Disuatu malam, kira-kira pukul 19.30 Brian bersama ke 4 temannya tiba disebuah cafetaria yang lumayan terkenal dikotanya, sudah lama mereka tidak mengunjungi tempat itu karena mereka sibuk mengurus bisnis masing-masing. Dulu sebelum mulai berbisnis mereka sering sekali nongkrong dan bercerita ria ditempat itu, dan setelah memutuskan tempat duduk, akhirnya mereka memilih untuk duduk dimeja bagian outdoor cafetaria, karena mereka merasa tidak nyaman bila berada dibagian indoor, dan bila itu terjadi akan memancing kegaduhan karena saat mereka sudah berkumpul candaan dan celotehan mereka tidak bisa dikontrol dan mereka akan membuat pengunjung lain tidak nyaman (perhatian sekali para oppa oppa ini yaaa 😁).
Setelah menugaskan Edo dan Kris untuk memesan makanan dan minuman kedalam, mereka pun duduk santai sambil menanyakan keadaan bisnis masing-masing.
Salah satu teman Brian, yakni Edward dan Gino posisi duduknya menghadap bagian dalam cafe dan mereka bisa melihat seluruh isi cafe dengan leluasa karena bagian tembok hanya dibatasi oleh kaca sedangkan Brian, Kris dan Edo menghadap kearah mini garden cafetaria tersebut. Selagi asyik bercengkrama, Edward yang sedari tadi menyadari bahwa sepertinya seorang perempuan yang sedang berada didalam sana adalah orang yang dia kenal, dan Edward pun memberitahukan kepada Gino perihal apa yang dia lihat dengan memberikan kode andalannya kedipan kelilipan (hahahaha, gatau dah lucu apa kagak, author emang suka receh dan garing 🤟), selang beberapa detik kemudian, perempuan yg dimaksud Edward pun menoleh kearah samping yang membuat mereka berdua menyadari bahwa perempuan tersebut adalah pacar Brian yakni Fiona yang sedang bercanda mesra bersama Rio, yang merupakan teman SMA Brian dan Edward (kok bisa kebetulan gitu yaa 🙂, authornya gak kreatif nih)
Seketika mereka pun langsung bertatap-tatapan dan memutuskan untuk memberitahu Brian hal tersebut.
"Eh Bri, lo jangan kaget yaa, pastiin aja nih yaa, mana tau mata gue sama Gino yang salah, coba lo liat cewek yang lagi duduk ama cowok itu (sambil menunjuk kearah Fiona), lo pastiin dah itu Fiona apa bukan Bri?" kata Edward
Brian sontak menoleh mengikuti arah telunjuk Edward, dan betapa kagetnya Brian, yaaa benar itu Fiona, gadis pujaan hatinya. Seketika suhu dingin langsung menyerang sekujur tubuh Brian, seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat, dan dengan wajah santai Brian mencoba menenangkan pikirannya.
"Iya, itu Fio, udah biarin aja, ntar gw urusin sendiri abis kita pulang" kata Brian.
"Ih serius lo? Gak mau nyamperin gitu? tanyain kek lagi ngapain dia disini, ama cowok lain lagi, lo mah gitu Bri bucin banget." celetuk Gino
"Kagak No, gw gak enak aja sampe harus nyamperin kesana, kasian ntar dia malu kalo gw datengin." jawab Brian
" Yaudah sih, kalo lo maunya gitu, kita sebagai sahabat lo yaaa ngikut aja Bri." kata Gino dan dibalas anggukan berjamaah dari Edward.
Sementara Brian masih berusaha tenang, Kris dan Edo yang sedang memesan makan di meja kasir pun kaget melihat Fiona dan seorang lelaki sedang berjalan kearah luar melewati mereka. Namun Fiona belum menyadari kehadiran teman-teman Brian didalam cafetaria tersebut dan tetap berjalan lurus menuju pintu keluar sambil bermanja mesra memegang tangan Rio.
Sialnya tepat saat Fiona berjalan melewati meja Brian dan teman-temannya, Gino pun spontan bersuara.
"Eh Fiona, ngapain lo disini? Kalo tau dari tadi mah kita ajak ngumpul disini."
Fiona yang kaget dengan kehadiran Gino pun langsung tersentak, buru-buru melihat semua wajah yang duduk satu meja dengan Gino dan dalam hatinya berharap tanpa ada Brian disana. Namun, harapan tinggal harapan, sepandai-pandainya Fiona menyembunyikan kesalahannya, tetaplah akan terbongkar pada waktunya. Refleks Fiona pun langsung meminta maaf pada Brian dan mencoba menjelaskan, namun apa daya, semua sudah terlanjur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unconditional Love
RomanceSarah adalah seorang perempuan penyendiri, ia lebih suka menghabiskan waktunya dirumah daripada nongkrong bersama teman-temannya. Tetapi semuanya berubah sejak pertemuannya dengan Brian, penasaran bagaimana lucunya pertemuan mereka berdua? dan penas...
