Permulaan

24 2 1
                                        

Cermin merupakan saksi bisu pada setiap penampilan yang selama ini gadis itu perlihatkan ke setiap orang. Tentu saja, memangnya siapa yang ingin terlihat lusuh dan kumel di hadapan orang lain? Terutama di depan sang kekasih tercinta. Bisa–bisa, momen yang seharusnya berharga, akan berkurang keberhargaannya hanya dikarenakan penampilan yang tak sedap dipandang. Terlebih lagi, ia merupakan anak dari seorang pejabat serta mantan bintang iklan terkenal. Akan sangat memalukan baginya jika sampai penampilannya itu tidak memenuhi standard kesempurnaan wanita pada umumnya.

“Cantik kok, Al. Gue jamin, Rino pasti suka!” ujar Aya, gadis berambut pendek yang merupakan salah seorang sahabatnya. Beberapa saat kemudian, yang diajak bicara kini memalingkan tubuhnya, tak lagi menghadap kaca pribadinya, berbalik memandang tiga orang perempuan yang berdiri mengelilinginya.

“Aya, Ririn, Tyas, makasih ya, udah bantuin gue hari ini. Kalian tenang aja! Besok, gue bakal traktir kalian di mal. Terserah deh mau beli apa aja, gue yang bayar,” tutur gadis bernama lengkap Alina Diandra tersebut seraya menatap para sahabatnya secara bergantian. Raut ketiga sahabatnya pun tampak senang.

“Serius?” tanya Ririn guna memastikan bahwa sahabatnya itu tak akan menarik kembali ucapannya.

“Rin, kapan sih Alina pernah bercanda sama ucapannya?” tanya balik Tyas, sembari melirik Alina, mencari pembenaran.

“Benar sekali,” sahut Alina menyetujui ucapan Tyas.

Di tengah perbincangan itu, tiba–tiba handphone Alina berdering kencang. Segera ia meraihnya dari atas meja rias. Bibirnya membulatkan senyum tatkala membaca sebuah nama yang tertera pada layar ponselnya.

Rino: Jadi, ‘kan? Aku udah di jalan.

Alina: Jadi. Langsung ketemu di cafe biasa, ya! Aku mau jalan sekarang.

***

Sepasang alat penopang tubuh berjalan menuruni anak tangga dengan riangnya, diiringi dengan suara yang timbul akibat adanya benturan antara telapak alas dengan permukaan anak tangga yang terdengar nyaring. Terlebih lagi, diikuti oleh tiga pasang lainnya di belakang. Sampai. Empat pasang kaki itu telah sampai pada ujung anak tangga, menginjak lantai paling dasar dari sebuah rumah yang terlihat megah dengan segala pernak–pernik mahal yang menghiasinya.

“Mau ke mana kalian?” tanya seorang lelaki paruh baya dengan rambutnya yang telah didominasi oleh warna putih. Ialah Pak Martin, papa Alina.

“Aku mau dinner sama Rino, Pa,” terang Alina dengan memegangi sling bag cokelatnya.

“Kalau kita mau pulang, Om,” tukas Aya sembari memperlihatkan kerapatan giginya.

“Loh, kok pulang? Nggak ikut dinner juga?” celetuk seorang wanita yang tampak sibuk menata para penghuni meja makan. Bu Santi, mama Alina, wanita yang masih terlihat cantik dan segar pada usianya yang terbilang sudah tak lagi muda. Sebuah celemek kuning tampak masih melekat di tubuhnya.

“Nggaklah, Tante. Barisan jomblo kita ini,” balas Aya sembari tertawa kecil, diikuti oleh Alina, Ririn, dan Tyas. Pun Pak Martin.

“Ya udah, hati–hati! Pulangnya jangan kemalaman!” seru Pak Martin mengingatkan anak bungsunya itu.

“Iya, Pa. Ya udah, kita pamit, ya! Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Garasi dibuka, memperlihatkan jejeran mobil yang tertata rapi. Alina segera menodongkan remote–nya pada sebuah mobil berwarna silver, terletak di antara beberapa mobil lain milik kedua orang tuanya. Pintu mobil dibuka. Usai memastikan ketiga penumpangnya telah memasuki mobil dan terduduk dengan aman dan nyaman, mesin mulai dinyalakan. Tak lama kemudian, keempat roda pun melaju perlahan, meninggalkan sebuah kediaman yang masih tampak megah jika dilihat dari luar.

Tangannya begitu lincah memegang kendali setir. Pandangannya fokus ke depan, meski sesekali tawa ringan mewarnai perjalanan. Langit tampak cukup cerah berbintang. Mungkin semesta tahu, betapa bahagianya hati Alina malam ini.

***

Lima belas menit kemudian, usai mengantarkan para sahabatnya pulang, akhirnya mobil Alina mulai membelok ke suatu area cafe. Alina tampak sedikit celingukan mencari tempat kosong untuk mobilnya berdiam diri. Ketemu. Suasana cafe yang cukup ramai, membuat Alina agak kesulitan menemukan celah yang kosong di antara beberapa mobil lainnya.

Kembali, Alina celingukan sesampainya di dalam cafe. Sepasang bola matanya menjelajah ke setiap sudut cafe, tetapi sama sekali tak ia temukan di mana keberadaan kekasih hatinya tersebut. Alina menghela napas singkat, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam sling bag.

Alina: Di mana kamu? Kok belum sampai?

Rino: Di jalan. Bentar lagi sampai kok.

Lagi dan lagi kedua netra Alina menjelajah, memperhatikan aktivitas orang–orang di cafe tersebut. Tidak, ia tidak benar–benar memperhatikannya. Lebih tepatnya, ia mencari tempat yang kosong dan nyaman untuk merayakan hari bahagianya tersebut.

Telapak kakinya mulai melangkah menuju sebuah meja dengan dua buah kursi berwarna hijau yang terletak di dekat jendela kaca dengan ukuran lumayan besar. Jendela yang mampu menyiratkan bagaimana sunyinya jalanan kota yang hampir tak pernah terjadi. Pijar–pijar lampu di banyak sudut pun menghiasinya, membantu sang rembulan dan kawanan bintang bekerja sebagaimana mestinya.

***

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya yang ditunggu telah tiba. Rino langsung terduduk dengan senyuman termanisnya setibanya di hadapan Alina. Lebih tepatnya, senyum permintaan maaf karena telah membuat sang kekasih menunggunya cukup lama. Tak mengapa, Alina tak terlalu mempermasalahkannya. Baginya, dapat merayakan hari anniversary yang ke–2 dengan orang terkasih adalah hal yang sangat berharga, sehingga menunggu beberapa menit bukanlah sesuatu yang patut untuk dipermasalahkan.

Dinner dimulai, diwarnai dengan berbagai hal yang menjadi topik perbincangan mereka sembari menyantap pesanan yang telah dihidangkan. Salah satu yang tak mungkin dibiarkan terlewat oleh Alina adalah rencana pertunangan mereka yang masih harus tertunda lantaran Rino belum kunjung memberitahu kedua orang tuanya. Alina cukup sabar menunggu. Ia telah menaruh kepercayaan besar terhadap kekasihnya tersebut. Ia yakin, Rino adalah pilihan yang tepat baginya.

Di sela–sela perbincangan itu, tiba–tiba seorang pelayan laki–laki datang dan tidak sengaja menumpahkan segelas minuman ke baju Rino. Sontak hal itu membuat Rino berdiri dan langsung memarahi pelayan tersebut. Alina pun beranjak dari tempat duduknya, mengikuti Rino, mencoba melerai amarah Rino yang menggebu itu. Sementara itu, kejadian itu pun tak luput dari perhatian berpasang–pasang mata dalam cafe tersebut.

“Rino, udah! Nggak perlu kayak gitu! Nggak perlu marah–marah! Mas, mendingan sekarang Mas pergi aja dari sini! Maafin pacar saya, ya!”

“Makasih, Mbak. Kalau gitu, saya permisi.” Pelayan itu pun bergegas pergi meninggalkan mereka.

“Kok kamu malah belain dia sih, Sayang? Padahal dia yang salah.”

“Aku nggak belain dia. Aku cuma nggak mau kamu marah–marah, malu diliatin orang lain. Udah, ya, mendingan kita lanjut makan lagi! Nanti pulangnya aku beliin baju ganti buat kamu. Aku nggak mau hari bahagia kita jadi rusak hanya karena hal yang sepele.”

***

DeadWhere stories live. Discover now