1

111 25 21
                                        

Perempuan dengan rambut sepunggung itu memasuki sebuah kafe bernuansa vintage di pinggiran kota. Bunyi nyaring yang dihasilkan oleh lonceng pintu kafe cukup menyita beberapa perhatian pelanggan, namun tidak dipedulikannya. Bunyi ketukan sepatu terus terdengar mengikuti langkah perempuan itu hingga berhenti di depan kasir untuk memesan beberapa camilan.

Allysia Zara Sheeva, perempuan berumur 18 tahun yang baru saja lulus dari jenjang SMA dan sedang menikmati waktu luang kurang lebih 3 bulan sampai tahun ajaran baru dijenjang kuliah nya. Ara merupakan murid unggulan di SMA nya dulu, nilai akademik dan non-akademik nya yang bagus membuat nya mudah untuk masuk di bangku perkuliahan. Kulit putih bersih, memiliki rambut berwarna hitam lekat, dan sorot mata yang cenderung cuek serta tidak lepas dari kacamata nya meninggalkan kesan cerdas yang melekat didirinya.

"Latte macchiato sama sandwich, ya!" pinta Ara dengan tersenyum ramah.

"Nulis lagi, Ra?" tanya Dita salah satu pegawai kafe. Ara hanya mengangguk lalu mengedarkan pandangan nya menuju seisi kafe. Kafe itu tidak terlalu besar, didesain dengan tampilan bangunan tua, dan didominasi warna putih. Terdapat banyak dekorasi barang antik dan unik. Di depan kafe juga terdapat taman mini yang diwarnai dengan berbagai macam bunga.

'Tingg' bunyi bel kasir tanda pesanan sudah siap membuat Ara menoleh dan segera mengambil nampan berisi pesanan nya. Seperti biasa, Ara akan menuju lantai dua dan menghabiskan pesanan nya di meja bar yang menghadap ke luar jendela. Ara duduk di kursi bar yang ringan dan ramping, tak lupa ia juga mengeluarkan laptop berwarna abu-abu nya.

Ara melepas outer hitam nya dan melinting lengan sweater turtleneck abu-abu nya hingga sesiku. Ara memang senang pergi mengenakan outer berwarna hitam, putih, maupun abu-abu. Tak lupa ia juga akan mengenakan topi hitam kesayangan nya. Ara senang memakai kaos berlengan pendek yang biasa ia masukkan kedalam celana jeans, namun karena belakangan sering hujan perempuan itu lebih sering memakai sweater turtleneck, ditambah sepatu converse putih yang ia gemari.

Jemari Ara mulai menari di atas keyboard untuk mencurahkan ide-ide nya begitu juga dengan sorot mata tajam yang terus memandang kearah monitor. Sesekali ia menyesap latte macchiato nya sekedar untuk membuat lidah nya berasa.

Tiga puluh menit berlalu, Ara melakukan peregangan kecil untuk melemaskan otot-otot nya yang kaku. Ia memutuskan untuk beristirahat sebentar dengan menghabiskan sandwich yang dipesan tadi. Perempuan itu menggigit sandwich dengan gigitan yang besar sehingga menyebabkan mulut nya menggembung. Ara menguyah sambil melihat sekitar sampai mata nya tidak sengaja bertemu dengan sorot mata dingin milik laki-laki yang duduk berjarak satu kursi di samping kiri nya. Ara tersedak saat menyadari bahwa laki-laki itu adalah teman SMA nya, lebih tepat nya laki-laki yang dulu pernah ia sukai.

"Uhukk uhukk," Ara masih sibuk dengan tersedak nya yang tidak kunjung berhenti. Sorot mata laki-laki itu menghangat dan memberikan air mineral kepada Ara. Ara menatap laki-laki itu tak percaya hingga tak sadar mulut nya terbuka. "Jorok," kata laki-laki itu sembari mengatupkan mulut Ara. Ara yang sempat bengong sesaat segera menyambar air mineral itu dan menegak nya.

"Ngapain kamu di sini?" tanya Reyhan.

"Nulis."

Reyhan hanya menganggukan kepala nya dan mulai asik dengan lagu yang ia dengarkan lewat AirPods nya.

"Kamu sendiri?" tanya Ara yang ingin tahu kenapa laki-laki itu bisa sampai sini. Bukan berarti laki-laki itu tidak boleh kesini, namun kafe ini terletak jauh dari pusat kota dan Ara tau bahwa lebih banyak kafe yang lebih bagus ketimbang kafe di pinggir kota ini.

"Refreshing."

Reyhan Abelano Bagaskoro, laki-laki berusia 19 tahun yang merupakan teman Ara sewaktu SMA. Tidak terlalu banyak tingkah dan tidak terlalu terkenal, namun kharisma nya sebagai laki-laki pendiam dan dingin cukup menarik perhatian Ara. Kulit nya putih bersih, memiliki poni lempar dan lesung pipi yang mampu membuat siapapun tertegun, serta tinggi nya sekitar 173 centimeter. Reyhan bukan anak yang pintar, bukan anak yang rajin juga, dia adalah laki-laki biasa saja yang super dingin dan mampu membuat Ara mencintai nya sepihak.

RASA [HIATUS] Where stories live. Discover now