Yerimieseyy.
Happy reading!
Pertandingan Basket antara SMA Trisakti dan Nusantara diadakan hari ini di lapangan SMA Trisakti. Semua murid sangat antusias untuk mendukung club basket sekolah masing masing. Termasuk Melisa, saat ini ia sedang mengangkat tinggi tinggi banner bertuliskan 'semangat Zevan!!' dan terus meneriaki nama lelaki dengan nomor 11 itu.
Di lapangan sana, Zevanka melirik sekilas Melisa yang mengepalkan tangan di udara tanda memberi semangat.
"Gimana udah ada perubahan belum?" Tanya Cania disamping Melisa. Melisa menoleh sekilas lalu mengangguk.
"Lumayan lah" Cania menepuk pundak Melisa beberapa kali.
"Bagus, lo jadi gak perlu sedih melulu." Melisa hanya tersenyum menanggapi
Suara teriakan penonton menggema ketika salah satu pemain SMA Nusantara membuat Zevan terjatuh.
"Zevan!!!" Teriak Melisa segera berlari menuju lapangan.
"Woy lo apa apaan sih!" Ujar Erza mendorong bahu lelaki yang diketahui bernama Arsen tersebut.
"Eh lo yang apa apaan!!" Ujar Febrian membela Arsen.
"Maksud lo apaan buat Zevan jatoh" Zevan menarik lengan Erza untuk mundur.
"Gak usah di ladenin." Ujar Zevan
"Zevan, kamu gak papa?" Melisa dan Erza membantu Zevan berdiri. Zevan bergeming di tempat sampai akhirnya ia berjalan ke luar lapangan. Melisa yang melihat itu segera mengikuti.
"Curang dasar!!" Erza ikut pergi.
*
"Van kaki kamu gak papa beneran?" Ujar Melisa kasihan melihat Zevan berjalan sedikit pincang. Zevanka hanya menggeleng menanggapinya, ia duduk di kursi dekat loker seraya mengelap keringat di wajah.
"Van se-"
"Melisa," Potong Zevanka cepat. "Jangan ganggu gue dulu, please" Melisa hanya terdiam menatap Zevanka yang juga menatapnya dengan serius. Melisa segera menatap sekeliling lalu mengangguk,
"O okee" Ujarnya disertai kekehan. Ia berdiri lalu memberikan air mineral yang di terima oleh Zevanka
"Di minum ya," Melisa tersenyum tipis saat tak ada jawaban apapun dari Zevanka, ia perlahan berbalik, berjalan meninggalkan tempat itu sebelum suara Zevanka menghentikannya
"Mel, kalo gue boleh jujur, gue gak suka lo deket deket sama gue." Ujar Zevan membuang botol mineral yang sudah habis. Melisa bergeming di tempat. Matanya mulai memanas dan perlahan sebulir air mata menetes dari kelopak matanya.
Dan untuk kesekian kalinya, Zevanka sukses membuat air mata Melisa menetes.
Melisa kembali berjalan meninggalkan Zevanka tanpa menggubris kata kata lelaki itu. Sulit kah membuat Zevanka jatuh cinta padanya?, cara apalagi yang harus Melisa lakukan agar dapat mendapatkan hati Zevanka walau sedetik saja.
Dari kejauhan, seseorang tersenyum melihatnya.
*
Di malam yang sepi, Melisa menatap sebuah kunci ditangannya. Kunci yang ia temukan di kamar alm ibunya 3 tahun lalu.
"Kalo kamu mau buat ibu bangga, cukup buat Zevanka cinta sama kamu nak."
Melisa berdiri dari duduknya, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan tangan yang terus menepuk-nepuk kepala.
"Gimana caranya ma??" Ujar Melisa gregetan,Ia menutup kepalanya dengan bantal.
"Melisa terlanjur cinta sama Zevan, sementara Zevan jangankan untuk cinta, ngelirik Melisa aja gak pernah. Terlalu susah buat naklukin Zevan" Ujar Melisa
"Non Melisa, barusan Pak Rafa telpon katanya Non Melisa disuruh makan malam di rumahnya" Ujar Bi Asti di balik pintu.
"Iya bi, Melisa siap siap" Melisa segera berdiri dari kasur krem kesayangannya dan berlari mencari baju di lemari
Rafa adalah ayah Zevanka. Kedua orangtua Zevanka sudah sepakat dengan ibu Melisa untuk menjodohkan Zevanka dan Melisa. Namun ya ternyata hanya Melisa yang mempunyai rasa pada Zevanka, sementara Zevanka tidak sama sekali.
*
"Padahal bibi udah masakin semua makanan kesukaan non Melisa lhoo" Ujar Bi Asti ketika Melisa turun.
"Yah gimana dong?, nanti abis dari sana Melisa abisin semuanya deh, janji!!" Ujar Melisa merangkul bi Asti.
Setelah kepergian ibunya, Melisa sudah menganggap Bi Asti ibu kedua yang dikirim Tuhan untuknya. Hidup tanpa kedua orangtua tidak membuat Melisa patah semangat, ia masih mempunyai bi Asti yang sangat sayang padanya.
"Beneran yah non" Melisa mengangguk semangat lalu mengambil tangan bi Asti dan menciumnya.
"Melisa pamit dulu ya, bye bi!!" Melisa segera mengambil kunci mobil di meja dan pergi. Bi Asti hanya tersenyum melihat kelakuan Melisa. Melisa yang baru saja membuka pintu kaget ketika melihat Zevanka yang sudah berada di teras.
Kaos putih yang dipadukan jaket hitam, celana jeans yang sobek di bagian lutut, sepatu Venz dan rambut yang acak acakan cukup membuat Melisa melongo sesaat.
"Mau sampai kapan di situ?Gak usah bawa mobil, gue sengaja jemput" Melisa sontak tersadar dan mengangguk.
"Kamu gak bawa mobil?" Tanya melisa, Zevanka yang baru saja ingin memakai helm terhenti,
"Emang harus banget jemput lo pake mobil?" Tanya balik Zevanka.
"Bukan gitu maksud aku,"
"Terus?" Sela cepat Zevanka, Melisa tidak bisa berkata apa apa lagi.
"Kam-"
"Kalo lo nanya terus, kapan kita sampe nya" Lagi lagi Zevanka memotong perkataan Melisa yang sedikit membuat kesal.
*
"Eh eh eh pagi pagi gini udah senyam senyum gitu, kenapa nih?" Cania menyenggol lengan Melisa
"Kepo banget sih,"
"Dihh?" Ujar Cania memutar mata malas
Flashback on
Setelah makan malam, Melisa pamit untuk pulang. Om Rafa tidak membiarkan begitu saja, Ia menyuruh Zevanka untuk mengantarkannya pulang.
Saat memberikan helm, Zevanka menatap Melisa membuat gadis yang menjabat sebagai wakil ketua dance SMA Trisakti itu salah tingkah.
"Lo tuh ya," Zevanka membuka jaketnya lalu memberinya pada Melisa. "Pake ini, udara malem jahat. Gue gak mau disalah salahin kalo lo sakit"
Flashback off
"Hellow Melisa Fatma Baskara, lama lama gue kabur nih liat lo senyam senyum sendiri." Ujar Cania melambaikan tangannya depan wajah Melisa.
"Apaan sih Can" Ujar Melisa cemberut
"Eh liat di lapangan ada apaan tuh" Ujar teman sekelas Melisa membuat murid di kelas tersebut ikutan melihat ke lapangan.
"Ada apaan sih? Kepo banget gue" Ujar Cania lalu berjalan ke dekat jendela. Kebetulan kelas 12 IPA 2 berada di lantai dua.
"What?Anjir Mel!!!" Teriak Cania heboh membuat Melisa menutup telinganya.
"Kenapa sih Can?" Tanya Melisa, Cania tidak menanggapi, ia masih sibuk menatap lapangan.
*
Sampai bertemu di part selanjutnya!!
ESTÁS LEYENDO
Destiny hurts
Novela Juvenil[Follow sebelum membaca] cast:Seulgi Red Velvet "Mel, kalo gue boleh jujur, gue gak suka lo deket deket sama gue." Ujar Zevan membuang botol mineral yang sudah habis Tapi..... "Bunganya cantik ya" Melisa meraba bunga matahari di depannya "Ada yang...
