"This was our favorite spot," batinku. Ah, sudah satu setengah tahun berlalu, masih saja dia yang ada dalam benakku.
"Bengong aja nih, mbaknya!" Teriak Chika, teman dekatku sedari SMA.
"Eh, jelek! Malu-maluin tau nggak kalo lu teriak-teriak begitu!" Balasku menghalau kehebohannya.
"Lagian, kasihan tuh ice caramel macchiato mahal-mahal kalo cuma dianggurin," Jawab Chika sembari mencoba mengambil segelas ice caramel macchiato yang masih penuh bertengger di meja di hadapanku.
"Jangan kayak orang susah ya, Chika! Kalo dikasih duit jajan sama yayang Bagas tuh dipake, jangan cuma dijadiin pajangan. Beli sendiri, sana! Ngembat minuman gw mulu, ah!" Seruku protes saat melihat Chika hendak mencuri minuman kesayanganku.
Chika mendengus kesal. Ia pun memutuskan untuk memesan makanan dan minuman untuk dirinya sendiri. Aku menyesap minuman kesukaanku dan kembali merenung. Minuman ini, minuman yang selalu menuai perdebatan antara aku dengannya. Dia tidak pernah berhenti melayangkan argumen bahwa caramel macchiato baik ice ataupun hot adalah minuman perempuan karena rasa coffee-nya yang tidak terlalu strong. Aku yang mendengar celotehannya memilih untuk diam dan menikmati minuman yang kupesan dengan uangku sendiri itu.
"Gak heran lo suka nggak notice cowok ganteng, orang bengong mulu gini!" Sambar Chika yang kewalahan membawa segelas ice signature chocolate dengan tiga potong kue di tangan kanannya.
"Gila sih, lu. Makan siang itu nasi, Anastasia Chika Wardhini! Apa-apaan beli kue sampe tiga slices begini? Nggak pake atur-" "Berisik. Duit kan duit gw. Gw cuma makan dua slice kok, satu lagi buat Nona Charlotte yang cantik tapi tidak baik hati, ini. Silakan," jawab Chika tanpa memedulikan ocehanku.
"Jadi gimana, Cha? Lo jadi berangkat ke Jepang? Gw udah izin ke yayang, nih! I'm ready to go, babe!" Ujar Chika bersemangat.
"Ya, jadi lah! Mumpung winter juga di sana. Suntuk banget nih gw abis UAS, butuh yang adem-adem, yang sejuk-sejuk. Kalo gitu gw contact Mbak Gita buat ngurus semuanya, ya! Btw, bokap nyokap lu izinin?" Tanyaku memastikan sebelum tiket sudah dipesan dan Chika malah membatalkannya.
"Duh, like they care," ujar Chika tidak peduli.
Chika memang tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya. Orang tua Chika sudah sibuk berbisnis sedari Chika masih kecil sehingga Chika tumbuh menjadi pribadi yang sangat mandiri, namun haus akan kasih sayang. Tidak jarang Chika menghabiskan waktu di club hanya untuk mengusir rasa sepi yang ia rasakan. Aku sebagai temannya tentu merasa sedih dengan keadaannya saat itu, tapi aku sendiri juga punya tanggung jawab yang harus aku kerjakan sehingga tidak bisa tiap waktu ada di sampingnya. Sejak Bagas datang, kehidupan Chika benar-benar berubah. Bagaskara Mahadewa, teman laki-laki pertama yang aku kenal di hari pertama perkuliahan justru menjadi orang yang mampu meluluhkan hati dan menjadi rumah bagi Chika. Bagas dan Chika memiliki latar belakang keluarga yang cukup mirip sehingga keduanya dapat saling mengerti satu dengan yang lain. Sejak Bagas dan Chika berpacaran, Chika selalu meminta izin kepada Bagas bila Chika mau berpergian jauh. Oh, kalau kalian mau tau, aku dan Bagas berkuliah di tempat yang berbeda dengan Chika.
"Nggak usah dipikirin, Cha. Gw aja nggak kenapa-kenapa, kok lo yang pusing sendiri, gitu?" Chika menenangkan.
"Iya, enggak kok. Nanti gw contact lu kalo tiket sama visa udah beres diurus Mbak Gita. Tapi, gw ke Jepang juga buat bisnis loh, ya! Jangan seenaknya tiap hari minta jajan, lu!" Ujarku mengingatkan.
"Iya, bawel! Gw bakal jadi asisten terbaik deh pokoknya! Duh, keren banget sih temenku yang satu ini, baru juga masuk semester tiga udah mau buka cafe cabang ke-3nya aja," goda Chika.
CZYTASZ
sembuh.
Dla nastolatkówsatu kata yang menjadi harapanku dari dulu. sembuh, dari semua luka lama. berjalan ke depan tanpa tangis mengguyur pipi, berjalan dengan senyum paling tulus yang bisa kuberikan. sampai akhirnya, aku bisa berkata "sampai jumpa lagi!".
