Prolog

67.4K 1.3K 31
                                        





Seharusnya mereka tidak di sini.

Seharusnya Arsesha Angeline Wibisono pulang ke rumah. Meski tidak ada yang menyambutnya. Meski tidak ada yang menemaninya makan malam. Meski tidak ada yang menanyakan bagaimana harinya.

Tapi sepulang pemotretan, Sesha justru melipir ke club setelah memergoki ayahnya dengan seorang wanita. Sesha marah. Ia butuh pelampiasan. Selain merokok, alkohol adalah pelarian paling sederhana. Lalu Anta—pacarnya yang berprofesi sebagai fotografer—menyusul dan mereka bertengkar karena Sesha tidak membalas pesan, bahkan mengangkat telepon dari pria itu. Tapi alih-alih tonjok-tonjokkan, mereka justru berbagi napas, sampai kemudian pelan-pelan hawa nafsu mengusai, dan berakhir lah mereka di sebuah hotel.

"Kamu tahu aku di club dari siapa?" tanya Sesha dengan suara serak, setelah digempur habis-habisan oleh Anta.

Pria yang usianya sepuluh tahun lebih tua darinya itu mengulurkan tangan—menyingkirkan helai rambut Sesha dan diselipkan ke belakang telinga. "Aku selalu tahu ke mana kamu pergi."

"Dan kamu akan selalu ikut sama aku?" pancing Sesha.

"Tentu." Anta merapatkan tubuh, dipeluknya Sesha dengan penuh kasih. Ia kecup puncak kepala gadis itu beberapa kali. "I love you. Today, tommorow, and always. I hope we stay together until our hair turns gray and our eyesight begins to fade." Sesha mendongak menatapnya. Anta memarkirkan kecupan lembut di kening gadis itu.

Sesha memejam merasakan sentuhan bibir sang kekasih.

Hanya dengan ciuman dan kalimat hangat, ia merasa teryakinkan.

Padahal biasanya yang meyakinkan selalu berakhir mengecawakan.









[]


Cerita lama yang ditulis ulang dengan versi baru.

Siap berlayar bersama Bapak Menteri dan Mbak Model?

Ayo komen yang banyak, biar aku semangat nulisnya.

Unfinished Business [Completed]Stories to obsess over. Discover now