Umur 17 tahun adalah sebuah piagam tersendiri bagi sebagian orang. Khususnya orang seperti Aliza yang rela menghamburkan uang untuk merayakan ulang tahunnya disalah satu hotel ternama.
“Liz, Happy Birthday ya,” ucap salah satu temannya sembari menyodorkan sebuah paperbag berwarna hitam.
“Thanks Rin,” Jawab Aliza sambil menerima paperbag pemberian Karina.
Pesta mewah dengan mengusung tema Red-Black menjadi pilihannya malam itu. Suara dentuman musik DJ menyeruak hingga ke penjuru ruangan, membuat semua tamu undangan melenggak-lenggokan tubuhnya mengikuti ritme musik.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aliza tampil cantik menggunakan dress panjang berwarna hitam dengan rambut tergerai sempurna.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Senyumnya manis, bagaikan susunan sirup disalah satu meja hidangan. Heels 3 senti melekat apik pada kakinya yang jenjang sehingga menampakkan tubuh yang proposional. Hingga datanglah seorang lelaki yang langsung merangkul tubuhnya.
“Hai sayang, you're so beautiful tonight,” Ucap lelaki itu dengan menatap wajah Aliza intens.
Dia adalah Darel, kekasih Aliza beberapa bulan ini. Mereka berpacaran setelah Darel merasakan jatuh cinta kepada Aliza saat pertama kali bertemu di sekolah barunya—sekolah Aliza. Ia memang anak pindahan dari kota lain dan memutuskan bersekolah pada salah satu sekolah ternama di Ibu Kota. Darel banyak dikagumi para kaum hawa karena parasnya yang menawan. Wajah manis dengan tubuh tingginya berhasil memikat cewek yang dikenal cuek seantero sekolah dan menjadi kekasihnya saat ini.
“Thanks Babe, tapi—,” Jawab Aliza terputus.
Darel mengerutkan dahinya, “Tapi apa?”
Aliza tersenyum miring, “Tapi kamu jelek malam ini,” godanya.
Darel langsung mencubit hidung mancung Aliza dengan gemas, “Udah berani ya kamu."
Aliza tidak peduli, ia menjulurkan lidahnya di depan Darel dengan wajah mengejek.
“Sayang aku ke sana dulu ya,” Ucap Darel sambil menujuk pada kerumunan remaja di balkon, karena mereka menghabiskan waktu sambil menghisap batangan tembakau ditangannya.
Aliza hanya mengangguk sambil menunjukkan senyumannya. Tak lama Darel hilang tertutupi kerumunan orang-orang yang asyik dengan pestanya.
Aliza mengitari sisi ruangan untuk memastikan semua undangan dapat menyantap hidangannya hingga perut terisi. Aliza terkenal dengan sifatnya yang humble kepada semua orang tanpa terkecuali. Menjadi anak semata wayang seorang pemilik salah stasiun televisi menjadikan ia sangat dimanja dan semua apa yang diinginkannya dapat terwujud sekejap. Namun tak menjadikan ia sebagai seorang yang tamak dan boros. Hidupnya benar-benar tertata dan ia selalu menyisihkan uangnya hanya untuk disumbangkan ke pantai asuhan.
“Liz, sumpah makanan disini enak parah, bolehlah tiap tahun lo adain acara kayak gini,” Goda Karina sambil menyantap sepotong chesse cake.
“Gampang, entar gue atur jadwalnya,” Sambung Aliza dengan tertawa kecikikan menanggapi gurauan ngawur temannya itu.
“Eh, eh, lo kok nggak sama Darel tumben-tumbenan nih,”
“Itu Darel ngerokok sama temennya, ya kali gue ganggu Rin, gue muter-muter dulu ya,” Ucap Aliza sambil menepuk pundak Karina lalu meninggalkannya.
***
Aliza benar-benar dibuat lelah karena pestanya sendiri. Ia mengusap wajahnya dengan kapas untuk membersihkan polesan make up yang membuat dirinya terlihat lebih cantik. Aliza memandangi tubuhnya yang masih mengunakan dress hitam di depan cermin sambil bergumam, “Gue emang cantik sih ya, nggak salah Darel jatuh cinta sama gue.” Aliza tersenyum.
Jam menunjukkan pukul setengah satu malam, raut mengantuk sudah tercetak jelas pada wajah pemilik rambut lurus itu. Aliza menanggalkan dress yang dikenakannya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mengganti pakaiannya menggunakan piyama tidur, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur sembari menatap langit-langit kamar. Tak lama Aliza terlelap.