✨jangan lupa vote&comment gaiss✨
Suasana pagi ini sangatlah tidak mendukung kegiatan. Hari pertama masuk sekolah malah hujan atau bisa dibilang gerimis. Tidak deras, tetapi lumayan gelap.
"Jadi siapa mau diantar duluan?" Tanya mama tanpa memalingkan wajah, fokus mengendarai mobil.
"Adek aja mah" sahut Biya
"Enak aja, kakak aja ah" adik Biya alias Qila gamau kalah
"Ihh adek aja maa yaaa, belok kiri mah plis plis cepet belok kiri" ucapku menginstruksi. Mama hanya mengikuti arahan Biya.
"Yess" bisik Biya girang. Entah apa yang buat dia girang padahal cuma anter adenya dluan.
Bisa diliat dari kaca spion kalau Qila bete diantar duluan. Etah apa juga yang ada dipikiran anak SMP kelas 9 itu sampai bete.
"Sudah.. sudah sama sama nyampe sekolah. Apa bedanya sih" Mama menengahi tetapi tidak mengurangi kebetean Qila.
Sampai di depan sekolah Qila, dia langsung turun tidak lupa salim sama Mama. Biya? Jelas di lewatin kan bete.
"Mama kenapa lagi sama papa?" Biya membuka pembicaraan setelah mobee melaju sedang
"Kamu dengar semalem?" Sahut mama sedikit kaget
"Iyalah ma, kamar aku kan gak kedap suara jadi kalau ada barang pecah bakal kedengeran
"Ohh.. biasalah tempramen papamu, mama cuma nanya rapat apa sampai jam 2 malam malah marah marah"
"Uhmm.."
"Jangan kelai lagi ya ma" Biya berujar rendah
"Mama juga gamau kelai sayang tapi papamu ini, kamu tau kan gimana papamu?"
Jelas tau. Pria kepala 4 dengan perawakan tegas dan tampan yang wanita keranjang manapun pasti ingin mengganggu rumah tangga mama dan papa Biya.
"Iya, yaudah makasih ma hati hati ke kantornya jangan lupa makan Biya sayang mama banget banget" ucap Biya saat mobil yang ditumpanginya sudah di depan gerbang sekolah. Setelah salim dan mendapatkan kecupan di kedua pipinya dia turun dan lari lari kecil agar terhindar dari hujan yang sebenarnya tetap kena hujan.
Setelah di koridor ia berjalan pelan sambee merapatkan jaketnya. Semalam Biya sudah mengecek Portal pemberitahuan online dan tertulis bahwa Biya masuk XI IPS 2 dan Biya langsung menuju kelasnya. Dikelas belum banyak orang, dia memilih tempat duduk ujung dekat jendela baris ketiga. Tempat yang cukup strategis.
Biya tak punya banyak teman. Satu satunya teman Biya adalah Ziya yang sialnya beda kelas dengan dia. Ziya atau yang biasa dipanggil Yaya masuk di kelas IPS 1, bersebelahan dengan kelasnya tetapi Biya ya Biya, anak manis dan pintar sayangnya memiliki tingkat kemageran yang tinggi.
Biya atau lengkapnya Syabiya Virginia Tsabit adalah anak dari pasangan Anita Rusli dan Andreas Tsabit. Dari nama saja mereka sudah mengagumkan bukan? Mereka cukup mengagumkan mama yang seorang designer ternama dan papa seorang arsitektur terkemuka tak lupa paras mereka berdua yang mengagumkan.
Biya pun kecipratan paras dan otak pintar kedua orang tuanya. Biya pun pintar menggambar seperti saat ini, ia sudah mengeluarkan buku sketsanya. Apa saja digambar. Satu kekurangannya, sulit berteman. Maka dari itu satu satunya teman dia adalah Ziya yang biasa Biya panggil Yaya, panggilan sayang katanya. Anak lincah yang berteman dengan siapa saja.
Teett... Teett... Teett...
Semua masuk kedalam kelas. Biya menutup sketsanya. Guru sosiologi alias Bu Purnama alias Bu Pur datang.
"Pagi anak anak" sambut Bu Pur.
"Pagi bu" sahut anak anak kelas.
"Jadi selain menjadi guru sosiologi kalian Ibu juga bertugas jadi wali kelas kalian jadi tolong dengan sangat jangan ada yang bolos ataupun buat ulah karena itu sangat merepotkan ibu mengerti?"
Bu Pur alias Bu Purnama adalah guru senior di sekolah Biya. Sifatnya yang tak terduga dan sedikit genit dengan murid tampan sangat menyebalkan untuk Biya dan juga murid murid yang lain.
"Iyaa bu" ucap murid murid serentak
"Baru aja bu mau bolos" teriak Oza si tukang ribut cari perhatian. Bu Pur melotot yang dibalas cekikikan sang biang masalah.
"Loh bentar bentar.. suaranya kok dari belakangku?" pikir Biya. Sedikit dia menoleh kebelakang dan wah ternyata strategis sekali tempat duduknya.
Baris di belakangnya di duduki oleh Oza, Abrisam, dan Rifki sang bintang sekolah atau sebutan lainnya "Yang Pegang Ips" paras ketiganya tampan ditambah prestasi mereka masing masing.
Oza laki laki cerewet suka bisnis yang buka cabang minuman Thai tea melegenda dimana mana.
Abrisam laki laki dengan hobbi bermain basket yang membawa nama sekolahnya terpampang lebar di headline koran karena menang DBL tahun lalu.
Dan Rifki si calon Ketos alias Ketua Osis yang sudah pasti lolos karna cara kerja yang disukai guru dan teman temannya.
Tak lupa sampingnya Rifki, Arum pujaan hati Rifki sejak kecil dan resmi berpacaran saat masuk SMA. Perempuan lembut nan manis yang sangat cocok disandingkan dengan Rifki dan merupakan Ketua Organisasi Pik-R alias Perkumpulan Informasi dan Komunikasi Remaja. Bukan tempat gosip, lebih tepatnya tempat curhat remaja sekolahnya.
Dan yang terpenting, Biya tidak dekat dengan mereka bahkan merekapun mungkin tidak kenal dengan Biya.
"Ahh bee gabecus banget sih kamu milih tempat duduk, tapi yaudalah ya mereka juga gapeduli" batin Biya sesaat setelah menoleh kebelakang. Kembali sibuk dengan fantasinya di buku sketsa sampai ia terhenti karena kegaduhan di koridor kelasnya karena orang berlari.
Seorang lelaki berlari di koridor dan berakhir di depan pintu kelas dengan cengiran yang tentu saja mengundang ekspresi masam dari Bu Pur. Sambee nyengir lelaki itu mendatangi Bu Pur dan berkata
"Maaf bu saya murid baru salah masuk kelas tadi" masih belum luntur juga cengiran khas nya.
"Manis" gumam Biya. Tunggu dulu, sejak kapan Biya menilai laki laki? Biya menggelengkan kepala dan kembali fokus ke pembicaraan dua insan yang menjadi sorotan satu kelas.
"Walaupun murid baru taat aturan dong masih hari pertama sudah telat, salah masuk kelas, masuk gak salam malah nyengar nyengir terus, untung ganteng kamu" ucap Bu Pur yang entah serius bilang laki laki itu ganteng atau hanya candaan. Tapi matanya gak lepas dari si murid baru. Dasar guru genit.
"Yaa maap bu, kan ibu sudah liat saya di depan tadi ya saya langsung masuk aja hehe, maap ya buk" lagi lagi nyengir. Dan wajahnyanya Bu Pur merah dong, benar benar guru genit. Lelaki itu memberikan surat keterangan murid barunya ke Bu Pur.
"Hmm ya sudah duduk kamu di..... Itu tuh samping cewek pake jaket cream yang duduk sendiri sapa namanya depannya Rifki itu?"
"Hah aku?" kata Biya sambil menunjuk dirinya sendiri
"Iya kamu, astaga ditanya namanya malah bingung sudahlah kamu duduk sana awas telat lagi" ujar Bu Pur sambil menunjuk cowok itu
"Yah bu kok duduknya sama Syabiya sih, nerd gitu mending sama saya bu" ceplos Vina si anggota Cheerleaders yang cuma numpang tenar. Semua orang tau itu. Dengan gengnya yang hobi dandan gak tau tempat.
"Trus kamu duduk dimana? Loteng? Atau mau ibu pindahin kelasnya sekalian? Sudah ya gausa macem macem, hapus dulu tu bedak 5centi mu" kata Bu Pur yang mengundang tawa satu kelas.
"Bu kok dia ga kenalan dulu sih" celetuk manusia entah sapa lagi itu
"Gausa kayak anak SD ya, bisa kan kenalan sendiri? Sudah sudah sekarang ibu mau nentuin organisasi kelas"
"Bu saya gak duduk nih?" Murid baru itu buka suara.
"Kan sudah dari tadi ibu suruh duduk sama cewek jaket cream, haduh kamu ini"
"Oh iya hehe mari bu" lelaki itu sedikit menundukkan kepalanya dan berjalan ke tempat duduk Biya.
"Duhh masih pagi hari pertama ada aja kejadian. Habis ini apalagi" batin Biya
YOU ARE READING
NAZ
Teen FictionJangan lupa follow naz.wattpad di ig ya✨ (noun) the pride that comes from knowing that you are loved no matter what you do and whatever happens to you; bangga saat mengetahui kalau kamu dicintai tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan dan apapun y...
