Malam panjang
Mobil melaju kencang membelah jalan raya yang sudah tampak sunyi. Teriakan dan dentuman musik terdengar dari dalam mobil begitu nyaring, membuat siapa saja yang lewat di dekat mobil akan meneriaknya.
"LEBIH KENCANG LAGI LEK!" teriak seorang wanita yang duduk di bangku tengah. Dia adalah kiran, cewek yang memiliki rambut panjang berwarna kecoklatan.
Mendengar itu mobil tampak melaju lebih kencang dari yang tadi, membuat seisi mobil berteriak sambil menikmati dentuman musik yang mereka putar.
Tak butuh waktu lama. Mobil yang tadinya melaju kencang, kini menepi, kemudian parkir di tempat yang sudah di tentukan.
Semua yang berada dalam mobil turun, dengan tawa yang memuaskan. Tampak tiga wanita dan satu pria. Tak lupa dengan penampilan tiga wanita yang mampu membelalakkan mata para kaum Adam.
Rok pendek, dan baju ketat. Sehingga menampakkan lekukan tubuh yang begitu sempurna, yang membuat hasrat kaum adam naik jika melihatnya.
"Sangat memuaskan," ucap Kiran yang sangat menikamati laju mobil.
"Pacar gua dilawan," balas seorang wanita tersenyum kemudian mencium pipi sang pacar yang ada di sampingnya. Dia adalah Aina, wanita cantik yang memiliki lesum pipi yang begitu menggoda. Sedangkan pacarnya bernama Alek, cowok yang identik dengan jambulnya yang begitu rapi, dan terkenal dengan sebutan 'Raja Jalan'. Bagaimana tidak, dia seringkali menang melaju di atas aspal. Bahkan, Alek sudah banyak menglahkan geng motor lainnya.
Kedua temannya membelalakkan mata ketika satu kecupan mendarat di pipi Alek. Bisa-bisanya mereka memamerkan keuwuan di tempat umum seperti ini.
"Pamer terus..." ucap seorang wanita yang berdiri samping Kiran. Dia adalah Faira.
"Iri bilang kawan," balas Aina kemudian meninggalkan kedua temannya, ikut dengan sang pacar yang sudah dari tadi menggandeng tangannya.
Kedua temannya hanya melihat kepergian mereka berdua.
"Gini amat rasanya jomblo."
*****
Dentuman musik terdengar begitu keras, semua tampak berjoget ria menikmati musik. Bau alkohol tampak menyengat, tapi ini sudah hal biasa bagi mereka, bahkan itu minuman tiap malam bagi mereka semua yang berada di sini. Yap, tak salah lagi. Mereka berada di club'malam, tempat bermain Aina dan kawan kawan tiap malam.
"Alek!" teriak seorang pria yang tengah menyusul Alek yang baru saja masuk.
Pria tersebut tersenyum setelah berada di hadapan Alek.
"Lama amat lu?" tanya pria tersebut. Sebut saja dia Firzan, teman Alek waktu smp.
"Gua nungguin Aina dulu sama teman temannya," jawab Alek.
Firzan mengangguk mengiayakan.
"Yaudah, ayo. Yang lain udah pada nungguin disana."
"Yaudah, lu duluan aja. Bentar gua nyusul," ucap Alen ke Firzan.
Firzan hanya mengiyakan kemudian pergi meninggalkan Alek.
Sebelum Alek pergi. Alek melihat ke arah Aina. "Gua kesana dulu?"
Aina hanya mengangguk mengiyakan kemudian, melepas tangannya dari genggaman Alek. Setelah itu Alek pergi meninggal Aina dan kawan.
Setelah Alek pergi, Aina menoleh kebelakang, melihat dua temannya yang tengah menatap ke arahnya.
"Ngapain lihat-lihat?" tanya Aina melihat Kiran dan Faira bergantian.
"BUCIN AJA TROSSS...." ucap Kiran dan Faira kompak, kemudaian meninggalkan Aina sendiri.
"Woi tungguin gua njir." Aina langsung menyusul mereka kemudian menyamakan langkahnya.
"Makanya lu cari cowok juga," ucap Aina setelah berada di samping Kiran dan Faira.
"Masalahnya cowok nggak ada yang serius, Na," ucap Faira yang di angguki oleh Kiran.
"Cowok jaman sekarang, lihat yang bening aja langsung mau," tambah Kiran.
"Jadi Alek?"
Kiran dan Faira langsung berhenti, kemudian menatap kearah Aina.
'Kalau Alek beda lagi. Emang dia udah setia sama lu Aina." Kiran memutar bola matanya.
"Lagi pula lu cantik, putih, kalau senyum manis, lu udah menghampri sempurna Na di mata Alek," tambah Faira yang memuji fisik Aina.
Mendengar perkataan Faira membuat Aina senyam-senyum sendiri, menampakkan lesum pipi miliknya.
"Alah Ira bisa aja." Aina memukul lengan Faira pelan seraya tersenyum malu.
Kiran dan Faira hanya melihat Aina yang tersenyum sediri. Kebiasaan, jika Aina di puji seperti itu, dirinya malu malu sendiri.
"Dahlah, gua capek berdiri," keluh Kiran yang sudah merasa pegal.
"Ya udah kita duduk sana aja." Faira menunjuk kearah tempat yang kosong di sana. Kemudian meinggalkan Aina yang masih tersenyum karena pujian Faira. Mereka berdua berdua langsung melewati segerombolan pria dan wanita yang tengah berjoget menikmati musik yang mereka dengar.
Aina melihat mereka berdua yang meninggalkan dirinya sendiri. "Kebiasaan, main tinggal aja."
*****
Alek yang tengah berkumpul dengan temannya, sesekali melihat ke arah Aina yang tengah tertawa riang bersama ke dua temannya, sembari menikmati bir.
Firzan yang melihat tingkah Alek yang begitu cemas dengan Aina, langsung memberikan segelas bir buat Alek untuk mengurangi rasa cemasnya.
"Lek, nih minum." Firzan mennyodrkan segelas bir buat Alek. Alek langsung menggeleng, menolak pemberian Firzan.
"Santai Lek. Malam ini Aina pasti aman," ucap Firzan meyakinkan Alek.
Alek hanya membalas degan senyuman. "Nggak Zan, malam ini gua nggak nafsu buat minum."
Firzan yang mendengar itu langsung mengambil kembai segelas bir itu, kemudian di minum.
Alasan Alek tidak ingin minum bukan hanya tak nafsu, tapi juga untuk menjaga keadaan Aina. Awalnya Alek tak ingin membawa Aina ke sini. Tapi, Aina yang memaksa. Apa boleh buat, dia hanya menurut saja.
Mata Alek kembali melihat ke arah Aina. Sampai saat ini keadaan Aina masih aman-aman saja, dan semoga kejadian yang kemarin tak terulang kembali.
****
YOU ARE READING
Mas Adam
Teen FictionPermasalahan jodoh nggak ada yang tau, hanya Tuhan lah yang mengetahui itu. Meskipun kata orang jodoh adalah cerminan diri, namun tidak selamanya yang baik akan bertemu yang baik juga, dan yang jahat akan bertemu dengan yang jahat juga. Tapi, bisa s...
