Dering alarm yang sedari tadi memecah keheningan di ruangan yang classic nan aesthetic itu, menggema di seluruh penjuru ruangan. Ruangan yang tertata rapi dan bersih membuat siapapun yang memasuki ruangan tersebut akan merasakan kenyamanan.
Sang empunya kamar sedang menggeliat di dalam selimutnya, enggan untuk membuka matanya maupun beranjak dari kasur kesayangannya tersebut. Namun mendengar suara dering alarm yang sedari tadi memecah mimpinya, membuat ia terpaksa membuka matanya dan meraba-raba meja kecil yang terpajang di sebelah tempat tidurnya.
Ia mencari benda pipih yang mengeluarkan suara nyaring itu. Setelah mendapatkan benda tersebut, ia mengambilnya dan menghentikan suara yang keluar dari ponselnya. Membuka matanya malas dan melihat jam yang terpampang di lockscreen-nya.
Jam itu menunjukkan pukul tujuh pagi. Karena merasa masih memiliki waktu sebelum menjalankan aktivitasnya, ia memilih untuk memejamkan matanya kembali, menarik selimut yang sempat menjauh dari tubuhnya.
Belum genap lima menit ia memejamkan matanya, tiba-tiba ia mendengar ponselnya kembali berdering. Dengan sedikit nyawa yang terkumpul, ia mengambil ponselnya kembali dan mengangkat telepon tanpa melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Cia bangun, mau ke kampus jam berapa?" Suara laki-laki itu berhasil membuat gadis yang di panggil dengan nama Cia itu membuka matanya, melihat jam dinding dan menghembuskan nafas lega setelah mengetahui bahwa ia masih memiliki waktu.
"Cia, ke kampus jam sembilan kak." Jawabnya malas dan sesekali menguap. Semalam ia tidur terlalu larut karena menonton drama kesukaannya dan berakhir ia hanya tertidur empat jam saja.
Rasa kantuk yang ia rasakan sangat mengganggunya. Sebab ia harus menguap beberapa kali pagi ini.
"Ya udah, sarapan dulu sebelum berangkat." Ucapnya sebelum menutup teleponnya secara sepihak.
Bukannya marah, gadis yang di panggil Cia ini terlihat sangat santai. Mungkin karena sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu.
Lolicia Avyanna. Gadis remaja berumur sembilan belas tahun. Memiliki paras yang cantik, kulit putih, bersih dan memiliki mata yang indah. Jangan lewatkan tubuhnya yang mungil.
Ia tinggal di sebuah rumah yang bisa dibilang cukup besar dengan penghuni rumah hanya dua orang. Hanya Lolicia dan kakak laki-lakinya. Suga Rasendriya. Umur mereka berbeda hanya satu tahun saja.
Ayah mereka meninggal saat mereka masih duduk di bangku SMP karena kanker paru-paru, sementara itu ibu mereka memilih untuk bekerja di New York beberapa bulan setelah ayah mereka meninggal dengan alasan ingin mendapatkan uang lebih untuk kebutuhan hidup bagi anak-anaknya. Meninggalkan mereka di kota sebesar ini. Hanya berdua.
Tentu saja setiap bulan ibu mereka selalu mengirimkan uang dengan jumlah yang cukup untuk mereka hidup. Namun, setelah Suga duduk di kelas tiga SMA, Suga tidak lagi mau menerima uang dari ibunya. Suga memilih untuk mencari uang sendiri dengan magang di sebuah restoran kecil di pusat kota. Membagi waktunya antara sekolah dan bekerja.
Karena larangan dari kakaknya, Lolicia juga tidak menerima uang dari ibunya. Namun ibunya tetap mengirimkan uang pada rekening Lolicia tapi tak pernah di pakainya. Suga mengatakan kepada adiknya bahwa ia bisa membiayai mereka tanpa bantuan dari ibunya.
Kekesalan yang dirasakan Suga terhadap ibunya masih tertanam hingga saat ini. Bagaimana bisa seorang ibu meninggalkan kedua anaknya yang bahkan belum mencapai umur tujuh belas tahun di kota sebesar ini.
Semenjak kejadian itu pula, Lolicia mendapati perubahan dari kakaknya. Ia merasa Suga yang bersamanya beberapa tahun belakangan ini adalah Suga yang berbeda. Sebab, Suga yang dulunya bersikap manis dan lembut, sekarang menjadi Suga yang dingin dan kadang berlidah tajam. Tapi tetap saja, sisi lembutnya masih terlihat hanya saja tidak sering.
Lolicia sangat menyayangi kakaknya, sebab beberapa tahun terakhir setelah ibunya meninggalkan mereka, yang menjadi orangtuanya adalah sang kakak. Suga berperan sebagai ayah sekaligus ibu bagi Lolicia. Menjaga dan menyayanginya sepenuh hati.
Ia beranjak dari kasurnya, melipat selimutnya dan merapikan tempat tidurnya. Setelah itu ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Kini ia sudah berada di meja riasnya, mengeringkan rambut yang basah dengan hairdryer. Memoles sedikit riasan tipis pada wajahnya. Setelah itu ia beranjak untuk turun ke meja makan.
Saat menuruni anak tangga, Lolicia melihat Suga yang tengah tertidur di sofa dengan televisi yang menonton Suga tidur nyenyak.
Setelah lulus SMA, Suga memilih untuk tidak melanjutkan studinya. Ia memilih untuk bekerja dan sekarang ia bekerja di sebuah bar yang buka dua puluh empat jam. Akhir-akhir ini ia sering mendapat night shift, yang bekerja dari jam sepuluh malam hingga jam tujuh pagi.
Lolicia sedikit kebingungan, haruskah ia membangunkan Suga dan mengajaknya sarapan bersama atau membiarkan Suga tidur dan ia sarapan sendirian. Lolicia kadang takut jika harus membangunkan Suga, sebab Suga sangat tidak suka jika tidurnya terganggu.
Akhirnya Lolicia memilih untuk membangunkan Suga dengan perlahan, berharap Suga tak akan marah saat terbangun nanti.
"Kak." Lolicia menepuk lengan putih pucat milik Suga dengan perlahan, sangat hati-hati. Ia tidak mau mendengar ocehan kakaknya di jam sepagi ini.
Suga yang merasa ada sentuhan pada lengannya berusaha membuka matanya perlahan, "Udah rapi ternyata. Kita sarapan dulu." Ajaknya dan beranjak menuju meja makan. Lolicia bernafas lega, akhirnya ia tak perlu mendengar ocehan dari kakaknya.
Mereka sarapan tanpa adanya pembicaraan sedikit pun. Suga melarang keras adanya pembicaraan saat sedang makan. Setelah sarapan mereka selesai, Lolicia membersihkan meja makan dan mencuci piring bekas sarapan tadi.
Suga yang masih duduk di meja makan memperhatikan adiknya yang berjalan menuju arah dapur.
"Kamu yakin mau sekolah disitu?" Tanya-nya.
"Yakin kak." Jawab Lolicia tanpa berpikir panjang.
"Ya udah kalo gitu."
"Kerja malam lagi kak?" Lolicia bertanya sembari merapikan piring yang habis ia cuci. Tak mendapat jawaban dari sang kakak, Lolicia pun keluar dan melihat ke meja makan yang sudah kosong tak berpenghuni.
Lolicia yakin, saat ini Suga tengah kembali menyambung mimpinya yang sempat terputus. Tak heran, Suga bekerja begitu keras. Bahkan terkadang ia lupa memperhatikan kondisinya sendiri.
Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Lolicia mengambil tasnya dan beranjak pergi.
"KAK! CIA BERANGKAT YA!" Teriaknya dari ruang tamu, ia tak yakin kakaknya akan mendengar suaranya dari lantai dua apalagi jika Suga sudah berada di alam bawah sadarnya.
Lolicia berjalan menuju halte bis yang ada di dekat rumahnya. Dari rumahnya menuju kampus memerlukan waktu kurang lebih tiga puluh menit. Selama di bis, ia memilih untuk memainkan ponselnya beberapa saat sebelum sampai di kampus.
-TBC-
YOU ARE READING
Lolicia
Teen Fiction18+‼️ "Kamu gak pernah ngerasain yang namanya permen?" "Pernah, terakhir kali saat aku berumur dua tahun." Jawab Vante. "Mau?" Tanya Lolicia lagi. Vante mengangguk girang karena pada akhirnya ia bisa merasakan yang namanya permen lollipop lagi sete...
