Seorang gadis dengan tatapan santai tampak berjalan di bandara dengan menenteng koper kecil berwarna peach yang ia seret.
Gadis yang mengenakan topi dan masker itu tampak berhenti dan memainkan ponselnya. Tak lama kemudian sebuah taxi berhenti di hadapannya dan membawa gadis itu pergi menuju tujuan yang ia sebutkan pada supir.
Selama perjalanan kedua mata gadis itu tampak menyipit, hal itu berarti dia sedang tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum, namun tatapan matanya menunjukkan raut bahagia.
Setelah sekitar setengah jam perjalanan. Ia sampai di sebuah rumah yang sangat luas dan megah. Ia berjalan memasuki gerbang itu yang tidak di kunci. Dan ia kembali berjalan santai sampai di depan pintu masuk.
Ia mengangkat tangan kanannya yang tampak memegang remote kecil.
"Buka pintu," ucapnya pelan.
Dan pintu tersebut terbuka setelah ia mengatakan kata tersebut. Ya, rumah dengan gaya Eropa modern itu dapat menggunakan sensor suara untuk melakukan apapun.
Rumah buat para manusia yang hobby rebahan. Alias malas gerak.
"Kok sepi?" gumamnya pelan.
Ia melepas topi dan masker yang ia pakai. Kemudian menatap sebuah jam dimana menunjukkan pukul 10 pagi.
"Apa mereka sekolah?" lagi-lagi gadis itu bertanya dengan dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat, ia mengangkat bahunya acuh dan berjalan untuk mencari kamar agar ia bisa beristirahat. Rumah itu memang sepi karena hanya ada 2 orang yang tinggal di sana.
Namun tampaknya ke dua orang itu sedang bersekolah mengingat hari ini adalah hari Senin.
Setelah menemukan kamar, ia segera merebahkan dirinya tanpa melepas sepatu yang ia kenakan.
"Mereka pulang jam berapa ya?"
Gadis itu bangkit dan berjalan menuju cermin yang memperlihatkan tubuhnya karena cermin itu sangat besar.
"Aku yakin pasti mereka akan sangat marah, but its me, so bodoamat," ucapnya dengan senyuman bangga.
Selama menunggu, ia berjalan menuju ruang yang ia yakini dipakai untuk berdiskusi. Gadis itu tampak duduk tenang di sofa seraya memainkan ponsel pintarnya.
Tidak ada chat masuk ataupun panggilan ketika ia membuka ponselnya. Itu artinya orang rumah belum tahu jika ia kabur dan menyusul yang lain ke sini.
Sudah 2 jam ia menunggu, akhirnya gadis itu ketiduran di sofa. Tak lama kemudian suara mesin mobil yang terdengar sangat halus membuatnya membuka mata dengan perlahan.
Ia sudah dapat menebak bagaimana reaksi mereka ketika ia datang.
Pintu terbuka, menampilkan seorang remaja laki-laki yang memakai seragam dengan sangat tidak rapi.
"Hai," sapa gadis itu seraya berdiri dan tersenyum manis kepada dua orang yang masih berdiri di depan pintu dengan tatapan terkejut.
"By?"
Sedangkan pemuda yang satunya kembali memasang ekspresi dingin dan datar.
Ia berjalan santai ke arah Sakura dan menatap gadis itu tajam.
"Kabur?" tanyanya singkat.
"Yes, why?"
"Mamsky sama Papsky tau?" Satu laki-laki yang masih berdiri di depan pintu kini bertanya. Ia berjalan ke arah gadis itu dan menatapnya curiga.
"No," geleng gadis itu.
"Jangan bercanda, siapa yang menyuruhmu kesini?"
"Kenapa Sa? Memangnya kenapa kalau aku ke sini?" tantang gadis itu santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
BABYLA or SAKURA?
FanfictionSetiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap ada perpisahan pasti ada alasan. Setiap ada alasan pasti ada tujuan. Setiap ada tujuan pasti ada perjuangan.
