Seorang perempuan keluar dari mobil sport lalu di ikuti oleh ketiga lelaki berbadan jangkung, sontak semua siswa menatap mereka dengan pandangan berbeda-beda.
Zilla berjalan di koridor dengan wajah ramah sedangkan ketiga lelaki di sampingnya memasang wajah datar dengan dagu terangkat.
Brukk!!
"HITO LO KENAPA NARIK GUE, NJIR!"
"SALAHIN HILLO NOH DIA DULUAN!!" ungkap Hito pada Gara, dia menunjuk-nunjuk wajah Hillo dengan wajah memerah.
"I-itu salahin tali sepatu gue noh!" ucap Hillo mencari pembelaan, dia menatap kesal tali sepatunya yang tak terikat yang membuat dirinya terjatuh di lantai.
"Ya itu kan tali sepatu lo, nggak usah pake narik kita juga!" damprat Gara dengan mata yang mendelik kesal kearah Hillo, hancur sudah sikap coolnya karena sekarang semua siswa di koridor sedang terkikik geli.
"Kita sahabat, jadi kalau gue jatuh kalian harus jatuh juga, kalau gue nangis kalian juga harus nangis, kalo kalian mati tetangga yang nguburin," ungkap Hillo dengan mata berbinar.
Kompak Gara dan Hito menjitak kepala Hillo.
"Gila!!" ketus Gara.
"Mama Zilla batuin Papa Hillo dong!!" rengek Hillo yang membuat Zilla mencibir dalam hati.
"Telah meninggal dunia rasa malu dari ketiga sahabat saya, saya mohon kirimkan doa agar beliau di terima di sisinya," celetuk Zilla.
"AAMIIN!!" seru seluruh Siswa.
"Anjrot," lirih Gara lalu berdiri di ikuti Hillo dan Hito.
"Terimakasih doanya temen-teman," ujar Hillo dengan senyum terpaksa lalu berlari menuju kelasnya.
Zilla, Gara dan Hito berjalan menyusuri koridor lalu berbelok di kelas XI IPA 3, Hito duduk di samping Hillo sedangkan Gara dan Zilla duduk di meja didepan Hillo dan Hito.
"Buset bokong gue sakit, njim!" grutu Hillo sambil mengelus bokongnya. "Untung masih bohay belum tepos," ungkapnya dengan perasaan lega.
"Kringg!!!
Zilla dan ketiga temannya membenarkan duduk mereka.
Hillo mencolek bahu Zilla, dia beranjak dari tempat duduknya dan sedikit mencondongkan kepalanya kedepan. "Ini yang ngajar pak Santo yang hamil kaga lahiran-lahiran, kan?"
Zilla mengangguk, dia berdecak pelan saat melihat guru gendut itu memasuki kelas. "Iyap, yang kepalanya kayak Upin cuma punya rambut sehelai," ucap Zilla lirih sambil melihat gerak-gerik pak Santo yang kini membuka buku absen.
"Hooh, yang jomblo lima puluh tahun," celetuk Hito sambil cengengesan.
Hillo menganggukkan kepalanya sambil menahan tawa, dia memutuskan untuk duduk kembali namun naas kursi sudah lebih dulu di tarik oleh Hito sehingga membuat bokong Hillo mencium lantai.
Brukk!!
"ANJIR GUE SALAH APA SIH YA ALLAH? SIAL BANGET!!" pekik Hillo yang membuat seisi kelas menatapnya tak terkecuali pak Santo.
Hito tertawa sambil memukul-mukul meja sedangkan Zilla tertawa sambil memukul bahu Gara dan Gara tidak tertawa melainkan meringis kerena sakit di bahunya.
"Kalian mau belajar atau masih ketawa, hah?!" bentak pak Santo menatap Zilla dan Hito yang di tatap langsung mengatup mulutnya. "Dan kamu Hillo, kenapa bisa jatuh, huh?! Berdiri nggak usah lebay!"
"Lebay pala lu botak, sakit ini anjir," grutu Hillo pelan lalu menarik bangkunya dan duduk dengan mulut terus mengumpat. "Kita putus Hito kamu jahat," desis Hillo.
"Idih," cibir Hito.
***
"Akhirnyaaaa!!!! Kantinn yok!" seru Zilla sambil mengangkat kedua tangannya, dia berdecak senang melihat guru botak itu keluar dari kelasnya, dia memutar badanya mengarah pada bangku Hillo dan Hito. "Ih cepetan ngantin!"
"Iya-iya sabar Zil," ucap Hito sambil memasukkan buku-bukunya kedalam tas. "Ayok," ujarnya setelah selesai.
Zilla mengangguk senang lalu menarik tangan Gara untuk beranjak. "Ayok entar penuh!!"
Gara hanya mengangguk saja lalu beranjak tapi tatapannya beralih pada Hillo yang kini memalingkan wajahnya sambil memonyong-monyongkan bibir. "Kenapa lo?" tanya Gara bergeridik jijik.
"Tau si Hillo, mau di gampar kali tuh mulut," celetuk Hito.
"Kaga usah banyak drama deh susu Hillo! Gue laper," ungkap Zilla sambil mengelus perutnya yang sedari tadi berbunyi minta di isi.
Hillo berdecak. "Kalian aja gue kenyang," ujarnya dengan muka cemberut.
"Baperan anjim!! Kaga usah sok ngembek, Junaedi!" kesal Hito sambil mendorong kepala Hillo pelan.
"Kan kalian emang udah nggak sayang sama gue." Hillo menatap ketiga sahabatnya senduh.
"Emang kita pernah sayang sama lo?!" damprat Zilla, Gara dan Hito serempak yang membuat Hillo mencebik.
"Dosa apaan gue punya temen kayak kalian, ayok ah capek gue drama mulu cacing di perut gue udah pada demo," ujarnya lalu beranjak untuk pergi ke kantin bersama ketiga sahabatnya.
YOU ARE READING
MYSTERY OF LOVE
Teen FictionIni bukan hanya tentang percintaan tapi juga persahabatan Ini bukan hanya tentang takdir dan kenyataan tapi ini tentang pilihan Entah cinta atau logika Entah nyaman atau terbiasa Yang pasti Azilla Anatasya ingin bahagia
