Reyhan Aryasetya (Rey), adalah seorang pemuda berusia 28 tahun yang terlahir dengan kekuatan spiritual yang sangat kuat. Hal ini menjadikannya sebagai penerus terakhir Keluarga Aryasetya yang secara turun-temurun ditugaskan untuk menangani berbagai...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PROLOG - MOBIL-MOBILAN DYLAN
.
.
.
YAYASAN RUMAH DUKA JAKARTA BARAT
Pukul 23.24
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam di sebuah Rumah Duka yang berada di daerah barat Ibukota. Hari semakin larut, suasana sedih dan suram kian beralih menjadi sunyi. Namun tidak sama halnya dengan sebuah ruang duka paling besar yang berada di tengah-tengah lantai dua.
Jeritan tangis seorang perempuan menggema di sepanjang koridor rumah duka itu.
Seorang pemuda berpakaian serba hitam berusia sekitar dua puluh delapan tahun duduk di lantai menemani seorang ibu yang sedang menangis histeris di depan peti mati seorang anak laki-laki bernama Dylan. Tangan pemuda itu menggenggam sebuah mobil-mobilan kecil.
Pemuda itu berkata, "Dylan sudah tidak ada di ruangan ini Bu... Ia sudah berangkat menuju tempat yang seharusnya..."
"TIDAAKKK!!! DYLAAANNN!! DYLAANNNN!! MAMI DI SINI NAKKK!! BANGUN!! BANGUN NAKKK!!"
Sampai kapanpun seorang ibu tidak akan pernah sanggup merelakan kepergian darah dagingnya sendiri.
Di saat beberapa sanak saudara mencoba menenangkan sang ibu yang masih menangis histeris, seorang kakek berjalan menghampiri pemuda itu dan menggenggam kedua tangannya. Kakek itu berkata, "Terima kasih sudah membantu kami... Terima kasih sudah menyampaikan pesan terakhir Dylan untuk kami..."
Pemuda itu menyerahkan mobil-mobilan kecil yang ia genggam dan menjawab dengan senyuman, "Sama-sama Pak. Tolong kubur mobil-mobilan kesayangan Dylan ini bersama dengan jasadnya nanti. Itu permintaan terakhir yang Dylan sampaikan sebelum pergi."
Kakek itu mengangguk dan mulai menangis memeluk putrinya yang masih tidak terima dengan kepergian anak berusia sepuluh tahun bernama Dylan itu.
Setelah mengucapkan terima kasih, sang pemuda segera berpamitan kepada kedua orang tua yang sedang berduka itu. Sebelum keluar, ia menyempatkan diri untuk melihat tubuh mungil Dylan yang terbaring kaku di dalam sebuah peti mati berwarna putih untuk terakhir kalinya. Pria itu tersenyum dan mengucapkan salam perpisahan, "Selamat jalan Dylan. Berangkatlah dengan tenang."
Di dalam ruang duka tersebut terdapat beberapa sanak saudara Dylan yang masih duduk. Sebagian dari mereka menatap dengan ekspresi bingung siapa sebenarnya pemuda ini. Namun tidak ada yang berani bersuara alih-alih menanyakan siapa dirinya dan apa hubungannya dengan Dylan.
Setelah keluar dari Ruang Duka, pemuda itu segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang, "Halo... Kamu sudah di parkiran?"
Terdengar suara perempuan menjawab dari ponselnya.
["Sudah nih. Yuk buruan pulang! Banyak yang mulai lalu lalang menghampiri mobil kita nih!"]
Pemuda itu tersenyum sambil berjalan menelurusi koridor rumah duka menuju tempat parkir, "Yaah biarin saja lah, selama mereka tidak mengganggu."
Di area parkir yang ada di lantai dasar sudah menunggu sebuah mobil Brio berwarna putih dengan lampu menyala. Di kursi pengemudi duduk seorang perempuan berambut sebahu mengenakan kacamata dan kaos berwarna biru tua. Pemuda itu pun langsung menghampiri mobil yang sudah menunggunya, membuka pintu penumpang yang ada di samping kursi pengemudi, dan langsung duduk di dalam.
"Akhirnya selesai! Yukk pulang.. Aku udah ngantuk banget nih.." Ucap pemuda itu.
Wanita itu mendengus dan protes, "Rey Aryasetya! Kamu lama sekali sih? Mereka itu sudah lalu lalang mengelilingi mobil kita. Kalau lewat dari jam dua belas malam, pasti ada satu atau dua yang mau ikut kita pulang!"
Pemuda yang akrab dipanggil Rey itu menghela napas, "Sorr-sorry Far... Semula anak itu tidak mau meninggalkan ibunya. Ia terlihat bingung dan masih nggak bisa menerima apa yang baru saja menimpa dirinya."
Wanita itu menghela napas dan berkata, "Malang sekali nasib anak yang bernama Dylan ini. Padahal usianya baru sepuluh tahun."
Rey mengangguk,"Iya. Kejadian terakhir yang ia ingat adalah saat sedang bermain sepeda sendirian tepat di depan rumahnya. Tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi lalu semuanya berubah jadi gelap."
Wanita itu bertanya, "Dylan yang menceritakan semuanya ke kamu?"
Rey, "Tidak. Aku melihat sendiri kejadian itu saat berkomunikasi dengan Dylan tadi."
Wanita itu menghela napas dan berkata, "Semoga setelah ini Dylan dapat beristirahat dengan tenang yah... Yuk kita pulang sebelum nenek-nenek yang ada di depan jendela kamu itu mau ikut kita."
Rey kembali bertanya, "Hah? Nenek-nenek?"
Wanita itu mendengus agak kesal, "Pasti kamu sudah menutup mata batinmu deh! Tuh.. Itu di samping kamu dari luar jendela, ada seorang nenek-nenek yang sedang melongok ngelihatin kamu..."
Pria yang bernama Rey itu menjawab sambil tersenyum, "Ah iya! Tadi setelah berpamitan dengan Dylan aku langsung menutup mata batinku. Kita nggak perlu melihat mereka yang bukan menjadi urusan kita, 'kan?"
Wanita itu menghela napas, "Iya juga sih.. Tapi ada saat nya kita harus hati-hati 'kan? Lagipula sebagai se-..."
Rey pun ikut menghela napas, "Iya-iya Farah... Kamu pasti mau bilang, sebagai seorang Aryasetya, kita harus lebih mawas terhadap situasi di sekitar kita...bla bla bla... Tapi... rasanya cukup untuk malam ini.. Aku nggak mau bertemu dengan mereka.. Aku mau istirahat..."
Farah, "Yasudah, yuk pulang... Jangan lupa pake seatbelt! Itu di belokan sebelum masuk Pintu Tol biasanya suka ada polisi yang berjaga-jaga!"
Rey, "Iya.. Iya.. Kamu lebih takut sama polisi dibandingin sama nenek-nenek yang di depan jendela yah?"
Farah, "Ya iyalah! Nenek-nenek itu nggak bisa menilang kita Rey, tapi kalo sampai kita di-stop polisi karena kamu lupa pakai seatbelt, kita bakalan repot ngurusin proses tilangnya. Jelas aku lebih takut sama polisi di Jakarta."
Rey, "Benar juga... Ya sudah, yuk pulang... Aku ngantuk banget nih. Ngebut yah!"
Farah, "Kalo mau ngebut, gimana kalo kamu aja yang nyetir?"
Rey, "Hah? Kamu ngomong apa? Koq aku mendadak nggak dengar apa-apa?"
Farah menatap Rey dengan raut jengkel. Lalu mobil putih itu segera keluar dari area parkir rumah duka dan melaju dalam keheningan malam.
.
.
.
- PROLOG - MOBIL-MOBILAN DYLAN, Selesai -
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.