"Dosa apa mamah punya anak semacam kamu? Udah bandel, berisik, sifat player nya gak ketulungan lagi".
H A P P Y R E A D I N G🐾
***
Pagi hari yang cerah ini seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan apron yang melekat di tubuhnya kini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anaknya masih tidur nyenyak.
"AKSEENNNN BAANGUUNNNN!!!!". Teriakan menggelegar dari sang mamah membuat semua orang yang berada dirumah itu terlonjak kaget, ya kecuali pangeran tampan yang kini masih terlelap diatas kasur empuknya.
Karena kesal pada anak bungsunya yang tak bangun-bangun, akhirnya sang mamah pun masuk ke dalam kamar mandi lalu keluar dengan berbekal ember yang berisi air guna membangunkan anak bandelnya itu.
Byurrr!!
Sedangkan Aksen yang merasa basah pun menggeliat dalam tidur nya lalu bergumam "Kenapa si Chik? kamu mau putus?? Ya udah silahkan. Toh pacar aku bukan kamu doang hehehe".
Sang mamah yang melihat kelakuan anaknya pun menggeram kesal, ntah karena anaknya yang tidak bangun-bangun atau karena ucapan anaknya yang menjijikan menurutnya. Dia jadi tau bahwa anaknya itu memiliki jiwa-jiwa seorang playerr.
"Oke Sen, kalau kamu gak mau bangun. Gak bakal mamah kasih uang jajan lagi, auto kelaperan terus jadi gembel kamu tuh!". Ancam sang mamah, lalu beranjak pergi menuju ruang makan dimana suami dan anaknya yang lain telah berkumpul.
1...2...3...
Aksen langsung tersadar bahwa sang mamah tidak pernah main-main dengan apa yang pernah diucapkannya. Dia pun membuka matanya, lalu berlari mengejar sang mamah.
"Mah, maafin Aksen. Mah, jangan gitu dong ngancemnya. Aksen janji bakal bangun pagi mah". Ucap Aksen dengan tatapan memohon.
"Jangan percaya mah, dua hari yang lalu Aksen minjem uang Reno terus janji bakal balikin kemaren, tapi apa? sepeser pun gak dia balikin malah dia pura-pura lupa". Reno berkata dengan sikap acuh tak acuhnya.
"Aksen juga janji bakal gantiin komik Dafa yang dia rusakin dari seminggu lalu, tapi sampe sekarang gak ada tuh barang yang dijanjiin". Tambah Dafa dengan setengah tertawa, Dia memang selalu berperan sebagai kompor, dan itu juga kesenangan tersendiri baginya apabila Aksen bener-bener jadi gembel.
Aksen dengan refleks langsung menatap kedua abangnya dengan tatapan horor, jelas hal itu membuat Aksen kesal, kenapa kedua Abang nya itu harus ngadu pada sang mamah? sial! yang ada nanti hukumannya akan ditambah.
"Bang, please deh lu berdua jangan memperkeruh keadaan dong. Mah jangan percaya bang Reno sama bang Dafa tuh bohong mah". Aksen kini memeluk kaki sang mamah, menciumnya berkali-kali dengan memasang tampang seperti orang yang butuh belas kasihan. Hal itu membuat sang mamah iba, lain dengan ketiga mahluk Tuhan yang kini menatap Aksen dengan tatapan jijik.
"Iya deh mamah maaf-".
"Sayang jangan mudah percaya pada Aksen, dulu juga pernah janji sama aku gak bakal tawuran lagi, tapi kemaren aku dapet surat panggilan orang tua". Belum sempat mamahnya selesai bicara, dengan santai sang papah malah memotong pembicaraan.
Aksen yang mendengar itu langsung melotot pada papahnya yang malah menunjukan smirk mengejek, lalu mengalihkan pandangan pada mamahnya yang sudah memasang wajah garang. Tak butuh waktu lama, telinga Aksen langsung dijewer dan dirinya ditarik paksa menuju kamar mandi.
"Awww!!! mah ampun mah. Masa mamah tega si sama anak mamah yang imut ini, mamah ihh mah. Mamah kenapa narik Aksen ke kamar mandi? mamah mau ngapain? mah maaf mah, Aksen masih dibawah umur mah jangan diapa-apain mah". Jerit Aksen dramatis.
"Kurang ajar!!". Mamah Aksen pun lansung melepas jeweran ditelinga Aksen, jelas hal itu membuat Aksen tersenyum lebar. Namun senyum itu kembali luntur ketika melihat sang mamah dengan tangan yang sudah siap melayangkan tamparan.
Plakk!
Aksen mengusap pipinya yang terasa panas, sedangkan sang mamah tersenyum puas. Salah anaknya sendiri yang berani bicara kurang ajar seperti itu kepadanya.
"Sekarang kamu mandi, 15 menit harus udah ada diruang makan kalau kamu mau uang jajan kamu selamat". Mamah pun kembali ke dapur guna melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena ulah anaknya.
Tak mau membuat mamahnya kembali marah, Aksen pun langsung bergegas mandi lalu mengenakan seragam lengkapnya. Tak lupa menyemprotkan parfum dan menyisir rambutnya yang berantakan agar sedikit rapi, iya sedikit atau bisa dibilang masih tidak rapi.
"Ganteng banget si gue". Gumam Aksen dengan bangganya menatap bayang diri sendiri di cermin. Tak mau berbasa-basi lagi, Aksen langsung meluncur menuju ruang makan agar kanjeng ratu alias mamah tercinta tidak mengamuk lagi.
Tibanya Aksen di ruang makan, dia langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan sang mamah. Sedangkan disamping kirinya ada Dafa yang duduk berhadapan dengan Reno, dan sang papah sebagai kepala keluarga duduk menghadap semua anggota keluarga.
"Aksen, mamah harap kamu berubah nak. Dari masa SMP kamu sampai sekarang SMA ada saja surat panggilan orang tua. Kamu itu baru kelas 10, baru awal masuk SMA, harusnya kamu contoh Abang pertama kamu itu. Reno semasa sekolah SMP sampai sekarang kuliah, dia gak pernah tuh dapet surat peringatan". Ucap mamah yang kini menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Tentu saja ucapan mamahnya itu membuat Reno memasang senyum dan merasa bangga, Dafa dan papah yang tertawa terbahak-bahak tak lupa Aksen yang semakin menekuk wajahnya.
"Kamu juga Dafa, udah kelas 12 harus fokus belajar. Dan jangan sombong dulu kamu, walau pun kamu baru dapet surat peringatan sekali semasa sekolah kamu tapi masalah kamu itu lebih parah dari Adik kamu". Seketika tawa Dafa berhenti, Papah semakin kencang tertawa sedangkan Aksen dan Reno langsung memasang wajah penasaran. Jujur mereka tidak tau apa-apa tentang masalah Dafa.
"Emang Dafa ada masalah apa mah?". Akhirnya Reno berani bertanya karena rasa penasarannya, sontak Aksen langsung ikut mengangguk karena dia pun ingin tau.
Dafa langsung menatap mamahnya, khawatir mamahnya membocorkan masalah itu, dia bisa dijadikan bulan-bulanan oleh Reno dan Aksen.
"Mah Please jangan bocorin sama mereka mah". Mohon Dafa pada mamah yang hanya mengangkat bahunya. Dafa menghembuskan nafas lega ketika tau mamahnya enggan menjelaskan. Tapi,
"Jadi, waktu awal masuk kelas 7 SMP. Dafa pernah menyibakan rok kakak kelas 9 yang ternyata ketua OSIS di sekolahnya". Jelas sang papah dengan tatapan mengejek ke arah Dafa.
"Hah? serius?? bwahahahahaha". Reno dan Aksen langsung tertawa terbahak-bahak bersama sang papah. Mamahnya tak habis pikir dengan kelakuan sang suami yang selalu iseng pada anak-anaknya. Sedangkan Dafa malu dengan wajah memerahnya, ya karena menurut Dafa itu kejadian paling memalukan yang pernah dia alami.
"Sudah-sudah dari pada kalian telat, kalian mending bubar. Berangkat sekarang nanti kesiangan!". Karena tak mau ibu negara marah, mereka satu persatu pamit lalu berangkat ke kantor dan sekolah masing-masing.
🌺🌺🌺
Typo bertebaran:(
Jangan lupa tinggalkan jejak
Vote and comment🤗🥀
YOU ARE READING
Aksenio (ON GOING)
Teen FictionWelcome to my story🤗 Ini bukan cerita tentang badboy dengan sikap dingin, punya masa lalu kelam lalu luluh dengan gadis polos. Tapi ini adalah cerita tentang seorang Aksenio Geovano biasa dipanggil Aksen, seorang badboy humoris yang memiliki sifat...
