"Ibu bilang menjadi seorang pemimpin itu tidak mudah, terkadang kamu harus selalu siap untuk menerima kritikan, pujian, dan opini yang tidak masuk akal dari seseorang." -Raja-
...
Namaku Raja, seorang lelaki berumur 14 tahun yang selalu bercita cita menjadi seorang pejabat tinggi di daerah pesisir pantai ini.
Rumahku dekat dengan lautan, biar aku ceritakan tentang profesi kedua orang tuaku, dimulai dari ayah yang bekerja sebagai kepala nelayan desa dan ibu yang biasanya berjualan ikan asin di daerah pasar dekat rumah tanjung besar di tengah kota.
Hidupku bisa dibilang sangat sederhana, keluarga kami ini selalu tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah karena kemampuan ekonomi yang biasa dipandang sederhana oleh warga lain dan bisa dibilang sangat mencukupi kebutuhan keluarga inti ini.
Aku seorang anak tunggal, bisa dibilang juga harapan satu satunya dari keluargaku, latar belakang keluargaku memang tidak memiliki pendidikan yang sangat luar biasa, ayahku bergelar sarjana begitu pula dengan ibu, namun kedua orang tuaku sering bercerita jika sekolah di perguruan tinggi mungkin suatu saat nanti jika kamu telah selesai dan dinyatakan lulus, pasti akan kembali menjadi orang yang sama derajatnya dengan mereka yang hanya lulusan sekolah menengah atas jika kamu tidak memiliki kemampuan untuk bekerja keras mencapai cita citamu.
Oleh karena itu, namaku Raja Arthremata Rahadian. Seorang remaja yang selalu mencari apa itu sebuah cahaya yang bernama cita cita dan aku adalah seorang remaja yang tengah dilanda ketakutan, takut akan menghadapi masa depan yang jalannya belum tentu aku bisa ketahui.
Di sini, diantara hamparan air laut yang mulai menghampiriku, yang tengah duduk memandangi langit biru dengan cahaya terik mataharinya. Lihatlah langit biru itu, aku rasa langit pasti tidak akan pernah merasakan indahnya menerima kenyataan, kenyataan dimana semua realita kehidupan yang selalu memaksaku jauh untuk mendorongku menjadi seorang bintang untuk menjawab pertanyaan dari Tuhan.
Pantai Lakoma memang selalu menjadi tempat utamaku untuk bermonolog sepi dan hambar kepada langit, entah itu untuk membicarakan soal masa depan atau sebagai tempatku untuk bertanya seperti bisakah aku menjadi seorang pemimpin di masa depan?
Aku selalu membenci pemimpin, terutama ketika aku melihat ibu dan ayahku yang selalu berjuang demi membayar tarif seharga langit yang diberikan pemimpin itu untuk menikmati desa Lakoma yang tidak mereka urus sama sekali.
Mungkin di suatu saat nanti, ibu ayah, biarkan Raja saja yang menjadi pemimpin, Raja pasti bisa membuat pantai Lakoma ini tersenyum karena tidak ada kesedihan yang Raja perlihatkan kepada langit disini, Raja pasti bisa berjanji, supaya suatu saat nanti Raja bisa membiarkan ibu, ayah dan warga di desa ini tenang, tidak perlu memikirkan uang karena mereka semua merasa tercukupi dengan kebijakan baru yang akan Raja buat.
Berapa lama waktu yang perlu aku lewati untuk menjadi seorang pemimpin, langit?
Dan lagi lagi, langit hanya membisu ibaratnya langit itu sama seperti masa depan terlihat nampak namun tidak memberi jawaban ketika aku melontarkan pertanyaan kepadanya.
Tuhan tolong sampaikan suara hatiku kepada ibu, ayah, dan warga desa Lakoma, supaya untuk menunggu Raja dan mendo'akan Raja supaya bisa menjadi pemimpin yang baik bagi negara ini, Raja akan berjanji mencoba memberikan pemahaman dan kebijakan baru tentang kesejahteraan, 5 tahun lagi Raja akan berkuliah dan mulai mengenyam gelar sarjana hukum di kota primadona itu, di kota tempat pemimpin itu singgah.
Tolong do'akan Raja, Raja pasti bisa kembali dengan membawa kabar baik tentang kesejahteraan untuk warga desa Lakoma.
Sekian, dari saya Raja Arthremata Rahadian. Terima kasih pantai Lakoma.
28, November, 2000.
Bersambung
YOU ARE READING
Berbicara Soal Pemimpin
Short Story"Menjadi pemimpin itu mengerikan Raja!" "Ibu menyekolahkanmu bukan untuk menjadi pemimpin, bukan untuk menjadi orang hebat seperti pejabat yang tamak di luaran sana!" Aku menatap lekat cahaya yang mulai memudar dari wajah ibu, ibu tidak mengerti ten...
