Chapter 1

12 4 10
                                        

Erika memejamkan kedua matanya, menikmati angin sore kota Surabaya yang sejuk menerpa wajahnya dan membuat helaian rambutnya yang tidak terikat beterbangan. Ia mengeratkan genggamannya pada ujung seragam Aris yang tengah mengayuh sepeda agar ia tidak terjatuh seraya menyondongkan punggungnya ke belakang secara perlahan dan mengangkat wajahnya lebih tinggi. Sekarang ia dapat merasakan hembusan angin yang lebih kencang.

Aris memutar kepalanya ke samping, berusaha melihat ke belakang saat merasakan tarikan di baju seragamnya yang sudah terlihat lusuh karena genggaman tangan Erika. "Ngapain sih, Rik? Nanti jatuh, tahu."

Erika terkikik pelan sambil membenarkan posisinya semula. "Habis anginnya enak, sih, Ris. Bikin sejuk, nggak kayak kalau siang."

Aris menghembuskan nafas panjang. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu. Meskipun Aris jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Erika, namun tubuh Aris lebih kurus dibandingkan dengannya. Sudah pasti ia kesusahan untuk menahan bobot tubuh Erika jika gadis itu menariknya seperti tadi.

"Jadi mau makan bakso di Pak Udin?" tanya Aris saat mereka hampir sampai di perumahan tempat mereka tinggal. Pak Udin adalah tukang bakso langganan mereka. Lebih tepatnya karena Erika yang menyukainya sehingga Aris tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.

"Jadi dong!" seru Erika bersemangat. Pertanyaan Aris seakan menyadarkannya pada kondisi perutnya yang kelaparan. Ia menelan ludah, membayangkan sambal buatan istri Pak Udin yang larut dalam kuah bakso memenuhi indra perasanya dan berseluncur turun di kerongkongan. Ah, pasti sangat lezat.

Erika tidak dapat menahan senyuman lebarnya saat melihat gerobak bakso Pak Udin di dekat gerbang masuk perumahan. Ia meloncat turun begitu Aris memarkirkan sepedanya di samping jajaran kursi yang disediakan bagi pembeli yang ingin makan di tempat dan berseru dengan ceria. "Pak, baksonya dua ya sama es jeruk, kayak biasa. Yang satu sambelnya yang banyaak."

Pak Udin yang sudah mengenal Erika dan Aris dengan baik mengangguk pelan seraya menyiapkan pesanan pelanggannya yang sudah ia hafal di luar kepala. "Siap mbak."

Aris duduk di kursi paling ujung sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan di jalanan yang cukup padat. Erika mengikuti di sampingnya.

Dengan perasaan tidak sabar menunggu pesanan baksonya tiba, Erika memperhatikan Aris dengan seksama. Menerka-nerka sejak kapan laki-laki itu tumbuh secepat ini. Rasanya seperti baru kemarin saat laki-laki itu tampak begitu kecil di balik punggungnya, berlindung dari anak-anak yang sering kali mengejeknya karena Aris tidak pandai dalam bidang olahraga.

Aris memang tidak seperti anak laki-laki pada umumnya yang senang dengan kegiatan fisik seperti bermain basket atau sepak bola. Dia lebih suka membaca buku fiksi maupun non fiksi dan belajar di rumah. Sesekali dia menghabiskan waktu dengan menonton film atau anime. Ia senang mencoba banyak hal. Ia pernah belajar bermain gitar saat SMP. Tapi karena tidak merasa mahir dan lelah menahan rasa sakit pada buku-buku jarinya yang lecet karena senar, ia memutuskan untuk berhenti dan memberikan gitar miliknya pada sepupunya. Ia juga pernah belajar melukis. Lukisannya tidak buruk, tetapi tidak terlalu bagus. Apapun yang ia lakukan, kegiatan itu selalu berada di dalam rumah. Membutuhkan tenaga ekstra bagi Erika untuk menyeret Aris keluar dari rumahnya.

Erika tinggal tepat di samping rumah Aris semenjak kepindahannya dua belas tahun yang lalu. Pekerjaan ayahnya mengharuskan mereka pindah ke Surabaya saat usia Erika baru menginjak empat tahun. Meskipun ibunya mengaku sempat cemas dengan lingkungan baru yang akan mereka hadapi, namun kekhawatiran itu tidak beralasan. Ibunya justru sangat senang saat mengenal Tante Erin−ibu Aris, yang seumuran dengan ibunya dan secara ajaib juga memiliki anak yang seusia dengannya. Sejak itu kedua keluarga mereka menjadi sangat dekat. Ibunya banyak menghabiskan waktu bersama Tante Erin, entah untuk sekadar mengobrol atau mengikuti kegiatan arisan bersama, yang menyebabkan Erika dan Aris juga sering bertemu.

OblivionStories to obsess over. Discover now