Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Prolog

22 0 0
                                        

Orang bilang, malam tergelap adalah saat sebelum fajar.

Dimana udara terasa membeku, sunyi melahap deru nafas dunia.

Semua ruang menjadi kedap suara, sepi menjadi selimut malam kelabu.

Sinar rembulan menyorot sekelebat kilatan remang.

Saat keputusasaan menjadi teman terbaik, tak ada bisikan menarik selain sebuah akhir.

Semua itu adalah sebuah pertempuran besar, antara hidup dan mati.
Antara menyerah dan berserah.

Tertelan sepi, tangis yang teredam sang gelap malam, seolah tak punya belas kasih, siapa yang akan merangkul dan mengusap bulir bening yang terasa bak lelehan timah.

Lelaki itu hanya menatap dari jauh seseorang dengan segala raungan kepiluannya, membelah malam dengan temaram rembulan yang mengintip dari jendela kamar.
Yang ia tahu, 'dia' membutuhkan waktu untuk bersahabat dengan waktu, biarkan berkeluh kesah dan meratapi segala lara yang membelah dada. Namun, siapa yang bisa menerka? Perasaan manusia itu bukan sesuatu yang bisa dicari jawabannya.
Kala kilatan yang terpantul dari benda pipih itu memasuki indera penglihatnya, ia menjerit dan dengan cepat berada di depan 'dia' yang menjadi pusat semestanya itu. Pemuda itu seolah tuli, abai dengan gema suara yang berusaha menyudahi perbuatannya.
Rasanya perih saat cairan asin itu menetes melebur bersama warna merah sarat luka yang mengalir dari lengannya.

"Lenganku yang berdarah, tapi kenapa di dalam dadaku terasa seperti tertikam?"

'Kenapa semesta seolah menjadi pengadil untuk orang-orang seperti kita?'

PENUMBRAStories to obsess over. Discover now