1

65 45 11
                                        

Tanggal 18 April kemarin seharusnya menjadi hari yang bersejarah untuk Aku. Ya aku yang sekarang ini  duduk dibangku kelas 12 harus menelan pil pahit akibat wabah covid-19 yang menimpa seluruh dunia. Semua lapisan masyarakat dibuat gempar oleh wabah satu ini, semua kegiatan perekonomian seluruh dunia hampir lumpuh total. Para pekerja yang bertahan semua WFH juga tak sedikit  yang kena PHK.

 Wabah ini juga turut mempengaruhi kegiatan pendidikan khususnya di negeri tercinta, semua siswa diberi tugas secara online, bahkan Aku juga seluruh siswa kelas 12 se Indonesia harus menerima bahwa ujian kami dihapuskan. Kami  harus lulus tanpa ujian tidak seperti tahun tahun sebelumnya. Dan itu adalah faktor penyebab utama angkatan tahun 2020 disebut sebagai ANGKATAN CORONA yang lulus sekolah lewat jalur Virus.

 Dengan seenak hati mereka memberi kami julukan yang tidak manusiawi seperti itu. Oke, mungkin mereka cuma menganggap itu semua hanya sekedar guyonan lucu-lucuan! Tapi bagi kami yang mengalami, sumpah demi apapun itu tidak lucu sama sekali. Ujian yang kami persiapkan dari jauh-jauh hari harus ditiadakan, rencana kelulusan yang telah kami nanti-nanti harus dibatalkan. Semua rencana kehidupan masa depanpun harus dirombak ulang habis-habisan.

 Rencananya setelah kelulusan diumumkan aku akan segera berangkat bekerja keluar kota, tapi karena wabah ini semua planning yang disiapkan harus tertunda. Mungkin bagi sebagian anak yang baru lulus diam dirumah merupakan hal yang asik-asik saja. Tapi bagi aku juga sebagian anak dari keluarga sederhana diluaran sana kami sangat frustasi. Setiap hari harus mendengar keluhan dari ibu yang bingung mengatur keuangan yang kian menipis, bapak yang tidak bekerja karena tidak ada proyekan, dan posisi kami yang sebelum lulus sudah jadi pengangguran pula dirumah.

 Yah mungkin ini ujian bagi seluruh umat manusia yang belum ada apa apanya, tujuannya mungkin supaya kita lebih dekat lagi dengan Allah SWT. Banya korban yang berjatuhan dari seluruh penjuru dunia, dan itu mestinya cukup sebagai tamparan bagi kita sebagai manusia. Baik si kaya atau si miskin semua sama.

Hari ini tepatnya tanggal 31 Mei 2020 tepat tiga bulan lamanya aku berdiam diri dirumah dan belum bisa menghasilkan uang sepeserpun. Terlepas dari hari raya kemarin karena dikeluarga kami masih sering memberikan uang THR untuk anak anak yang masih belum bekerja.

 Uang yang didapat kemarinpun akan aku pakai untuk membuat persyaratan lamaran kerja, mulai dari skck, kartu kuning dan sebagainya. Dari kecil aku juga kakak ku sudah belajar hidup mandiri berskala kecil. Setiap keperluan kami diluar dari biaya sekolah pasti kami akan tanggung sendiri. Bagi kami sudah bisa bersekolah saja sudah hal yang patut disyukuri, terlebihnya aku. Aku bisa bersekolah sampai jenjang SMK, sedangkan kakak dia hanya bisa bersekolah sampai bangku SMP. Sangat disayangkan, padahal dia punya otak yang lebih pintar dibanding denganku. Makanya dari itu, jujur saja rasanya setelah lulus aku menanggung beban yang amat berat dipundakku.

 Saat ini keinginanku hanya satu, ingin cepat mendapat kerja, lalu bisa sedikit membantu perekonomian keluarga. Supaya bapak tidak usah kerja jadi buruh bangunan lagi, ibu juga tidak harus terlalu pusing memikirkan masalah uang untuk dapur lagi.

 Aku sekarang berusia 18 tahun dan selama itu pula aku belum tau bagaimana rasanya mempunyai seorang pacar. Kalaupun ada laki-laki yang dekat pasti hanya sebatas dekat lalu menghilang. Kadang laki-laki itu yang mudur, atau aku sendiri yang memilih mundur. Selalu ada keraguan saat aku mulai ingin menjalani hubungan dengan seseorang.

 Dulu karena kakakku termasuk yang telat menikah dan kami juga sama sama perempuan, jadi ibu selalu bilang bahwa aku belum boleh punya pacar dan sampai sekarang entah kenapa jadi malas untuk pacaran. Eh tapi bukan berarti aku tidak tertarik dengan lawan jenis. Sudah pasti aku ini gadis tulen yang tertarik dengan lawan jenis, ya hanya saja terlalu malas untuk terlibat dalam siklus yang bernama pacaran.

 Sekarang yang menjadi prioritas dalam hidupku hanyalah fokus untuk masa depan yang lebih mapan. Urusan jodoh biarlah mengalir seperti air, bila saatnya telah tiba nanti pasti akan bertemu tanpa ada penghalang juga keraguan. Biarlah semua berjalan dengan semestinya, aku hanya perlu berusaha sebisa mungkin untuk hasil aku serahkan kembali pada sang Ilahi.

 Waktu kian berlalu tak kusangka akhirnya kesempatan yang ku damba tiba,salah satu badan penyalur tenaga kerja  memberitahuku tentang perekrutan karyawan baru disalahsatu perusahaan di ibukota. Walaupun hanya karyawan biasa tapi aku sangat bersyukur, dengan semangat aku lari terbirit-birit menghampiri ibu.

“ bu, ada lowongan pekerjaan di Jakarta!”

“oh yah? Terus kamu mau berangkat nak?”

“tentu aja bu, ini kesempatan yang aku tunggu-tunggu dari 3 bulan lalu.”

“tapikan sekarang masih musim corona, ibu hawatir nak.”

“ibu jangan hawatir insha alloh aku bakal baik-baik aja.”

“kapan kamu berangkat kalo gitu? Kamu udah pasti lulus interview emangnya?”

“emh belum tentu lulus juga sih bu, tapi kata penyalur diperusahaan ini tuh emang lagi ngebutuhin karyawan baru jadi kemungkinan buat lolosnya besar bu.”

“terus kamu nanti mau tinggal dimana?”

“aku ada temen yang kerja dijakarta bu, sementara sebelum aku diterima kerja mungkin aku bakal ikut ditempat dia dulu.”

“yaudah kalo itu emang udah jadi keputusan kamu, ibu gak bisa ngelarang. Ibu bakal bicarain ini sama bapak kamu nak.”

“masalah buat biaya mungkin aku bakal minjem uang dari kakak dulu bu, nanti kalo emang aku udah kerja uang kakak pasti aku ganti kok.”

“yaudah iya, kakak mu juga memang sudah ibu kasih tau sebelumnya.”

 Bagai angin segar yang behembus mendengar perkataan yang keluar dari mulut ibu. Dia adalah sosok malaikat tak bersayap yang teramat tangguh. Dia adalah figur yang tak penah memanjakan anak-anaknya bukan karena tidak ingin, hanya saja mungkin karena kondisi yang tak memungkinkan.

 Setelah mengobrol dengan bapak, ibu menghampiriku ke kamar ia bilang bahwa bapak memberiku izin untuk pegi merantau ke ibu kota. Bapak memang orag yang pendiam tapi penuh akan kasih sayang terhadap keluarganya. Lelaki hebat pertama yang aku cintai, dan ya bapak memang bukanlah ayah yang punya harta berlimpah. Ia hanya seorang buruh bangunan, banyak orang yang memandang keluarga kami sebelah mata. Tapi selama 18 tahun aku hidup didunia aku tak pernah malu lahir dari keluarga yang sederhana.

 Aku ingin kedua orangtuaku tau bahwa aku sangat bersyukur terlahir menjadi anak mereka. Sungguh, kasih sayang mereka sangat luar biasa dan itu semua yang menjadi cambuk aku untuk menggapai kesuksesan.

Hai hai readers ini cerita perdana aku mhehe..
Gimana? Garing ya:)
Mohon kritik dan saran ya❤
Jangan lupa vote and commentnya ya readers luvyuu♡

BeginStories to obsess over. Discover now