"Kamu tu jelek"
"Liat tuh, pede banget dia dengan tampang seperti itu"
"Habis bangkit dari kubur ya?"
Seakan akan banyak wajah yang memandangku aneh dan juga tidak suka denganku, aku ingin menangis dengan semua ini.
"Kamu tuh pantesnya disiram pakek air bekas pel nih biar cantik, nih!."
Para gadis-gadis itu menertawakanku dan mereka akan menyiramku dengan air, aku pun bersiap dengan tumpahan air itu.
"Tidak, jangan aku mohon.... JAAANGAAN..."
Ternyata hanya mimpi, mimpi yang sangat buruk. Peluh membanjiri tubuhku, aku sangat takut, takut sekali dan tentu saja aku menangis dalam kegelapan seperti malam-malam sebelumnya, berharap pagi tidak akan pernah datang, aku sangat takut untuk pagi hari dan tentu saja pergi kesekolah aku sangat takut.
Ternyata tidak sesuai harapan, tentu saja pagi akan datang cepat ataupun lambat, dan tentu saja aku harus bersiap kesekolah, mungkin semua beranggapan sekolah itu sangat luarbiasa bertemu dengan teman-teman dan juga tentu saja mereka menyebutnya bertemu dengan banyak para cogan atau apalah itu.
Bagiku sekolah itu adalah neraka mungkin berlebihan tapi aku merasakan seperti itu dan lagi setiap pagi aku harus membuatkan sarapan untuk keluarga bibiku. Kalian tahu sejak paman ada tugas keluar negri selama 2 tahun,bibi ku sengaja memecat pembantu dirumahnya agar aku yang mengurus semua pekerjaan rumah. Sejak kecil aku berpindah pindah rumah dari rumah saudara satu kesaudara lainnya karena sejak aku masih kecil aku sudah ditinggal oleh kedua orang tuaku. Aku hanya memiliki sedikit ingatan tentang orang tuaku tapi itu sangat berharga, sebagian ingatanku hanyalah berpindah rumah dan sekolah dan juga banyak kenangan buruk lainnya.
"Bibi, Ani sarapan sudah siap" Mereka pun keluar dari kamar dan langsung menuju ruang makan untuk sarapan.
Dan tentu saja aku tidak ikut makan dengan mereka aku makan di dapur dengan berdiri itu lebih baik dari pada harus bergabung dengan mereka, mungkin kalian akan berfikir bahwa hidupku akan seperti Cinderella, mungkin iya tapi bedanya Cinderella adalah orang yang sangat cantik sedangkan aku, aku hanyalah remahan rengginan seperti itulah diriku.
"Lo, nantik kalok disekolah jangan sok kenal sama gue ya." Ucap Ani, aku menanggapinya dengan deheman.
"Ya, lebih baik kalian tidak saling kenal saat disekolah, kasiahan putriku akan tercemar buruk karena mengenalmu"Ucap bibiku.
Sakit, sungguh sakit. Aku hanya tidak memperdulikan mereka saja.
"Jo, ngomong-ngomong kamu belum tau dimana duit ansurasi kedua orang tuamu itu? Jangan-jangan selama ini kamu sembunyiin? Dan surat wasiat apakah mereka tidak meninggalkannya?"
Lagi, mereka membahas lagi.
"Aku berangkat" ucapku dan langsung meninggalkan mereka.
Aku membuka pintu dan hujan menyambutku, aku menghela nafas kasar melihat tempat payung ada 3 payung.
"semua payungnya terpakai kamu lari saja" teriak bibiku.
Tidak disuruhpun aku akan lari, aku mengenakan hoodieku dan akan berlari. Dan sampailah aku didepan gerbang sekolah yang sangat mewah dan disana terdapat tulisan DALTON SCHOOL yang sangat besar.
Kalian tahu bahwa 'Dalton school' adalah sekolah yang diincar semua murid di negara ini, mungkin ini terdengar berlebihan tapi memang benar. jika kamu ingin masuk di sekolah ini terdapat tiga option. Pertama kamu kaya dan pintar, kedua kamu kaya, dan yang ketiga kamu berprestasi atau cerdas. Dalam artian aku tidak masuk sekolah ini dengan option pertama maupun kedua melainkan ketiga. Dan kau tahu option ketiga hampir tidak mungkin karena kalian harus benar-benar cerdas untuk masuk sekolah ini.
YOU ARE READING
P A R T
Teen FictionDON'T COPY Terima kasih telah menjadi bagian yang terindah dalam hidupku. -Jovita Devana Aku ingin selalu melihatmu tersenyum dan menjadi bagian dari hidupku -Evano Arion Dalton
