Kenapa gua langsung up 3 part pas malming ini? karena waktu hari selasa gua gak up, apa lagi hari kamis, dan nanggungnya itu besok hari jum'at jadi kayanya mending seklian gua up malem ini tiga-tiganya.
Selamat membaca guys
Sejak pukul 10 pagi semua yang mengikuti kemah di sini sudah berkumpul mengikuti acara pertama yaitu apel pembuka. Setelahnya mereka di bagi dalam beberapa kelompok yang didalamnya terdapat 5 orang.
Kelompok masing-masing harus mendirikan tenda yang sudah disediakan tempatnya, kemudian di bantu oleh panitia pendamping di dalamnya.
Mulai dari acara apel pembukaan, mendirikan tenda, mencari kayu bakar, dan banyak kegiatan lainnya hari ini sudah terlewati begitu saja.
Waktu yang terus berjalan, mulai dari pagi lalu beranjak menjadi sore hari dan sekarang sudah hampir tengah malam.
"Woy bengong aja." Ucap salah satu teman Rio yang aku tahu namanya adalah Apri.
Tubuhku yang masih berdiri namun sengaja di senderkan pada pohon dibelakangku. "Ada apa Bang?" tanyaku.
Yang ditanya hanya tersenyum konyol kepadaku. "Gapapa sih. Cuma mau ngingetin ini udah jam 12 lewat loh." Ucapnya.
Mataku mengedarkan kesegala arah. Hanya tersisa beberapa anak laki-laki yang sedang mengobrol di tengah lapangan. Kemudian ada juga yang duduk didepan tenda.
Dahiku mengkerut bingung. "Terus?" tanyaku lagi.
"Astaga." Kesalnya. "Maksudnya tuh liat deh anak cewek semuanya udah pada tidur. Anak sosiologi juga udah pada istirahat dari jam 9." Lanjutnya.
"Terus." Kataku kepadanya dengan santai.
Apri yang mendengar sahutanku hanya geleng-geleng kepala. "Terus kamu gak mau tidur, Git?" tanya Apri.
Aku memandang Apri sejenak. Kemudian kepalaku menggeleng pelan. "Nanti aja." Sahutku. "Bang Rio mana?" tanyaku kepadanya.
"Lagi keliling hutan sama Gara, Reyhan, sama satu lagi si Artur." Jawabnya santai.
Shock? Sudah pasti. Kelilling hutan tanpa mengajak aku? Yah sepertinya itu kemauan mereka. Lalu aku hanya menganggukan kepala tanpa mau menjawabnya.
Tidak begitu hening, karena sayup-sayup aku masih mendengar jelas suara candaan anak-anak yang sedang berjaga malam ini.
Tanganku langsung terulur di depan Apri. "Minjem senternya dong." Kataku kepada Apri.
"Nih." Ucap Apri menyerahkannya. "Emang mau buat apaan?" lanjutnya.
Kemudian aku langsung menyalakan senternya lalu menoroti tenda paling ujung. "Tuh ada yang keluar." Jawabku. "Aku samperin dulu Bang. Bye." Lanjutku.
Arah cahaya senter yang ada ditanganku masih terus menyoroti seorang anak sosiologi yang baru keluar dari tenda.
Orang itu hanya berdiri di depan tenda, tak berkutik sedikitpun hingga aku sampai tempat di depannya.
"Aku kira yang keluar siapa. Eh ternyata Kak Stefani." Kataku sambil tersenyum.
Mendengar itu pun Stefani membalas senyumanku. "Loh kok tau namaku sih?" tanyanya penasaran.
"Tau dong. Kan mantan terindahnya Kak Rey." Jawabku dengan sedikit tertawa. "Ups keceplosan." Lanjutku sambil menutup mulut.
Stefani terkejut mendengar itu semua. "Ternyata bener yah yang anak kampus gosipin." Sahut Stefani dengan tersenyum tipis.
"Gosip apaan kak?" tanyaku tak kalah penasaran.
"Kalau kamu pacarnya Reyhan, Git." Jawab Stefani dengan datarnya.
Raut mukanya berubah drastis. "Loh kenapa pada mikirnya kaya gitu kak." Kataku sambil menatapnya.
"Karena kamu deket sama Reyhan dan jaketnya Reyhan dari kemarin di pake kamu sampe sekarang." Jelas Stefani.
Ah, sekarang aku sudah tau apa yang ada dalam pikiran Stefani. "Salah besar tau kak." Sahutku dengan santai.
Stefani tersenyum tipis. "Oh iya lupa. Aku mau ke kamar mandi. Mau kencing." Ucapnya sambil menatapku.
Kepalaku mengangguk. "Ya udah aku anterin kak." Ujarku sambil mempersilahkan Stefani berjalan terlebih dahulu.
Aku berjalan di belakang Stefani dengan senter yang terus menyoroti jalan menuju kamar mandi yang sudah tersedia.
"Git." Panggil Stefani.
"Iya." Sahutku sambil terus berjalan mendampingi Stefani.
Tak ada balasan darinya, justru dia terdiam sebentar. "Kamu beneran gak pacaran sama Reyhan?" tanya Stefani dengan hati-hati.
Tawaku pecah seketika dengan gelinya. "Aku sama Kak Reyhan cuma temen kak. Soalnya Kak Reyhannya belum move on dari Kak Stefani." Jawabku sambil menjelaskannya.
Kaki kita saling berhenti di tempat karena sudah sampai di depan kamar mandi. "Jangan bercanda, Git." Ucapnya sambil menatapku.
Senyumku terbit begitu saja. "Aku serius kak. Kak Stef nya aja yang gak peka." Sahutku sambil terkekeh kecil.
"Bisa spot jantung aku ngedenger candaan kamu, Git." Ucap Stefani sambil menggeleng-geleng kepala. "Tungguin bentar yah Git." Lanjutnya.
Setelahnya Stefani langsung masuk ke dalam toilet. Menuntaskan urusannya di dalam. Sedangkan aku berdiri sambil menikmati suhu yang semakin mendingin.
"Udah Git." Ucap Stefani ketika sudah keluar kamar mandi.
Mataku menatap pergerakan tubuh Stefani yang seperti kedinginan. Karena Stefani hanya menggunakan celana panjang dan kaos pendek tanpa ada jaket yang melekat pada tubuhnya.
"Kakak kedinginan?" tanyaku sambil terus memandanginya.
Kepalanya mengangguk. "Sedikit, soalnya air di kamar mandi tadi dingin banget." Jawabnya sambil berjalan.
"Di tenda ada jaket kan?" tanyaku lagi.
Lantas kepalanya menggeleng lemah. "Jaketnya gak kebawa. Ketinggalan di rumah." Jawabnya dengan lemah sambil menggosok-gosokan kedua tangannya.
"Berhenti dulu kak." Perintahku. "Tolong pegangin senternya kak." Lanjutku.
Stefani sempat bingung dengan perintahku namun dia tetap menjalan apa yang aku perintahkan. Aku membuka jaket yang aku kenakan sekarang lalu mengeluarkan ponsel dalam saku jaketnya.
Ponselnya aku pegang di tangan kiri. Jaketnya aku serahkan kepada Stefani menggunakan tangan kananku. "Pake nih kak." Kataku.
"Gak ah ini kan jaketnya Reyhan." Tolak Stefani dengan halus.
"Pake aja kak gapapa. Dari pada kakak kedinginan." Kataku sambil menyerahkan jaket ke tangan kirinya. Kemudian aku mengambil senter dari tangan kanannya.
"Cepetan di pake kak." Kataku lagi karena sedari tadi Stefani belum juga memakai jaket.
Stefani memandang jaket ditangannya sebentar kemudian dia memakai jaket yang sudah aku berikan. "Git, kalau Reyhan marah gimana?" tanya Stefani ketika dia sudah memakai jaket.
Aku hanya tersenyum mendengar itu. "Justru Kak Reyhan tuh seharusnya bilang terima kasih sama aku." Jawabku sambil berjalan bersamaan dengan Stefani melangkah.
Sepanjang perjalan menuju tenda kita bercanda dengan berbagai macam tawa yang keluar begitu saja dari diri kita masing-masing.
Hingga akhirnya sampai di depan tenda Stefani. "Lanjut tidur lagi kak, soalnya besok masih banyak kegiatan." Kataku.
"Iya. Makasih juga yah Git." Ucapnya sambil membuka resleting tendanya.
"Oh iya itu jaketnya di pake kakak aja. Kalau mau dibalikin jangan ke aku kak." Sahutku sambil tersenyum. "Tapi ke yang punya jaketnya langsung." Lanjutku sambil terkekeh.
Tak menghiraukan umpatan Stefani, kaki ini justru terus berjalan meninggalan Stefani yang sudah mulai masuk ke dalam tenda.
Masih ada beberapa laki-laki yang sedang seru mengobrol sambil menghangatkan diri di depan api unggun yang dibuat sendiri.
Pandanganku menyusuri seluruh panitia yang sedang di luar tenda. Menyalakan layar ponsel yang sudah terlihat jelas sekarang pukul 01.11 pagi.
Aku menghampiri beberapa panitia yang sedang duduk mengelilingi api. Jika dilihat dari raut wajahnya, 4 orang sudah pasti dari angkatannya Rio. Sedangkan 5 orang lainnya sudah jelas di bawah angkatannya Rio.
"Bang." Panggilku kepada mereka semua.
Semua yang sedang mengobrol langsung menatapku. "Apaan, Git?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku mau keliling bentar." Kataku dengan tenang.
Raut wajah mereka berbeda-beda. Ada yang terkejut, ada juga yang biasa saja. "Sendirian?" tanya lagi dari salah satu mereka.
"Iya Bang." Jawabku. "Kalau ada yang nyariin bilang aja lagi jelajah hutan." Lanjutku.
"Gak takut, Git?"
"Gak." Sahutku santai. "Gita duluan. Bye." Lanjutku dengan kaki berjalan menjauh dari mereka.
-Selamat malam minggu-