Putih. Lebih tepatnya terlalu putih dan hampir semuanya putih. Ini kelainan, bukan untuk dijadikan bahan candaan.
Aku masih memandangi cermin yang menampilkan pantulan bayangan diriku, kami saling bertatapan. Lebih tepatnya hanya aku yang menatap diriku sendiri. Memang gaje, tapi aku sudah biasa seperti ini. Terus memandangi cermin apakah kulit ini akan berubah warna? Tentu saja tidak.
Aku adalah remaja laki-laki berusia 16 tahun yang memiliki kelainan pada kulit yang kekurangan pigmen melanin yang ada dalam tubuhku. Sebut saja Albino. Bukan Alibaba atau Alfafa sekalipun.
Hampir semua orang yang berjumpa denganku akan menyebut diriku dengan Albino. Itu memang fakta, tetapi aku merasa risih jika kalian terus menyebutku dengan kata itu dan terus memperhatikanku dengan heboh. Memangnya aku manekin pajangan yang ada di setiap supermall?
Toktoktok
Ibu membuka knop pintu kamarku pelan kemudian perlahan berjalan kearahku dengan senyuman khasnya. Tiba-tiba dia merengkuhku erat dan aku pasti membalas rengkuhannya. Ibu melepaskan rengkuhannya kemudian mengecup pipiku singkat.
"Rion, ibu senang sekali akhirnya kamu bisa masuk disekolahan umum lagi setelah 4 tahun menunggu, semoga mereka menerima kedatanganmu dengan senyuman" Ibu mengucapkan itu tanpa beban kemudian aku menganggukkan kepala menyetujui ucapannya. Ibu mengusap rambutku pelan, aku memejamkan mataku merasakan usapan pada rambutku.
"Kamu udah selesai siap-siapnya? Kalau udah kita turun kebawah, sarapan sama yang lain" Ibu mengajakku ke lantai bawah menuju ruang makan yang sudah diisi dengan keluargaku yang lain.
"Kakak!"panggil Eisha, adik perempuanku yang masih berumur 14 tahun.
"Jangan teriak-teriak, gak boleh sayang" Aku mengingatkannya agar tak terlalu menguatkan suaranya. Dia hanya mengangguk lucu menanggapi ucapanku. Ayah tersenyum melihat apa yang telah aku ajarkan pada Eisha.
"Rion, bagaimana perlengkapan sekolahnya, Gak ada yang kurang kan?"
"Semua sudah lengkap , Yah. Tinggal berangkat ke sekolah saja"
"Baguslah, semoga kamu suka dengan sekolah barumu, Nak!" Aku tersenyum menanggapi omongan Ayah, semoga saja.
Sekolah
Aku turun dari mobil milik Ayah kemudian menyalaminya. Ternyata sekolahnya tak seburuk yang kubayangkan, tapi tidak tahu dengan isinya. Bangunan sekolah ini terlihat kokoh tampak seperti sekolah pada umumnya, hanya saja mungkin sekolah ini lebih elite dan pastinya fasilitasnya lebih lengkap dibanding sekolah biasa yang lain. Jangan heran jika rata-rata para siswa/i disini yang bersekolah disini adalah anak-anak menengah ke atas, termasuk aku.
Aku mulai berjalan perlahan menuju gerbang utama dari sekolah ini. Beberapa siswa menatapku intens, heboh dan semacamnya. Apa mereka belum pernah melihat orang sepertiku? Dasar norak.
Kakiku terus melangkah mencari dimana letak ruang kepala sekolah, sebenarnya bisa saja aku bertanya pada mereka. Tapi nanti berujung mereka pasti akan bertanya kenapa kulitku terlalu putih? Basi sekali.
Dug!
Bodoh. Apa aku terlalu putih sampai dia hampir tak bisa melihat badanku yang cukup tinggi ini?
Aku membantunya berdiri dengan menyodorkan sebelah tanganku padanya. Dia meraihnya, tangannya sibuk membersihkan rok abu-abunya yang sedikit kotor.
"Ish, rok gue jadi kotor kan, baru juga dicuci kemarin" Ucapnya sebal, aku memandangnya datar tak berekpresi.
"Maaf" Aku kemudian berlalu pergi meninggalkannya. Dia kemudian berteriak memanggilku dengan kencang seolah-seolah hanya dia dan aku yang ada disini. Para murid lain juga melihat kearah kami. Aku mendengus kasar melihat kelakuan bodohnya.
YOU ARE READING
ALBINO
HumorAlbino. Arion benci dengan orang-orang yang memanggilnya dengan kata itu. Padahal dia punya nama. Apa karna kelainan yang dimilikinya semua orang berhak memanggilnya dengan sebutan Albino. Jika waktu bisa berputar kembali, Arion pasti tidak ingin di...
