01. Lemparan Buku

21 3 0
                                        

"Dasar murahan!" bentak cowok itu kepada seorang cewek yang tak lain adalah Dini, teman sekelasku.

Namun Dini hanya menunduk,tanpa sepatah kata pun. Air matanya membasahi pipi mulusnya yang membuatku ingin sekali menghajar cowok yang berada didepannya. Namun, aku berusaha untuk menahan keinginanku.

Aku hanya melihat sekilas pada mereka. Kemudian,aku kembali sibuk dengan buku yang berada dalam tanganku.

Isakan tangis Dini yang semakin keras, membuatku menoleh lagi melihat cowok itu menjambak rambut Dini.

Aku sangat marah ketika melihat hal itu. Aku melempar buku yang tadinya masih berada ditanganku tepat dipunggung cowok itu. Dia berbalik badan menatapku dengan tajam.

Aku bangkit dari tempat dudukku,berjalan kearahnya dengan santai sembari memasukkan kedua tanganku kedalam kantong Rokku.

"Nama?" tanyaku.

Dia diam dan masih menatapku dengan tajam.

"Namanya siapa?"
tanyaku lagi sambil melihat satu persatu orang yang memerhatikan kami.

" Ga--Garel" jawab salah seorang diantara mereka.

"Oh, jadi nama kamu Garel?!" tanyaku dengan nada sedikit meninggi.

" Ini peringatan buat kamu. Jangan mengganggu cewek! Ngerti nggak?!" bentakku kemudian melangkah meninggalkan kelas.

"Apa urusan Lo sama gue ha?".

Aku berhenti sebentar, kemudian kembali melanjutkan langkahku. Aku berusaha menahan emosiku.

Tapi lagi lagi dia memancing amarahku, sehingga mau tidak mau aku berbalik badan. Mencengkeram keras kerah bajunya.

"Sialan!". Aku melayangkan tinja pada pipi kanan dan pipi kiri mulusnya.

Namun anehnya, cowok yang bernama Garel itu tidak mau melawan sedikit pun.

"Cepat lakukan lagi! Lakukan sampai kamu puas!" bentaknya padaku.

Mendengar kalimat itu, aku berhenti dan melepaskan kerah bajunya.

Aku melangkah berniat meninggalkan Garel dan semua orang yang memerhatikan kami. Namun, Pak Aldi tiba-tiba datang dan menanyakan perihal yang terjadi.

Pak Aldi sekilas memerhatikan wajah Garel yang memerah akibat terjadinya pukulan. Kemudian, Dia mengangguk bertanda mengerti.

"Seira" panggil Pak Aldi padaku.

"Ada apa Pak?" tanyaku berpura pura.

"Kamu masih bertanya ya, Ha? Kamu pikir kamu sudah hebat di sekolah ini, sehingga semena-mena kamu bertingkah di sekolah ini."

"Tap---"

"Tidak ada tapi-tapi! Yang jelas kamu sudah salah" potong Pak Aldi.

Aku sungguh ingin melayangkan tinju ke wajah Pak Aldi. Namun, aku masih waras dan masih menghormatinya sebagai Guruku.

"Sekarang, kalian berdua ikut saya" tegas Pak Aldi.

____

Aku memunguti sampah yang berceceran di belakang Gerbang sekolah. Begitu juga dengan Garel. Tapi jarak kami memang agak berjauhan sehingga kami tidak saling bicara.

"Seira" panggil seseorang padaku yang membuatku sedikit tersentak.

Aku menoleh ke sumber suara yang tepat berada dibelakangku.

"Oh, Fajar ada apa?" tanyaku.

"Nanti, kita pulang bareng.oke?"

"Tap---"

"Woi cepetan bersihin sampahnya! Jangan cuma pacaran!" bentak Garel memotong pembicaraan Seira.

"Lo bisa diem nggak?! Ha? Gara-gara lo gue jadi dihukum!" balasku sambil melempar keras keranjang sampah yang tadinya berada ditanganku.

Dia menatapku dengan tajam kemudian berjalan kearahku. Kubalas balik tatapannya dengan tajam tak mau kalah.

"Sekalian aja lemparin keranjangnya ke muka gue! biar lo puas.!"

Mendengar kalimat itu membuatku sedikit menunduk.
Dengan segala keberanian, kuangkat kepalaku.

"Lo mau ngajak ribut lagi ya?!" balasku.

"Gue nyesel ketemu cewek kayak lo.!"

"Gue nyesel ketemu cowok kayak lo.!"

Kemudian aku pergi membawa keranjang sampah yang tergeletak di tanah.

Sementara Fajar dan Garel masih mematung memerhatikan kepergianku.

"Ga---"

"Apa.!" memotong pembicaraan Fajar.

"Gue pergi!" jawab Fajar dengan ketus.

" Siapa yang izinin lo pergi? Ha? "

Fajar berhenti dan berbalik badan menatap tajam mata lawannya itu.

"Lo nggak boleh jalan sama cewe tengil itu. Kalo nggak lo bakal kena akibatnya.! ancam Garel kemudian pergi meninggalkan Fajar.

" siapa sih, sewot amat! "

---

Fajar masih melaksanakan hukumannya, memunguti sampah yang berceceran di belakang gerbang sekolah.

Sesekali ia melirik Seira yang memasang wajah kesal. Tanpa sadar ia mengulas senyum pada bibir merah mudanya.

"Apa lo liat-liat?!" tanyaku dengan suara lumayan meninggi.

"Idih, GR amat sih!"

Jawab Garel memalingkan wajahnya karena malu.pipinya memerah karena tertangkap basah.

Ingatkan kalo ada typo kk 😀😁

Jangan lupa like dan komen biar makin semangat ngetiknya 😅😃




Tomboy Penakhluk SiBerandal Where stories live. Discover now