when the blooms fall apart

140 10 0
                                        

Cahaya petir menusuk jendela kaca yang menghiasi rumahku. Gemuruh tagar selalu berhasil membuatku terkesiap sewaktu-waktu. Terasa tak nyaman. Sejak lama memang aku benci suasana seperti ini, rasanya seperti menghadapi semua kemalangan yang ada di dunia. Pria itu datang, menutup tirai agar bising petir teredam. Tangan kanannya mengusap rambutku lembut, ujung susurnya terangkat membentuk senyuman. Segala tentangnya selalu berhasil membuat hatiku tenang.

Jaebeom, lelaki itu. Ia mendekapku, membiarkan tubuhku terselimuti oleh tubuhnya yang lebih besar. Aku tak dapat menahan tanganku untuk tidak memainkan rambutnya yang mulai panjang. Tetesan air membasahi jemariku. Maklum saja, kekasihku ini baru menikmati mandi air panas yang lama. Curahan air dari alat pemancar itu membuat kulitnya menjadi terasa lebih lembut dari biasanya. Mulutnya tak dapat berhenti berbicara mengomentari pembawa acara yang menyampaikan berita terkini. Semua yang ia ucapkan terdengar cerdas. Suaranya juga terdengar seperti lantunan musik yang menenangkan. Mungkin aku yang terlalu jatuh cinta dengannya sehingga meromantisasi setiap detail dari sosoknya. Tulang rahangnya yang tajam, kedua netra yang membentuk bulan sabit ketika tersenyum, hingga bibirnya yang pucat karena faktor udara dingin. Sungguh aku jatuh hati. Jika saja Tuhan memberiku tugas untuk menciumnya, aku berjanji akan melakukan itu dengan hati-hati.

Kekasihku sosok yang romantis. Aku paling suka ketika ia bernyanyi untukku. Jaebeom, ia selalu membawaku ke tempat makan yang menyediakan live music sehingga ia bisa menyanyikan lagu-lagu cinta. Kemarin saja, ia membawaku ke suatu bar bernuansa Mexico dan menyanyikan lagu berjudul Lady dari D'Angelo. Masih tertancap dalam otakku tatapan Jaebeom saat bernyanyi. Pria itu hanya memandangku yang duduk di seberangnya. Gestur tubuhnya seolah ingin menunjukkan pada semua pengunjung bahwa hanya aku perempuan yang ia cinta. Suara tepuk tangan menyertai penampilannya yang usai. Banyak orang menyatakan betapa beruntungnya aku. Memang benar, aku sangat beruntung memiliki kekasih seperti Jaebeom.

Pertemuan pertamaku dengannya juga manis. Semua berawal dari kesamaan minat di antara kami berdua. Awalnya ia membantuku membawakan barang belanjaan rumah. Saat perjalanan, ternyata ia adalah pengelola salah satu kegiatan bakti sosial di Seoul. Sebagai seorang perempuan yang sering mengikuti kegiatan serupa ketika kuliah, aku merasa cukup tertarik dengan apa yang ia lakukan dan memutuskan untuk bergabung dengan kegiatan tersebut. Semakin lama aku mengenal Jaebeom, aku mengetahui betapa menawannya watak kekasihku. Ia seorang kutu buku, sama sepertiku. Aku jatuh cinta ketika sosoknya membicarakan betapa indahnya kutipan-kutipan dari buku kesukaannya. Jules et Jim. Ia mengajakku untuk melanjutkan hubungan lebih serius dengan kutipan dari buku tersebut. Aku terkesan dengan dedikasinya pada hal yang ia sukai. Bahkan ketika mengejar seseorang, ia mengaitkan dengan hal tersebut. Secara singkat, kami dipertemukan dengan interes yang sama.

Dan sejak hari itu, Jaebeom berjanji akan mencintaiku seutuhnya. Apapun yang terjadi. Ia mencintaiku hingga melupakan perasaan gundahnya saat mengetahui mungkin hubungan kami tak akan berlangsung selamanya. Jaebeom mengagumiku maka ia rela memberikan pernak-pernik mahal yang sebenarnya tak kubutuhkan. Jaebeom mencintaiku hingga bibir kami tak pernah tak bersentuhan sekalipun saat kami bertemu.

Suara rinai hujan masih terdengar menghantam lantai bumi. Kami masih menikmati kebersamaan ini. Pikiran tentang dosa dan sesal bahkan tak mendistraksiku dari melakukan kesalahan ini. Aku ingin menghabiskan satu malam lagi. Sayangnya itu semua mustahil. Suamiku, Park Jinyoung, akan pulang hari ini dari perjalanan kerjanya dari Osaka. Harus diakui, hubungan antara aku dan Jaebeom memang tidak seharusnya terjadi. Sayangnya tak ada rasa sesal dalam menjalankan perselingkuhan ini. Aku sadar, semuanya salah. Keadaan dan perasaan memang tak bisa dikontrol. Ada terlalu banyak mengapa yang ingin kuajukan pada Tuhan atas situasi ini. Mengapa aku harus bertemu dengan Jaebeom setelah beberapa tahun menikah dengan Jinyoung? Mengapa aku terlalu egois? Janggal memang.

[JJ PROJECT] If Only || COMPLETEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang