[00] Prolog.

149 4 0
                                        

Kadang keadaan yang paling aku benci adalah keadaan yang paling sering terjadi di hidup ku. Sesuatu yang ku sukai terkadang jarang ku temukan sedangkan suatu yang ku benci ku temukan dimana-mana. Kadang ku tanyakan pada yang mengatur takdir ini, apa dia begitu membenci ku?
-Dian Aileen.

[00]

Anggana Respati.

Gue berjalan menelusuri tangga kayu yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas yang hanya ada dua ruangan, yakni ruang kamar milik gue dan ruang kamar milik Ayah gue. Di tangan gue ada sebuah kotak kardus yang gue bawa dengan sekuat tenaga, mengingat isi di dalamnya berisi barang-barang kenangan masa kecil kesayangan gue. Kaki gue berjalan dengan hati-hati hingga gue sampai di kamar baru dengan aroma khas cat menyeruak ke indra penciuman gue.

Aroma kamar baru yang asing. Seketika gue merindukan rumah lama, sayang rindu hanya tinggal kerinduan. Gue tidak akan kembali ke rumah lama itu, walau sebenarnya kenangan gue lebih banyak tersimpan di sana. Seandainya gue punya flashdisk jumbo untuk menyimpan semua kenangan bahkan tanpa adanya foto atau video apa pun, melainkan hanya memori dalam otak. Tidak masuk akal? Tentu, itulah imajinasi.

Gue menaruh kotak itu di dekat lemari, membukanya dan merapihkan isinya lalu mengangkatnya lagi untuk di simpan di dalam lemari agar tidak ada satupun barang di dalamnya yang hilang atau rusak. Ingat, kenangan itu harus di jaga baik-baik. Untuk gue, kenangan indah saat itu adalah kebahagiaan sederhana yang bisa gue buat. Hanya dengan mengingat peristiwa kala itu, maka gue akan berbahagia dan tersenyum untuk diri sendiri lalu melupakan satu kesedihan yang gue alami saat ini. Sesederhana itu.

Sama seperti saat ini, saat gue rindu... Dengannya atau dengan rumah lama gue. Hanya perlu mengingat senyumnya sore itu, maka saat ini juga gue tersenyum. Gue mengusap keringat di kening gue lalu beranjak dari depan lemari kayu dimana gue menyimpan baju-baju dan juga kotak tadi. Dimana foto seorang wanita paling cantik di dunia gue pampang di pintu lemari, supaya gue bisa selalu mengingatnya.

Langkah gue terayun menuju jendela, lantas membuka jendela dengan horden putih bersih itu dan di saat bersamaan seseorang membuka jendela miliknya di sebrang jendela kamar gue, agak terkejut gue terdiam ditempat dengan tatapan penasaran. Seorang gadis dengan wajah dingin itu juga nampak terdiam dan membuat pandangan kami bertemu.

Tetangga baru? Pikir gue. Setelah seperkian detik pandangan kami terkunci, cewek berambut pendek seleher dan wajahnya yang dingin tak bersahabat itu memutus kontak mata kami tanpa berniat menyapa atau apapun. Gue hanya tersenyum miring menanggapi sikap tetangga baru. Di mata gue, cewek itu kini menjadi salah satu hal menarik. Gue rasa kita harus kenalan.

Nama gue Anggana Respati, hari ini gue tinggal di tempat baru dan satu mimpi sederhana gue adalah bertahan di keadaan apapun saat ini. Kuatkan hati, itu yang ingin gue lakukan saat ini. Siang cerah ini menjadi awal mimpi sederhana itu. Dan mungkin gue bisa menambahkan perkenalan gue dan dia nanti ke daftar mimpi sederhana gue selanjutnya.

<•••>

Dian Aileen.

Aku menaruh telur mata sapi yang baru saja matang ke atas selembar roti panggang yang juga masih hangat. Roti isi dengan saus tomat dan baluran mayonais akan menjadi sarapan ku hari ini.

Seusai roti isi ku siap aku berjalan menuju meja makan, memakannya perlahan dan menikmati setiap gigitannya. Hal yang paling ku sukai dari mayonais karena rasa asin dan aneh yang tercipta di lidah. Dulu waktu kecil aku begitu menyukai mayonais, sedangkan teman-teman ku benci dengan mayonais. Mereka bilang rasanya aneh dan tidak enak. Dan karena rasa suka yang berbeda, aku di kucilkan. Aku berbeda.

Aku benci hewan berbulu, sedangkan saat aku kecil teman-teman ku sangat menyukai boneka kucing dan kelinci bahkan di sekolah teman-teman ku sangat akrab dengan kelinci peliharaan sekolah. Lagi-lagi karena aku yang berbeda, mereka manjauhi ku.

Satu hal yang paling menyedihkan ketika hari perayaan Ibu. Oh, siapa sangka ternyata aku juga berbeda, padahal setiap anak harusnya memiliki seorang Ibu. Awalnya masa kecil ku begitu menyeramkan dan menyedihkan, hingga semua terus berjalan sama saat aku tumbuh remaja. Keadaan ini yang membuatku terbiasa, aku terbiasa berbeda. Tak penting orang menganggap ku apa, kini sudah tak ada lagi yang perlu di pedulikan. Semuanya sudah berjalan seperti ini.

Dering ponsel ku membuat suara sunyi di dapur menghilang. Benda pipih yang kini ada di sebelah lenganku mengedipkan layarnya dengan nama panggilan yang tertera di sana. Ayah? Buru-buru aku menerima panggilan itu dan menghubungkan suara seseorang di sebrang sana dengan ku.

"Halo, Di. Hari ini Pak Rama ada waktu luang, soal materi tambahan bisa di kerjakan hari ini. Nanti jemputan Ayah datang jam 10 pagi, kamu siap-siap."

Materi tambahan? Les matematika yang mewajibkan aku untuk mengerti semua tentang dunia rumus dan hitung-menghitung. Ayah bilang, aku harus pintar matematika. Ayah bilang, aku harus jadi juara kelas. Harus.

"Iya." jawab ku sekenanya.

"Oh ya! Nanti Oma datang."

Sial! Oma datang? Kali ini aku mereasa akan ada bencana.

"Oke, Ayah tutup telponnya." sambungan terputus.

Aku meletakkan ponsel di meja dengan layar yang sudah gelap, melanjutkan sarapan yang belum usai ku makan habis. Sayangnya nafsu makan ku sudah hilang sejak Ayah mengatakan kalau wanita tua sok akrab itu mau datang. Aku melahap roti isi dengan kesal tanpa ada nafsu makan apa pun. Aku hanya mengunyah sambil menggertakan gigi-gigi ku. Aku sangat kesal.

Kadang keadaan yang paling aku benci adalah keadaan yang paling sering terjadi di hidup ku. Sesuatu yang ku sukai terkadang jarang ku temukan sedangkan suatu yang ku benci ku temukan dimana-mana. Kadang ku tanyakan pada yang mengatur takdir ini, apa dia begitu membenci ku?

<Prolog>

Mulmed: Dian Aileen•

Hello Darling!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang