1. Menikah Lagi

83.9K 3.7K 88
                                    


Follow dulu biar dapat notif update. Kalo kamu suka, vote semua part dan komen juga tulisan ini ya...

**************** 

"Mama, kenapa Papa tidur di sana?" tanya Rania sambil menunjuk gundukan tanah dengan papan nisan bertuliskan nama Arya Wiratama bin Sunaryo.

Aku menghela napas, kupandangi wajah Rania dengan iba. Belum genap tiga tahun usianya dan harus menjadi yatim.

"Karena Allah sudah memanggil Papa, Nak." Aku menjawab sambil menabur sisa bunga yang masih dalam genggaman. Setelah suamiku meninggal, baru kali ini aku datang ke makamnya, usai masa iddah. Di daerahku, tak lazim wanita ikut datang ke prosesi pemakaman meskipun ke pemakaman suaminya sendiri.

Rania masih memandangi makam papanya. Kupeluk ia dengan erat. "Ran, kangen Papa?"

Anggukan kepala Rania menjawab pertanyaanku.

"Kalau begitu kita doakan Papa, yuk, supaya kita bisa ketemu Papa lagi nanti di surga."

"Kita bisa ketemu Papa lagi?" Kedua mata anak semata wayangku itu seketika berbinar.

"Bisa, dong. Yuk kita berdoa!" Kubimbing ia menengadahkan kedua tangan mungilnya.

"Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaa nii shoghiiroo."

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Aku menengadah, menengok langit yang terlihat muram, tertutup awan gelap. Padahal sewaktu berangkat dari rumah Mama tadi masih cerah, sehingga tak terpikir olehku untuk membawa payung. Sejurus kemudian hujan turun. Langsung deras. Aku berusaha melindungi kepala Rania dengan tanganku.

"Ayo, Ran, kita pulang." Buru-buru aku menggendong Rania. Kepalanya kulekatkan ke dadaku.

Namun, baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba saja hujan berhenti. Aneh. Kembali aku menengok langit. Alih-alih menemukan bentang cakrawala di atas kepala, aku justru melihat payung terkembang sempurna melindungi kami dari derasnya hujan.

"Pamaan!" teriak Rania begitu melihat pamannya, Arman, datang dengan membawa dua buah payung. Satu payung terbuka di atas kepala kami, dan satunya masih terlipat rapi.

"Bukankah sudah kubilang, tunggu aku pulang," katanya datar namun terdengar marah.

Aku tidak terlalu kaget dengan sikap Arman. Selama ini, adik suamiku memang dingin dan irit bicara.

Selama hampir empat tahun aku menjadi kakak iparnya, kami hanya berbicara seperlunya, bahkan cenderung saling menghindar. Sebenarnya aku tipikal orang yang mudah akrab dengan orang lain, tetapi melihat pembawaan Arman yang seperti ini, aku jadi sungkan beramah tamah dengannya.

"Bukannya sudah kubilang juga, tak perlu repot menjemputku. Aku bisa, kok pergi sendiri," jawabku ketus. Aku tahu maksudnya baik, tetapi lancang sekali dia marah padaku, mantan kakak iparnya.

"Bagaimana kalau Rania sakit karena kehujanan? Ceroboh!" Arman membuka payung yang masih terlipat rapi lalu menyerahkan padaku.

"Ayo, Ran, ikut Paman," katanya lagi sembari mengambil alih Rania dari gendongan.

Sampai di depan mobil, Arman menurunkan Rania kemudian membuka pintu. "Masuk!"

Meski lebih terdengar seperti memerintah, aku menurut saja, malas berdebat dengannya.

Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Beruntung ada Rania yang mencairkan suasana. Sambil tetap fokus menyetir, Arman ikut bernyanyi bersama Rania dan selalu menanggapi ocehannya yang lucu. Aneh memang. Sedingin-dinginnya adik iparku ini, entah mengapa jika bersama Rania, sifatnya bisa berubah seratus delapan puluh derajat.

"Hei kita mau ke mana?" tanyaku ketika menyadari Arman salah mengambil jalan. Jalan ini berlawanan arah dengan jalan menuju rumahku.

"Ke rumah Mama."

"Tapi, baru sejam yang lalu, kan, aku berangkat dari rumah Mama ke makam. Aku juga sudah pamitan pada Mama. Kenapa ...."

"Ada yang mau Mama sampaikan. Setelah itu, kuantar pulang."

Ada yang mau disampaikan? Kenapa tiba-tiba? Apakah serius? "Apa, Mama masih bersikeras mengajakku dan Rania tinggal di rumah?" tanyaku pada Arman.

Beberapa kali Mama membujukku untuk tetap tinggal di rumahnya. Beliau bilang akan kesepian jika kami pindah.

"Atau ...." Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Oh iya, apa mungkin untuk membicarakan acara lamaranmu yang tertunda dengan Sheila?"

Sheila adalah teman kantor sekaligus calon istri Arman. Acara lamaran mereka seharusnya sudah dilakukan beberapa bulan lalu, tapi karena berpulangnya Mas Arya, acara itu ditunda dan sampai sekarang, belum dijadwalkan ulang.

"Aku sampai lupa belum menjahitkan kain seragam dari Mama. Ah, coba kuhubungi tukang jahit langgananku dulu, ya," ocehku sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas.

Arman merebut ponselku dan memasukkan ke kantong kemejanya. "Sok tahu! Jangan bahas soal itu lagi!"

"Eh? Kalian lagi ada masalah? Hmmm, kena sindrom pranikah ya?" Aku menoleh ke arahnya, kepo, kenapa dia semarah itu. Tanpa menunggu jawabannya aku melanjutkan bicara, "Oh itu, sih, biasa. Dulu aku sama Mas Arya pas mau nikah juga sempet gitu, tiba-tiba adaa aja yang bikin ragu. Kita pernah-"

Kalimatku terhenti ketika mendadak Arman menginjak rem mobil. "Hah, ada apa? Kamu mau mampir ke minimarket?"

"Sudah ngomongnya?" Arman bertanya tanpa sedikit pun melihat ke arahku. "Sudah kubilang, aku lagi tidak ingin membahas tentang pernikahan. Titik!"

Aku mendengkus. Dia sama sekali tak menghargai upayaku untuk mendekatkan diri dengannya sebagai adik suamiku.

"Paman sama Mama kok berantem, sih?" Pertanyaan Rania yang polos dengan nada suaranya yang lucu meredakan kesalku.

"Nggak berantem, kok, sayang," jawabku. "Pamanmu aja, tuh, kalo ngomong sukanya ngegas. Lembut dikit, napa?" sambungku lirih, tapi aku yakin dia pasti mendengar.

☕☕☕

Mobil menepi di depan rumah Mama. Saat aku turun, kulihat Mama tergopoh-gopoh keluar rumah, menyambut aku dan Rania dengan raut muka bahagia seperti biasa.

"Rania ..., cucu Oma ...." Mama membentangkan tangannya begitu melihat Rania turun dari mobil. Bocah kecil itu ikut berteriak girang menyambut pelukan omanya.

"Assalamualaikum, Ma," sapaku sambil mencium punggung tangan Mama.

Mama mencium pipi kanan kiriku. "Waalaikumsalam. Ayo masuk, Nadia. Maaf ya, Mama suruh Arman bawa kamu ke sini lagi."

Usai memarkir mobil, Arman menaikkan Rania ke bahunya. "Ayo, Ran, kita kasih makan ikan di belakang."

Rania bersorak gembira menyambut ajakan Arman.

"Lihat Nadia, Arman begitu sayang pada Rania," kata Mama sambil membimbingku masuk ke dalam rumah. Aku hanya tersenyum. Dari dulu, Arman yang kaku, yang pelit senyum dan kata-kata itu memang sangat dekat dengan Rania.

"Mama ingin bicara denganmu," kata Mama ketika kami sama-sama sudah duduk di ruang tengah. "Dan Arman," lanjutnya. Bi Inah lalu menggantikan Arman menemani Rania.

"Mama memanggilku?" tanya Arman.

"Ya. Nadia, Arman, Mama ingin bicara." Ucapan Mama kali ini terdengar tak biasa, serius dan sangat berhati-hati. "Bagaimana, kalau kalian ...." Mama menatapku dan Arman bergantian. "MENIKAH?"

**********

Cerbung ini sudah terbit cetak. Mau dapat versi cetaknya GRATIS? Ikutan yuk giveawaynya. Baca bab berjudul "Novel Bila Jodoh Gratis" (bab paling akhir), baca instruksinya di situ ya.

Btw nama Mela saya ganti dengan Sheila ya, nama lengkapnya sih Rosheila Melania biar ga terlalu mirip samanama tokoh lainnya, panggilannya Sheila aja, ok. 


Dijodohkan dengan Adik SuamikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang