pilot

114 3 2
                                        

Suara bel pintu flatnya tak terdengar oleh pendengaran telanjangnya karena telinganya ia pasang headset dengan volume kencang sembari menyelesaikan lukisannya.

Tangannya mengarahkan kuas ke komponen lukisan yang ingin ia beri warna, sesekali jari-jarinya mencoba merapikan warna-warna yang sekiranya melewati objek.

Ia masih tidak menyadari ketika seseorang mulai mencoba memasukkan password dan pintunya berhasil dibuka.

Tubuhnya bergidik ketika ia merasa ada yang menyentuhnya.

Ia tak dapat menghindar untuk tak berteriak saat menoleh ke belakang mendapati orang yang menyentuhnya tadi meneriakinya.

"Aaaaa!"

"Aaaaa!"

Ia berhenti berteriak ketika otaknya memberi sinyal ke pita suara untuk berhenti memproduksi lengkingan sebagai reflek terkejutnya dan kemudian ia mendengar tawaan dari orang yang mengagetinya, yang ternyata adalah Harum, salah satu teman dekatnya.

Ia mengatur napasnya sebelum bersiap untuk memarahi perempuan itu.

"Lo bisa ga sih, pencet bel dulu?"

Dirinya merasa dongkol karena Harum lancang masuk ke tempatnya dan mengagetinya.

Untung saja ia tak terkena serangan jantung karena kelakuan konyol perempuan itu. Jika ia meninggal karenanya, ia bersumpah akan menggentayangi Harum seumur hidup.

Perempuan berambut pirang itu tak mengindahkannya dan malah duduk di sofa yang tak jauh darinya.

"Lo yang budeg. Gue udah pencet bel berkali-kali tapi lo ga denger. Jadi ya udah, gue iseng pake password. Eh ternyata masih sama."

Ia berserapah di batinnya mendengar penjelasan Harum.

Moodnya anjlok gara-gara gadis itu.

"Lo ngapain ke sini?" tanyanya ke Harum.

"Disuruh ngabarin lo, Kak Andra mau nikah. Orangnya ga bisa ngehubungi lo katanya. Dia udah ngirim email tapi ga lo baca. Gue sih mikirnya lo lagi bertapa, eh ternyata bener."

Istilah bertapa yang dimaksud Harum adalah kebiasaannya yang mematikan handphone ketika melukis. Hal tersebut ia lakukan supaya bisa berkonsentrasi dan tidak terdistraksi.

"Tiba-tiba banget?" kagetnya.

"Dia udah cukup umur juga kali. Lo adiknya kok malah ga tau sih?"

Ia bukannya tidak tahu bahwa Dewandra—kakak laki-lakinya— memiliki pacar, ia hanya tidak menyangka saudaranya akan menikah secepat ini.

Yang ia tahu, hubungan Dewandra dan Josefina mengalami kesulitan karena tidak disetujui oleh keluarga kedua belah pihak.

Apakah mereka mendapat restu secepat itu? Kalo iya, ia turut senang. Bagaimanapun perjuangan mereka tidak mudah.

"Syukurlah kalo Kak Andra sama Kak Fina jadi nikah. Sumpah, bahagia banget gue dengernya." Terdengar kelegaan di suaranya, yang mana malah menimbulkan keheranan pada Harum.

"Sam, lo apa-apaan sih? Kok malah nyebut nama orang?" Harum menyebut namanya sembari mengkonfrontasi.

"Hah? Maksudnya?" Ia tak mengerti maksud Harum. Kenapa ia malah dianggap salah menyebut nama?

"Nama calonnya bukan Fina kali." celetuk Harum.

"Lah terus?" sahutnya.

"Kan sama Kak Adel. Malah nyebut yang punya Noeswantara, aneh lo."

Noeswtara adalah perusahaan publisher dan developer video game yang dimiliki oleh Josefina.

Ia tak bermaksud untuk mencampuri urusan percintaan kakak laki-lakinya, tapi apa yang terjadi dengan Dewandra dan Josefina? Kenapa Dewandra malah menikah dengan perempuan yang bernama Adel?

Thorny RoseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang