Satu - Penolong

321 14 3
                                        

"Kesedihan terbesar adalah saat kamu sadar tidak ada yang bisa kamu lakukan kecuali menertawakan dirimu sendiri"


Dentuman musik mengalun indah pada sebuah club yang berada di pusat kota malam ini. Bau asap rokok dengan alkohol yang menjadi satu membuat siapa saja yang baru pertama kali masuk kesini akan menutup hidung dan mulut mereka.

Lima laki-laki yang sedang mencari keberadaan seorang gadis dibuat pusing akibat banyaknya manusia yang berada disini.

"Nah itu sih Jessy" tunjuk Dika

Meira yang merasa nama temannya terpanggil menoleh dan mendapati lima laki-laki yang tak asing mendekat ke arah mereka.

"Jes pawang lo dateng tuh" Jessy yang sudah diambang kesadaran hanya terkekeh kecil lalu meneguk kembali alkohol yang berada ditangannya.

Meskipun Meira termasuk gadis nakal namun Ia tetap menjaga kesadarannya agar tidak hangover. Baginya berada ditempat seperti ini memiliki kesenangannya sendiri.

Siapa yang tidak mengenal lima orang laki-laki ini? Anggota inti Gavriel yang dipercayai Lucas sebagai antek-anteknya.

Meira merasa tak nyaman saat salah satu dari antek-antek Lucas terus menatap kearahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tidak suka dilihat seperti itu!

"Kenapa lo liatin gue?"

Alih-alih menjawab Regan hanya tersenyum miring saat gadis itu bertanya padanya.

"Gan, cabut ayo" ajak Hito saat Jessy telah berhasil dibawa pergi oleh Lucas.

Regan melirik Meira yang masih setia duduk sambil memegang minumannya dia rasa tidak ada tanda-tanda gadis itu akan pergi.

Shella telah ikut pergi bersama Lucas dan Jessy. Meira menolak untuk ikut karena dirinya masih ingin berada disini.

"Duluan aja gue pulang sendiri" Regan memilih tinggal di club lebih lama lagi. Toh Ia juga membawa mobil. Ia masih penasaran dengan gadis yang disebut sebagai primadona sekolah ini.

"Kenapa ngak ikut Shella sama Jessy?" tanya Regan karena melihat Meira dengan berani berada sendiri di tempat seperti ini.

"Lo sendiri kenapa ngak ikut temen-temen lo?"

Ahh, ternyata perempuan ini pintar dalam membalikkan keadaan pikir Regan.

Meira memainkan ponselnya dan mengabaikan Regan yang berada di sebelahnya.

"Udah jam 12 dan lo masih ngak mau pulang?" Regan berdiri mengeluarkan lima lembar uang seratusan untuk membayar minuman Meira dan temannya tadi

"Eh gak usah gue masih punya uang buat bayar" Meira menggeser badan Regan dengan bahunya lalu membayar minumannya tadi.

Meira, dia gadis yang tidak banyak bergaul dengan laki-laki. Berbeda dengan Shella dan Jessy yang kerap menghabiskan waktu dengan anggota Gavriel.

"Butuh tumpangan?" tanya Regan, Meira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia sudah biasa pulang dengan ojek online seperti ini. Untuk apa cowok itu repot-repot mau mengantarnya.

"Tapi gue gak bisa liat perempuan pulang sendiri apalagi udah malem" Setelah mengatakan itu Regan menarik pergelangan tangan Meira dan membawa gadis itu masuk ke mobilnya.

"Gue udah biasa pulang sendiri Regan, gue gak mau ngerepotin"

"Ngerepotin bagian mananya? Kan gue yang nawarin" ucap Regan.

Ini kali pertama bagi Meira berada dalam satu mobil bersama laki-laki. Regan memutar lagu untuk mengisi kekosongan diantar mereka.

Mulut Regan tidak bisa menahan untuk tidak bernyanyi mengikuti lirik demi lirik.
Apalagi jika ada gitar, lengkap sudah hidup Regan.

Meira diam menikmati setiap nyanyian laki-laki itu. Tanpa sadar bibirnya juga mengeluarkan suara merdu yang selama ini disimpannya.

"Lo suka nyanyi?" Meira mengangguk sebagai jawaban. Hanya Regan yang tau bahwa suara Meira ternyata sangat merdu.

"Gue turun didepan situ aja" tunjuk Meira, sementara Regan? Ia tidak mengindahkan ucapan gadis tersebut. Untuk apa Meira turun di persimpangan jalan depan rumahnya.

"Ini rumah lo kan?"

Meira melihat keadaan rumahnya, sepi. Apa selingkuhan mamanya sudah pergi?

"Iyaa, makasih Regan" Meira turun dari mobil dan membuka pintu pagar rumahnya.

Ia tersenyum kecil mengingat kejadian saat dirinya dengan Regan bernyanyi bersama.

"Dari mana saja kamu?" pintu rumahnya terbuka dan menampilkan sosok yang selalu Ia hindari.

"O-om Danar? T-ta-tapi mobil Om udah gak ada" Meira berjalan mundur melihat selingkuhan mamanya berjalan mendekatinya.

"Mama kamu sedang pergi dan sekarang waktunya saya bisa bebas ngelakuin apapun ke kamu"

Meira lari membuka kembali pagar rumahnya namun tangan Om Danar sudah lebih dulu menariknya agar tidak keluar dari pagar.

"Lepasin!" Ia berusaha melepaskan tangan laki-laki bejat ini dari punggungnya. Tolong, siapapun tolong gue!

***

Regan berhenti pada sebuah minimarket yang tak jauh dari rumah Meira, Ia membeli satu kaleng kopi instan untuk menemaninya selama perjalanan.

Apa Meira sudah masuk ke dalam rumah? Pikiran itu tiba-tiba saja lewat di kepalanya. Bagaimana jika gadis itu pergi ke tempat lain?

Regan memutar mobilnya menuju rumah Meira untuk memastikan. Bagaimana bisa gadis itu berhasil membuatnya cemas seperti ini?

Pemandangan yang pertama kali Regan lihat saat berhenti dirumah Meira adalah gadis itu sedang diseret paksa masuk ke dalam rumahnya.

"Meira!" panggilnya

Regan langsung menendang kuat laki-laki yang tadi menyeret Meira. Tidak ada perlawanan dan itu membuat Regan semakin gencar melayangkan aksinya.

Jika biasanya ada teman-temannya yang berusaha menahannya maka saat ini Regan semakin brutal karena tidak ada yang menghentikannya

"Regan, stop!" Regan tidak menghiraukan panggilan Meira. Ia paling tidak suka jika ada laki-laki yang kasar pada perempuan.

Meira semakin panik karena Regan tidak mau berhenti memukul Om Danar, jika mamanya tau pasti Ia akan mendapat hukuman nantinya.

Tinju Regan berhenti diudara saat merasakan ada sebuah tangan kecil yang memeluknya dari belakang.

"Regan, bawa gue pergi dari sini"

HALO TEMAN-TEMAN!!
Jadi tuh ini cerita pertama aku, ini beneran imajinasi aku semua. Plis gais jangan dihujat 😂

Silakan komen dan vote nya kawan! Plis kasih gue masukan kalo memang cerita gue jelek wkwkwk.

Thanks gais hope you like it!

RegantaraStories to obsess over. Discover now