian tapi diwaktu yang lain justru hilang tanpa jejak. Hingga kamu mulai mempertanyakan...
