Hai, gue Arin. Mahasiswa pre-klinik yang hidup kalau gak sambat sehari aja rasanya gak seru. Ini cerita awal gue bisa melangkah ke dunia pre-klinik. Yang dimulai dari 'Kejutan di hari Jumat'.
.
Dulu, sebelum memutuskan daftar FK, gue hanyalah seonggok daging yang optimis buat lulus SMA langsung kerja, cari duit, atau daftar kedinasan. Setiap temen dan guru les yang tanya, "Habis SMA, mau nerusin ke mana, Rin?"
Gue akan selalu menjawab, "Bingung sih, kalau mau kuliah ngeluarin biaya lagi, iya kalau akhirnya bisa kerja, kalau enggak? Kalau kuliah pasti mikirin skripsi, katanya ribet. Kayaknya mau kerja aja, biar gak jadi beban ortu dan kalaupun harus kuliah pokoknya pengen yang kuliahnya cuman 1-2 tahun aja terus gak ada skripsi terus lulus langsung kerja, sip kedinasan." Cerocos gue agak ngegas.
Sebenarnya, gue bukannya pure gak pengen kuliah, apalagi jadi mahasiswa FK kek gini. SD, gue pengen banget jadi dokter, SMP pindah pengen jadi hakim (tapi gak jadi karena ortu gak setuju gue di bidang soshum), terus awal SMA pengen jadi Ahli Forensik gara-gara sering lihat CIA yang kelihatannya keren.
Tapi, percaya gak, gue yang dari lahir emang sulit untuk melakukan hitungan dasar tanpa pakai jari alias ngawang, suka banget kalau urusan pelajaran matematika, hitung-hitungan, akuntansi, otak-atik data, dan cukup malas ketika pelajaran biologi yang banyak hafalannya. Oleh karena itulah, gue pindah haluan lagi dan mencintai politeknik statistika dan keuangan. Gue selalu stalking kedua sekolah tinggi itu sampe kelas 12. Sampai detik detik daftar SNMPTN.
Waktu itu bener-bener ogah-ogahan. Karena, otak gue masih ngotot untuk kuliah tanpa biaya. So, gue gak belajar SBM sama sekali, gak survey jurusan sana sini, dan jujur waktu itu gue hanya nurut apa kata saran tempat les dan ortu.
Pendidikan Dokter? Gue waktu itu sangat optimis! Optimis gue bakal ditolak :) Karena gak ada riwayat kakak kelas yang berhasil lolos jurusan itu waktu SNM. Dan gue yang gak tau kenapa, ngotot banget pengen daftar pendidikan dokter, cuman bisa pasrah dan berharap seenggaknya gue keterima di pilihan kedua, teknik.
Gue udah sabodo sejak konfirmasi pendaftaran SNM. Karena seruan hati yang berkata "Udahlah, sudah terlanjur, ya kalaupun gak ketrima setidaknya bisa alasan karena prodinya ketinggian..." Dan begitulah hingga gue akhirnya fokus pada ujian praktik.
Gue masih inget banget. Waktu itu, Kamis sejak pulang sekolah gue berkutat dengan segala lembar catatan buat ujian praktik agama. Gue belajar dan ngehafalin semuanya sampai bener-bener lupa kalau Jumat besoknya itu pengumuman. Otak gue isinya,
"Hayo, besok uprak! Malu sama Allah kalau nilai uprak agama sampai jelek!"
Sampai ketika subuh, gue buka WA. Kok storynya pada upload ijo ijo :( Ternyata server ltmpt waktu itu kebetulan sudah bisa diakses, dan beberapa teman gue saling mengupload kebahagiaannya dapat notif ijo.
Meanwhile gue, tiba tiba takikardi, nafas tercekat, keringat dingin, tangan tremor megang hp. Dan, jari gue bergerak di luar kendali buat ngakses website ltmpt snm.
Dan...
Hasilnya...
"HIJAU! Selamat Anda....."
Waktu itu gue terdiam. Jantung rasanya berhenti dadakan. Gue gak nangis. Gue gak bisa ngomong apa apa. Cuman diem sambil lihat hp. Hafalan uprak Agama yang sudah terpatri buyar! Untuk beberapa saat, gue jadi patung. Barulah ketika, sinaps di otak gue aktif lagi, gue teriak,
"Bapak, Ibuk! Ijooooo, dapetnya Ijoooooo"
.
.
.
Setelah dapet pengumuman itu, gue kembali ke kamar. Merenung dan nyeletuk, "Loh berarti aku kuliahnya sampai 6 tahun, ada skripsi, belajar seumur hidup, biaya gede, dan butuh waktu lama buat langsung kerja?"
"Mampus lo, itu tuh Tuhan gak suka lo mau males malesan dan nyari yang instan, jadi dikasih tuh yang butuh perjuangan ekstra. Nikmati ya..." - Sahut kakak gue.
Dan sejak itu.... gue menjalani hari dengan motto:
"Sambat adalah jalan ninjaku!"
YOU ARE READING
Cerita Pre-Klinik
Non-FictionMahasiswa kedokteran? Ambis? Serius? Hedon? Ujian terus? Buku everywhere? Well... Gue Arin, mahasiswa pre-klinik di salah satu PTN di Pulau Jawa. Mahasiswa yang hidupnya dipenuhi sambat, sambat, sambat, dan sekelumit kebahagiaan. Sebagai mahasiswa p...
