"Hidup yang baik bukan didapatkan dari hasil yang instan, tapi melalui proses"
“
Wah…. Akhirnya sampai” celetukku sembari mengambil gambar di hadapanku menggunakan kamera.
Puncak Tambora masih sore dan suhunya berada di lima derajat Celcius. Aku dapat melihat uap yang keluar dari mulutku. Setelah berpuas mengagumi keindahan alam, aku segera bergegas membantu teman-temanku untuk mempersiapkan perlengkapan tenda yang akan kami bangun. Kami melakukan kegiatan yang sudah direncanakan. Setelah beberapa jam, akhirnya semua kerjaan kami beres. Langit di Puncak Tambora sudah berubah warna menjadi biru gelap. Bulan dan bintang-bintang mulai bertaburan mempercantik langit.
“Amanda… sini”panggil Arifin di depan sana. Bergegas aku mendekatinya dan duduk disampingnya.
“Bagaimana? Engga rugikan kemari”tanyanya
“Engga rugi sama sekali. Ini benar-benar subhanallah banget.”Pujiku tak lupa dan ucapan syukur kepada sang pencipta atas ciptaanya.
“yang lain pada kemana?”tanyaku pada Arifin yang berada disebelah kananku.
“Itu. Di sebelah sana”sahutnya sembari menunjuk ke kiri arah kiri ku. Buram, hanya itu yang bisa aku lihat. Ah, aku melupakan kacamata ku. Tapi aku mengangguk, seolah mengetahui apa yang ia tunjuk. Satu hal yang aku ketahui bahwa tempat ini sangat indah. Puncak Tambora merupakan salah satu destinasi yang berada di Sumbawa, NTB yang wajib dikunjungi.
Aku sangat bersyukur dapat melihat ciptaan-Nya. Benar-benar menakjubkan. Mungkin, tuhan menciptakan ini saat sedang tersenyum bahagia sehingga pemandangan ini sangat sayang untuk dilewatkan.
“Menua Bersama yuk Nda”celetuknya memecahkan keheningan yang ada.
“Yuk! Tapi 6 tahun lagi”
“Kenapa harus 6 tahun lagi, kamu sekarang aja masih 21 tahun. Yang benar saja kamu”
“Kenapa? Aku tuh masih menempuh S1, tentunya aku masih mau melanjutkan S2 bahkan S3 ”
“Kenapa harus S2 dan S3?”
“Kenapa? Emang ada masalah kalau aku masih mau menempuh pendidikan.”
“Iya, ngga masalah. Tapikan nanti kamu akan berakhir di dapur juga”
“Kenapa sih kamu berfikir seperti itu. Kamu tahu Fin? Aku paling benci orang yang berfikiran seperti itu”Arifin tak menyahut.
“Pendidikan itu sangat penting bagiku, Fin. Bukan karena aku menganut feminisme. Tapi karena aku ini perempuan, yang nantinya akan menjadi guru pertama bagi anak-anakku. Kamu tahu Fin? Menurut medis, gen ibu sangat mempunyai peran penting dalam menyumbangkan kecerdasan anak. Jadi aku mau memberikan yang terbaik untuk anakku.” Aku berhenti sejenak memandang kearahnya untuk melihat reaksinya.
“Perempuan itu tugasnya tidak cukup satu, Fin. Aku harus mengatur keuangan rumah tangga, menjadi dokter pribadi, menjadi juru masak bahkan menjadi penasehat. Semakin banyak yang aku ketahui, bukannya aku dapat menjalankan peran dengan baik?”
“Tapi, aku kan ada, Nda!”
“Kamu. Ketika kamu sedang mencari nafkah diluar sana. Apakah kamu tahu apa saja yang terjadi selama kamu tidak ada? Engga kan. Pada akhirnya aku juga yang menjalankan perannya”
Mimiknya mulai berubah, “Tapi, dengan pendidikan yang tinggi tersebut, kamu hanya menjadi seorang ibu rumah tangga, itu ngga mungkin. Pada akhirnya kamu akan memutuskan menjadi wanita karir?”
“Kok ini mulai melebar kemana-mana sih. Kamu takut aku akan menjadi wanita karir yang tidak menjalankan peran Istri dan ibu bersamaan? Atau kamu takut diremehkan? Lucu”
“Aku bukan meremehkan kamu, Nda!. Aku hanya takut jika suatu saat kamu tidak mengingat peranmu dan akhirnya rumah tangga kita yang menjadi korbannya.”
“Aku ngga serendah itu untuk tidak mengingat peranku, Fin. Engga semuanya wanita karir seperti itu. Menjadi seorang istri dan ibu merupakan cita-cita dari semua perempuan, Fin.”
Arifin hanya tersenyum, entah karena apa. Aku sendiri hanya memandang sekitar hamparan bukit. Aku bangkit dari duduk ku menuju teman-teman yang sedang berkumpul dengan suara petikan menemani malam ini. Aku memilih duduk di sebalah kanan Ayu yang sedang membakar jagung. Aku melirik jam tangan di pergelangan tangan kananku, baru jam 23.30 WIB. Kami memutuskan memasuki tenda untuk menyaksikan golden sunrise di Puncak Tambora esok pagi.
***
“Brrr…. Dingin banget disini”celetukku sembari meraih kamera dan syal dalam tenda tak lupa memakai jaket untuk membalut tubuh mungilku.
Puncak Tambora masih subuh dan suhunya berubah menjadi minus tiga puluh derajat Celcius. lebih dingin daripada kemarin. Cukup untuk membuat tubuhku yang dibalut lima buah jaket perlahan menggigil, Tapi aku harus bergegas meninggalkan tenda demi bisa menyaksikan golden sunrise.
Aku segera mengambil posisi setelah memastikan arah matahari terbit melalui kompas yang ada di ponselku. Naik ketempat yang lebih tinggi, merebut posisi beberapa rombongan. Sepuluh menit sebelum semburat keemasan mulai menampakan diri dari balik kabut tebal. Golden sunrise Puncak Tambora, I'm coming!
Seketika kameraku berduet dengan kamera Arifin untuk mengabdikan setiap inci cahaya matahari yang tampak. Perlahan tapi pasti kabut mulai menghilang dan pemandangan yang tersaji, subhanallah banget.
Arifin mendekat, menarik tanganku ke dalam kantong jaketnya. “Amanda aku akan menunggu mu 6 tahun lagi. Kita sama-sama berproses yuk, untuk menjadi contoh buat anak kita kelak”
"Kamu nggak takut aku jadi wanita karir"ledekku menatapnya
"Enggak. Jika kamu memutuskan untuk menjadi wanita karir, aku tetap percaya kalau kamu enggak mungkin menelantarkan rumah tangga kita kelak"jawabnya sambil merengkuh tubuhku kedalam pelukannya. "Jadi, ayo! berproses bersama menjalani hidup dengan baik."
Aku mengangguk dan tersenyum mendengarnya, perlahan tapi pasti kami menikmati golden sunrise kali ini. Arifin menghadap ke arahku, tersungging senyum di bibirnya. Tangannya sibuk mengacak-acak rambutku menjadi berantakan. Aku terkekeh, ku layangkan pukulan di bahunya. Dia selalu penuh kejutan dan itu selalu berhasil. Tak terkcuali hari ini.
End
****
Gimanaaa ceritanya????? Jangan lupa vote disebelah kiri dan comment disebelahnya yah Teman-teman. Nah yang nanya kapan (Not) Couple update, sabar yah aku lagi nyari ide wkwk. Ternyata mentok akunya.
Sambil menunggu (Not) Couple update, kita baca cerpen dulu yuk. Hahahaha 🤣🤣🤣
Nah jadi Tambora itu salah satu tempat yang cocok banget melihat golden sunrise selain Dieng, apalagi sebelum sampai ke puncaknya kita dapat menikmati Savana yang sangat luas. Di Tambora sendiri sudah bisa naik kendaraan untuk mencapai puncak Tambora.
Terimakasih telah membaca 😉
Rdinad
KAMU SEDANG MEMBACA
C E R P E N
Cerita PendekKumpulan cerita pendek yang dapat dibaca. *** Cuplikan salah satu cerpen "Menua Bersama yuk Nda"celetuknya memecahkan keheningan yang ada. "Yuk! Tapi 6 tahun lagi" "Kenapa harus 6 tahun lagi, kamu sekarang aja masih 21 tahun. Yang benar saja kamu" "...
