1# Arfan Shaka Mahendra

39 16 17
                                        

H
A
P
P
Y

R
E
A
D
I
N
G


Seorang pria dengan setelan kemeja yang melekat ditubuhnya tengah duduk disebuah bangku taman tak jauh dari sebuah gedung SMA.
Menikmati angin sore dengan kesepian.
Menghilangkan rasa penatnya karena lelah bekerja.

Angin berhembus pelan menerpa wajahnya yang cerah karena terpaan matahari sore.
Menutup matanya untuk menikmati hembusan demi hembusan.

Setitik air mengalir melewati pelipisnya.
Isakan terdengar lirih
Suaranya yang sangat lirih, seperti sebuah gumaman.

"Aku kangen, aku belum bisa lupain kamu"

"Kenapa kamu pergi"

"Kenapa kamu ninggalin aku"

" Kenapa disaat aku sudah terjatuh kedalam hatimu yang terdalam, kamu pergi"

" Tunggu aku, aku akan menemukanmu dan kita akan bersama lagi"

"Aku akan berjuang untuk mendapatkan kamu, aku akan berusaha lindungi kamu, supaya kamu nggak pergi lagi"

Perlahan matanya terbuka, langit sorelah yang pertama kali ia lihat.

"Tuhan pertemukan aku dengannya, izinkan kami bersatu"

•••
Shaka Arfan Mahendra, laki laki tampan dari keluarga Mahendra. Laki laki misterius, yang penuh kejutan. Lelaki bermuka dua, hangat bersama keluarga dan dingin bersama orang asing.

Tahun ini adalah tahun kelulusan Shaka setelah beberapa tahun yang lalu terbang ke Belanda untuk menyelesaikan kuliahnya. Hari yang seharusnya menjadi hari yang menyenangkan, kini terasa ada yang kurang. Janji yang dulu terucap, kini tidak ada pembuktian. Janji yang akan menemani dari nol hingga lulus dan sukses kini sudah tidak ada lagi.

Saat ini Shaka sedang duduk di ruang keluarga. Mengobrol santai dengan Ayah dan kakaknya.

" Ka, kuliahnya Lo udah selesai, kan?" suara seorang pria terdengar di ruang keluarga.

"Udah,Bang tinggal fokus sama perusahaan"

"Karena kamu udah lulus besok mendingan kamu ngajar dikampusnya Cakra aja, lagipula Ayah juga pemilik yayasan kampus itu." Seorang paruh baya yang sedang melangkahkan kakinya menuruni tangga.

Mendengar perkataan ayahnya Shaka menghela nafas lelah. Jujur, dia sebenarnya tak ingin untuk menjadi seorang dosen. Baginya menjadi seorang dosen sangat memusingkan, lebih baik ia menolong orang sakit. Menjadi seorang dokter lebih menyenangkan.

"Nanti akan Ku pikirkan, Ayah." Berharap keputusan yang diambilnya tepat.

Ayahnya menganggukkan kepala pertanda mengerti, " Semoga keputusan Mu tepat"

"Semoga saja" gumamnya lirih.

Sebuah piring berisi kue pandan mendarat di meja depan para pria mengobrol, membuat obrolan mereka terhenti.

"Selamat mencoba kue pandan buatan chef Like dan chef bunda Rena" Ujar wanita muda dengan nada ceria.

Memperhatikan kue didepannya sejenak, dahi Shaka mengerut.

Mendongak menatap sang Bunda, "kue apa Bun?"

"Pandanlah, kan tadi Bunda udah bilang"

Pft bolehkah ia tertawa? Mana ada kue pandan warna merah muda. Pinky sekali!

Shana or Arsha [On Going]Where stories live. Discover now