Anguish (Kesedihan yang Mendalam)

1.9K 177 61
                                        

Budayakan Vote & Comment

9/9/20
The Firts One Shoot Story
Ku Persambahkan kepada
Readernim & JKS/KMS & Army

Sorry For Typo

Perkenalkan namaku Park Jimin, aku terlahir dari keluarga yg sangat miskin, aku hanya mempunyai seorang ibu tunggal setelah ayahku mati di usiaku yg masih belia.

Ibuku bekerja sebagai tukang pijat bagi pria-pria hidung belang, pekerjaan yg begitu ku benci karena sangat banyak pria yg datang ke rumahku untuk meminta pijatan lembut dari seorang wanita singel parent.

Setiap pelanggan ibuku datang ke rumah untuk mendapatkan service lengkap, selalunya ibu menyuruhku pergi. Ia tak mengizinkan ku berada di rumah sekitar pukul 02.00 pm sampai dengan jam 06.00 pm, dengan alasan bahka aku tak boleh terlihat oleh pelanggan ibu.

Saat ini aku berusia 15 tahun, aku bersekolah di SMP Negeri tak jauh dari rumahku. Ketika bel pulang sekolah berbunyi maka aku akan menghabiskan waktu di tepi danau dekat sekolahanku mengingat aku juga tak akan diizinkan masuk kedalam rumah.

Hal ini sudah berlangsung sejak aku SD, jadi bukan hal taboo yg harus di pusingkan.

Meski bagiku pekerjaan ibu sangat menjijikan tapi aku bisa apa? dia ibu ku, bahkan aku tak bisa membencinya karena aku masih sangar bergantung padanya, setiap kali ibu memukul badanku, Aku tak akan menangis karena aku menyayanginya.

Aku tahu beban ibuku berat apa lagi harus membesarkanku seorang diri, kami tingga di kawasan ramai penduduk. Gang sempit yg menyatukan rumah antar rumah yg begitu akrab sejak lama, bahkan tetanggaku selalu memandang buruk kepada ibu dan aku.

Meski mulut mereka sangat pedas, tapi aku tak memasukannya kedalam hati karena bagiku kehidupan ini akan terus berjalan dan mereka tak membiayai apapun kedalan kehidupanku sehingga aku selalu menganggap para tetangga hanya sekumpulan orang-orang kurang kerjaan.

Pagi ini kurasakan sakit teramat sangat di bagian perut bawah, keringat dingin membasahi tubuhku karena menahan sakitnya. Aku berusaha bangkit dari ranjang karena aku juga harus bersekolah.

"Maa... Maaaa..." aku mencoba memanggil ibu yg sedang berbicara melalui telepon dengan salah seorang pelanggannya.

"Apa sih kamu teriak-teriak! mau apa?" cetus ibuku

"Ma... Aku sakit-- aku gak enak badan"

"Ahh alasan bilang ajah kamu mau minta uang! Mama gak ada duit, kamu jangan macem-macem deh"

"Tapi aku beneran sakit Ma..." Aku sudah memelas kepada ibu tetapi dia tetap cuek

Begitulah ibuku, tak pernah mengabaikanku sekalipun padahal aku anak kandungnya. Dia terlalu egois dan tak peduli kepada darah dagingnya ini.

"Buruan mandi ntar kamu telat!" titahnya lagi

"heum... Ma... Sekarang aku sudah di tingkat akhir, seragam sekolahku baru lagi jadi-----"

"Aku gak akan memberikan kamu uang! pakai saja seragam lamamu! kau tahu kita miskin! kalau sekolah mu protes suruh saja kepala sekolahmu datang kerumah"

Perkataanku belum sampai, tapi ibuku sudah mengoceh panjang lebar. Aku pamit kepada ibu untuk berangkat kesekolah, ia tak memberiku sarapan pagi melainkan ia hanya melemparkan beberapa koin uang agar aku bisa membeli sarapan. Lagi-lagi ibu melemparkan sesuatu dengn tidak sopannya.

Anguish [KUMPULAN BOOK ONE SHOT/TWO SHOT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang