Bagian Satu - Aku kenapa?

5 3 0
                                        

Gamang, hampa, marah.
Aku ini kenapa?

~satu~

Terhitung sudah tiga hari sejak aku merasa hambar dengan segala kegiatan yang kulakukan, tetapi hingga akhir ini aku belum menemukan apa yang menjadi alasannya. Aku tetap menjalani keseharian secara normal, tetapi tidak lagi memaknainya dengan baik. Seakan ada satu hal yang pergi hingga aku merasakan kecewa yang teramat dalam.

Saat ini aku hanya mampu diam dengan mata yang memandang lurus kepada bayangan di cermin itu. Menatap mata bernetra cokelat yang selalu membuatku mengingat akan satu perihal. Aku bertanya lewat mata kepada diri sendiri, tentang apa yang terjadi dan yang ingin dilakukan. Namun, lagi-lagi aku tak mengerti dengan diriku sendiri.

Karena merasa semuanya akan sia, aku memutuskan untuk keluar dari kamar setelah yakin laptop yang sedari tadi berada di pangkuan sudah mati. Saat membuka pintu, kudengar dengan sayup-sayup keributan di lantai dasar. Hal yang sudah sangat sering terjadi mengingat rumah ini dihuni oleh setengah dari keluarga besarku. Teriakan dari sepupu kecil serta ocehan para tante membuat aku kembali merasakan kehambaran. Karena itu aku berhenti di anak tangga ke lima demi memaknai apa yang aku rasa dengan khusyuk.

"Astaghfirullah!"

Aku menoleh, terlihat Keiza—sepupu perempuanku—berdiri di dekat pintu penghubung dengan tangan yang berada di dada. Mudah terkejut adalah khasnya, tak peduli ini siang atau malam dia akan terkejut meski hanya mendapati seseorang berdiri di tempat yang tak lazim.

"Kau ni suka sekali bikin orang kaget, Kak!" ujarnya dengan nada kesal.

Aku hanya diam sembari melanjutkan langkah. Ketika berada di depannya tangan kananku terayun dan memukul pelan keningnya. "Lebay!"

Setelahnya aku berlari ke ruangan lain, mencari sosok bayi yang kupastikan sudah terbangun dari tidur pagi. Baru melewati ruang makan, aku sudah bertemu dengan bunda—salah satu tanteku—yang tengah berjalan dari arah lawan dengan ponsel di tangan.

"Apip mana, Bun?" tanyaku.

Bunda berhenti di depanku dengan pandangan yang tak terlepas dari ponsel pintarnya. Bunda bukan tipe emak-emak gaul yang gemar menghabiskan waktu dengan bermain ponsel, dia hanya buka hape berwarna merah itu untuk dua hal, suntuk atau jualan. Selain menjaga anak tetangga, bunda juga membuka usaha jual pulsa. Maka dari itu di rumah ini bisa dikunjungi beberapa orang dalam sehari, mereka adalah pelanggan tetap bunda.

"Bun," panggilku lagi.

"Ada di kamar dia, Kak."

"Sendiri?" Seingatku Rafif masih berusia sebelas bulan yang mana suka mengambil barang karena penasaran. Meninggalkan anak usia segitu membuatku bergidik ngeri.  Bagaimana jika bayi lucu itu malah kenapa-napa?

"Enggak, ada Akbar di dalam. Sana lihatin, Kak!"

Tanpa menjawab aku langsung bergegas menuju kamar. Berada di dekat anak kecil mungkin bisa membuatku lebih tenang, meski jika mendapat lontaran pertanyaan mengenai ingin nambah adik atau tidak aku akan menyerukan kata tidak. Bagaimana aku mau mengizinkan lagi jika adikku saja sudah hampir setengah lusin?

"Uhuy, Apip jelek lagi main apa ini?"

Kulihat senyumnya merekah kala melihatku, kedua bola matanya berbinar melengkapi wajah bahagia. Kedua tangan yang ia angkat langsung kusambut dengan suka rela. Aku mengangkat bayi gembul itu dengan senyum yang lebar, sesekali aku berbicara mengenai hal ringan yang dibalasnya dengan tawa atau bahkan menyebutkan sepatah kata abstark. Namun, aku terdiam saat tanpa sengaja berdiri tepat di depan cermin. Kulihat diriku yang lain tengah memandang dengan sorot menyebalkan. Aku hampir berteriak saat tangan kecil mengusap pipi.

"Ngis ... ngis."

...

"Bye, Apip!"

Jam menunjukkan pukul lima sore yang mana bocil tadi harus pulang ke rumahnya. Saat kembali melangkah ke dalam, teriakan dari Akbar membuatku kembali menoleh ke arah luar. Tak ada yang menarik, hanya ada dua sepupu kecilku—termasuk Akbar—dan dua orang saudara Rafif yang masing-masing tengah duduk di atas sepeda mereka.

"Ada apa, Bar?"

Akbar menoleh ke arahku, lalu tangan kanannya menunjuk ke mobil yang terparkir di dekat rumahku. "Ada orangnya,  Kak."

Aku terdiam sesaat, hal yang selalu aku lakukan setiap berbincang dengan para anak kecil di rumah. Aku memahami perkatannya yang mengatakan kalau di mobil itu ada pemiliknya. Baiklah, lalu apa yang janggal?

"Yang punya? Yaudah jangan diganggu."

Lalu sepupuku yang lain menggeleng. "Bukan itu Kak Ina, tadi orangnya foto-fotoin kami sama rumah kita!"

Lantas mataku membulat. Teringat rumor kemalingan yang baru terjadi akhir-akhir ini di dekat perumahan baru. Tanpa menunggu lama aku langsung memberi perintah agar keempat anak kecil itu untuk kembali ke rumah masing. Mereka tampak manut setelah Akbar menjelaskan kabar penculikan yang ia dengar dari akun YouTube, padahal yang tadi diceritakan bocah gempal itu adalah prank. Tak apalah, setidaknya aku sudah berhasil menjaga mereka kali ini.

Setelah memastikan anak-anak tadi sudah tidak lagi berkeliaran di luar rumah, aku kembali meneliti mobil besar berwarna hitam mengkilap. Meski sering melihat mobil yang melintas, aku masih kesulitan untuk membedakannya. Selain karena tak tahu apa jenis mobil itu, aku juga tidak bisa menghapal nomor platnya karena tidak mengenakan kacamata.

"Kok udah pada masuk, Kak? Ko marahin, ya?"

Tanpa menoleh aku sudah tahu itu suara siapa. Perempuan yang masih sedarah dengan mama dan bunda, ibu. Tubuh pendek—khas perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu—tengah menggendong putra bungsunya yang terlihat seperti baru bangun tidur. Nayaka menatapku dengan tatapan biasa, tetapi kubalas dengan pelototan.

"Apa kau!"

Mengusili balita itu memang paling mengasyikkan. Cukup dengan membuatnya menangis atau marah, maka aku akan terbahak hingga perut kram. Di saat suntuk seperti ini aku sangat membutuhkan hal semacam itu untuk mengalihkan fokus.

"Buk, Ina ahat." Dia mengadu dengan derai air mata. Di dalam hati aku menghitung sampai tiga seraya berjalan mundur dengan pelan. Hingga hitungan ke tiga telingaku mendengar tangisannya disertai omelan ibu yang kujawab dengan suara tertawa.

"Dia baru bangun, Dina!"

Aku masih tertawa saat menyadari mobil tadi melintas. Pagar tinggi yang tertutup sedikit menghalangi pandanganku, bahkan untuk mengintip nomornya saja aku tak mampu. Karena merasa mobil itu semakin melaju, aku lantas berteriak, "Buk lihat BP-nya cepat!"

Aku memang sekurang ajar itu menyuruh orang tua dengan teriakan, tetapi hal itu sudah sering terjadi sejak tante bungsuku ini merecoki aku selayaknya teman. Hal buruk yang tak pantas ditiru.

"Tiga empat enam ... berapa, ya, itu?"

Ah, gawat. Wanita setengah tua itu juga tidak dapat membacanya dengan baik. "Sini Bu liat! Mobilnya masih ada kok itu."

Aku juga sebenarnya tidak tahu mengapa ingin sekali mengetahui identitas mobil itu. Mungkin saja untuk berjaga-jaga bisa menjadi alasan yang tepat untuk saat ini. Karena keinginan untuk mengetahui sosok di balik kemudi itu kian menguat meski hanya melihat sekilas.

~Sampai jumpa di dua~

Yeah, ini cuma curhatan tentang keseharian aku. Kritik dan saran bisa kalian tuang di kolom komentar atau DM❣️

Even If {Slow update}Stories to obsess over. Discover now